<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Eunike, Author at Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<atom:link href="https://eunikefamily.org/author/eunike/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eunikefamily.org/author/eunike/</link>
	<description>Eunike Family</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jan 2019 16:44:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2023/10/cropped-LOGO-EUNIKE-2023-1-32x32.png</url>
	<title>Yayasan Eunike, Author at Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<link>https://eunikefamily.org/author/eunike/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</title>
		<link>https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2019 16:43:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak marah]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kristen]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi ibu]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi orang tua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.eunikefamily.org/?p=2413</guid>

					<description><![CDATA[<p>Being a mom is more than riding a roller coaster. Yes, ini yang saya rasakan sejak punya anak. Baru satu lho, entah Tuhan percayakan anak lebih dari satu atau cukup satu saja, hihihi&#8230; Kalo naik roller coaster, cuman tegang, takut, seru, dan yang paling penting, itu cuma sementara. Kurang lebih 5 menit selesai. Totally different &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/">BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Being a mom is more than riding a roller
coaster</em>. Yes, ini yang saya
rasakan sejak punya anak. Baru satu lho, entah Tuhan percayakan anak lebih dari satu atau cukup
satu saja, hihihi&#8230;</p>



<p>Kalo naik <em>roller coaster</em>,
cuman tegang, takut, seru, dan yang paling penting, itu cuma sementara. Kurang
lebih 5 menit selesai<em>. Totally different</em>
dengan ngurus anak. Waktunya jauh lebih panjang, <em>bok</em>! Dan tanjakan maupun turunan emosinya seringkali nggak bisa
diprediksi.</p>



<p>Contohnya&#8230;</p>



<p>Dua minggu lalu anak saya, Pippo, sakit. Dengan penuh iman dia
bilang &#8220;Mami, ga usah ke dokter. Kita berdoa aja. <em>Jesus is my doctor</em>. Tuhan Yesus sembuhin aku.&#8221; dan terjadilah
sesuai iman dia. Walaupun selama proses dia sakit sampe sembuh, saya sendiri
galau melihat kondisi Pippo <em>drop</em>
banget. Melalui peristiwa ini, Pippo mengajarkan saya tentang iman. Saya jadi teringat
lagi kisah perempuan yang sakit pendarahan dan sembuh setelah menyentuh ujung
jubah Tuhan Yesus. &#8220;Asal aku menjamah jubahnya saja, aku pasti
sembuh&#8221; begitu kira-kira batin si perempuan itu&#8230; Ah, iman saya belum ada
seujung kuku perempuan tersebut&#8230;</p>



<p>Minggu lalu, Pippo marah-marah (saya lupa gara-gara apa), dan
dia lempar bantal dari atas ranjang ke lantai, dia tendang mainannya, dia pukul
pintu kamar, dan dia bilang &#8220;Aku mau marah-marah aja. Aku mau hati aku
hitam.&#8221; Kondisi begini, kalo saya hadapi dengan emosi, yang ada jadi
tawuran lah kita, hahaha&#8230; Tuhan ajarin saya untuk sabar, tenang, tunggu
sampai kondisi lebih kondusif sebelum bicara hati ke hati dengan Pippo.</p>



<p>Tiga hari yang lalu, Pippo tiba-tiba memeluk saya dan bilang
&#8220;<em>Mommy, I&#8217;m so happy because I love
you</em>&#8220;. Aaaw<em>&#8230; So sweet</em>
banget kan&#8230; Anak 3 tahun bisa ngomong kayak gitu&#8230; Hati ini meleleh rasanya.
Saya belajar bahwa menyatakan kasih itu nggak perlu susah-susah, yang penting
tulus dan nggak dibuat-buat.</p>



<p>Tapiiiiii&#8230; Kemarin, dia marah-marah sambil nangis dan
mengacungkan telunjuknya ke saya, dia bilang &#8220;Mami harus taat sama aku!
Mami harus bantuin aku!&#8221; Kehebohan ini terjadi cuma gara-gara dia ga mau
siram bekas pipisnya di kloset, dan dia maunya saya yang siram. Saya belajar
lagi, bahwa anak kecil itu konyol. Hal-hal sepele, ga penting, jadi masalah
besar. Sayapun jadi evaluasi diri, apakah saya masih suka &#8220;konyol&#8221;
seperti anak kecil? Membesar-besarkan masalah sepele? Waduh, saya harus segera
bertobat dan berubah.</p>



<p><em>Well</em>, ga mudah menjadi seorang ibu&#8230;
Banyak<em> up</em> and <em>down</em> yang dihadapi (kadang rasanya lebih banyak <em>down</em> :P)</p>



<p>Tapi menjadi ibu juga suatu proses, proses hati dan diri ini
dibentuk oleh Tuhan untuk semakin diperluas kapasitasnya&#8230;</p>



<p>Sebagai ibu, saya mewakili Allah untuk menyatakan kasih dan
penerimaan terhadap Pippo. Allah, yang adalah Bapa Sorgawi saya, tak pernah
berhenti untuk mengasihi saya. Ketika saya gagal, jatuh dalam dosa, melakukan
kesalahan, memberontak, Ia tetap mengasihi saya. Ia sudah mengampuni dan
menerima saya sepenuhnya. Ia tidak menyerah terhadap saya. Ia tetap membimbing
dan mengarahkan saya untuk kembali ke jalan yang sesuai dengan kebenaran
Firman-Nya.</p>



<p>Demikian juga Ia mau saya lakukan kepada Pippo&#8230; Sekalipun
Pippo tidak taat, membangkang, gagal, jatuh dalam dosa, melakukan kesalahan,
dan lainnya. Saya tetap mengasihi Pippo, karena Allah sudah lebih dulu
mengasihi saya.</p>



<p>Menjadi seorang ibu (maupun ayah) di dalam Tuhan tidaklah mudah&#8230; Tapi, percayalah, Allah senantiasa memberikan hikmat-Nya dan memampukan&#8230;</p>



<p></p>



<p>Oleh: Yaticania</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/">BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan atau Kelemahan?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/kekuatan-atau-kelemahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2015 15:10:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[The Inspired Leader]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan atau kelemahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kekuatan atau Kelemahan? Setiap orang mempunyai kekuatan-kekuatan di beberapa aspek dan juga mempunyai banyak kelemahan di aspek-aspek tertentu.  Dalam bukunya “Now Discover Your Strengths”, Buckingham dan Donald Clifton menekankan betapa seringnya orang tidak berusaha untuk meningkatkan bagian-bagian dirinya yang lemah tetapi sebaliknya mereka lebih banyak memakai energy untuk memainkan aspek-aspek kekuatannya saja.  Dalam survey kepada &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/kekuatan-atau-kelemahan/">Kekuatan atau Kelemahan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kekuatan atau Kelemahan?</p>
<p>Setiap orang mempunyai kekuatan-kekuatan di beberapa aspek dan juga mempunyai banyak kelemahan di aspek-aspek tertentu.  Dalam bukunya “Now Discover Your Strengths”, Buckingham dan Donald Clifton menekankan betapa seringnya orang tidak berusaha untuk meningkatkan bagian-bagian dirinya yang lemah tetapi sebaliknya mereka lebih banyak memakai energy untuk memainkan aspek-aspek kekuatannya saja.  Dalam survey kepada 1,7 juta karyawan, hanya 20% dari mereka  yang mengatakan bahwa mereka memakai apa yang menjadi kekuatannya (his specialty) dalam aktivitas dan pekerjaan mereka sehari-hari.  Ada pula pengamatan bahwa semakin tinggi posisi seseorang dalam suatu organisasi, semakin sedikit mereka bekerja dengan memakai area-area yang menjadi kekuatan mereka.  Tentunya  produktivitas akan meningkat apabila mereka bisa fokus melakukan apa yang menjadi kekuatan mereka karena mereka bisa lakukan hal tersebut dengan optimal.</p>
<p>Di satu sisi, memang ada aspek negatif juga apabila hanya “the strength approach”yang diterapkan, karena orang akan cenderung seenak-enaknya memilih melakukan yang mereka suka tanpa mau usaha sungguh-sungguh untuk hal-hal yang dia tidak suka.  Orang seperti itu biasanya tidak mau peduli dan tidak mau memperhatikan apakah kebutuhan daripada organisasinya ataupun kebutuhan dari orang banyak di sekitarnya. Seorang pemimpin yang dengan kecepatan tinggi memacu hal-hal dimana dia kuat, akan cenderung mengabaikan sisi kelemahannya.</p>
<p>Saya kasih contoh bahwa banyak pemimpin-pemimpin usaha yang sejak mereka belum jaya sudah memakai gaya otoriter dan omongan-omongan yang kasar untuk memotivasi bawahannya.  Sewaktu mereka jaya, mereka masih sama menjadi pemimpin dengan omongan yang kasar dan tidak berbudaya, disebabkan mereka tidak mau berubah karena tokh sudah terbukti berhasil dengan kondisi saat ini. Tetapi, tanpa mereka sadari pemimpin yang “one-sided” ini sering ditinggal orang terbaiknya di usaha atau pekerjaan mereka.  Bahkan, anak dan istrinya pun terkadang meninggalkan mereka sendirian karena mereka tidak tahan akan kesombongan, ke-otoriter-annya, dan juga ucapan ucapannya yang kasar dan menusuk hati.</p>
<p>Saya mau mengajak para pria Kristen sebagai pemimpin keluarga dan pemimpin masyarakat untuk bisa datang pada Kristus untuk meminta pertolonganNya dalam mengatasi kelemahan-kelemahannya?</p>
<p>Tentunya, para pria ini bisa melakukan seperti yang Walt Disney lakukan untuk mengatasi kelemahannya, yaitu dengan meminta bantuan dan meng-hire orang lain yang bisa melengkapinya Disney meminta Roy saudaranya  untuk meng-handle logistics.</p>
<p>Akan tetapi, saya mau ingatkan bahwa kita punya Tuhan yang sangat mengenal kita. Dia melihat seluruh potensial dan talenta yang kita punya, baik yang kita tahu, maupun yang kita belum tahu.  Dia pasti mau untuk menyatakan satu demi satu kelemahan dalam setiap pengalaman hidup kita baik melalui tempat kita bekerja dan juga di dalam relasi keluarga kita.   Tuhan Allah mau membentuk kita dan melengkapinya dengan caraNya yang special.  Musa sewaktu menolak panggilan Tuhan untuk melaksanakan tugas Ilahi, Tuhan pun melengkapi nya dengan Harun untuk menjawab keragu-raguannya untuk bisa menjadi “speaker of God”.  Akan tetapi, Musa tetap diproses sepanjang kepemimpinannya, dia dibentuk sampai dengan mencapai garis akhir hidupnya, dimana saat itu dia sudah lakukan begitu banyak hal bagi bangsa Israel.  Tuhanpun tetap tidak mengabaikan kelemahan Musa dalam mendelegasi atapun dalam hal “anger management” yang sangat lemah dalam dirinya (Keluaran 18, Bilangan 20:1-13).</p>
<p>Demikian pula, Yesus tahu tentang Petrus yang mempunyai kelemahan “over-confidence” dan suka membesarkan diri. Yesus tidak diam saja sewaktu Petrus menunjukkan kelemahannya.  Dia bahkan mengingatkan bahwa Petrus akan menyangkalNya tiga kali saat dia menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan.  Dan sesudah kegagalannya, Yesus mau datang dan menghampiri Petrus secara pribadi untuk punya sesi khusus untuk mengungkapkan kelemahan Petrus.  Dia bertanya sampai tiga kali juga akan kesanggupan Yesus mengasihiNya dan menggembalakan domba-dombaNya. Jadi Tuhan Yesus tidaklah mengabaikan kelemahan Petrus dan juga tidak mengijinkan kelemahan-kelemahan tersebut terus menetap dalam diri Petrus.</p>
<p>Dalam diri seorang pemimpin dan pengusaha, saya tidaklah punya keragu-raguan sedikitpun bahwa anda pasti mempunyai kekuatan tertentu, sehingga memimpin anda sampai dengan saat ini.  Tetapi, maukah kita menyadari bahwa kita juga punya kelemahan-kelemahan yang masih terus kita pertahankan saat ini? Apakah kita cenderung untuk menghindari pembicaraan ataupun segala usaha untuk memperbaikinya?  Apakah kita terlalu sombong untuk mengakui adanya kelemahan-kelemahan tersebut? Apakah kita selalu “excuse” dan cari alasan untuk menyangkal bahwa kita punya  kelemahan tertentu?</p>
<p>Tuhan menempatkan pasangan anda disisi anda, dan  juga anak-anak anda terkadang untuk menyatakan sisi-sisi kelemahan anda.  Saat di usaha dan tempat kerja, anda dengan baik bisa menutupinya. Tapi di rumah, justru sisi-sisi kelemahan itu dinyatakan dengan terang benderang.  Itulah masa kesempatan untuk menikmati karya Tuhan untuk menyempurnakan hidup  dan kepemimpinan anda baik melalui relasi dengan pasangan maupun anak-anak saudara.  “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya”, kata Amsal.  Mengapakah tidak mulai hari ini untuk membuka hati dan meminta pada Tuhan untuk memberikan anugerahnya sehingga kita bisa belajar dengan rendah hati mengatasi satu demi satu kelemahan kita?</p>
<p><em>Disadur dari “The Inspired Leader, Section 2 – Your Character, forged in the Marketplace” dan ditulis kembali oleh CK</em></p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/kekuatan-atau-kelemahan/">Kekuatan atau Kelemahan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>A growing walk with Christ</title>
		<link>https://eunikefamily.org/a-growing-walk-with-christ/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2015 18:46:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[The Inspired Leader]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan bersama Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[live to the fullest in Christ]]></category>
		<category><![CDATA[walk with Christ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1464</guid>

					<description><![CDATA[<p>Renungan for a leader: Daud adalah seorang leader yang luar biasa diberkati, dari &#8220;nothing (seorang Gembala domba)&#8221; menjadi something (seorang raja, Pemimpin bangsa). Tapi doanya di Mazmur 39:4-7 (4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku: (5) &#8220;Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/a-growing-walk-with-christ/">A growing walk with Christ</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Renungan for a leader: Daud adalah seorang leader yang luar biasa diberkati, dari &#8220;nothing (seorang Gembala domba)&#8221; menjadi something (seorang raja, Pemimpin bangsa). Tapi doanya di Mazmur 39:4-7</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>(4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:</em><br />
<em> (5) &#8220;Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!</em><br />
<em> (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela</em><br />
<em> (7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.</em></p>
<p>mengatakan &#8216;Tuhan, betapa rapuh dan tidak berdayanya saya, seperti bayangan yang cepat berlalu dan sibuk-sibuk tanpa arti yang jelas dan sia sia&#8217;.</p>
<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/05/The-Walk-to-the-cross-850x600.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" size-full wp-image-1473 aligncenter" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/05/The-Walk-to-the-cross-850x600.jpg" alt="The-Walk-to-the-cross-850x600" width="850" height="600" /></a></p>
<p>Daud tahu persis bahwa &#8220;all good things come to an end.&#8221; Masa hidup manusia yang sangat terbatas&#8230; Daud minta bijaksana how his life can produce its maximum impact and how he could experience the most joy.</p>
<p>The only way to know wisdom tersebut adalah dengan mencarinya dalam relasi yang dekat dengan Tuhan. So pesan minggu ini adalah: #develop a close, vibrant growing walk with Christ. Dan minta Dia menyatakan step by step TujuanNya yang mulia untuk hidup, karir, dan usahamu. Hidupilah dengan perjuangan untuk sesuai dengan design dan rencanaNya.</p>
<p>#HAVE A BLESSED WEEK, CK (disadur dari section 1, The Inspired leader, Richard Blackaby)</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/a-growing-walk-with-christ/">A growing walk with Christ</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>God Meant It for Good</title>
		<link>https://eunikefamily.org/god-meant-it-for-good/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2015 02:28:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[The Inspired Leader]]></category>
		<category><![CDATA[hidupmu dari perspektif Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan hidupku]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan hidupmu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1436</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kejadian 50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Dari perspektif manusia, Yusuf mempunyai hidup yang tidak ada prospek, dikhianati, dibenci oleh saudaranya sendiri, yang mengalami penderitaan demi penderitaan mulai dari masuk ke &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/god-meant-it-for-good/">God Meant It for Good</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian 50:20<br />
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.</p>
<p>Dari perspektif manusia, Yusuf mempunyai hidup yang tidak ada prospek, dikhianati, dibenci oleh saudaranya sendiri, yang mengalami penderitaan demi penderitaan mulai dari masuk ke dalam sumur dalam, human trafficking &#8211; dijual sebagai budak, dimasukkan penjara karena tuduhan pelecehan sexual oleh majikan perempuannya,  lalu diabaikan oleh teman di penjara.</p>
<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/05/clay-making.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-1441" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/05/clay-making.jpg" alt="clay making" width="870" height="719" /></a></p>
<p>Tuhan ternyata dapat memakai our past experiences menjadi waktu pelatihan untuk Yusuf melaksanakan tugas besar dari Tuhan, untuk menjadi CEO yang mengontrol  ekonomi bangsa Mesir saat alami kesusahan dalam 7 tahun.</p>
<p>God meant it for good!<br />
Bagaimana Tuhan mempersiapkan hidupmu untuk melaksanakan great assignment now or in future?<br />
Could you view your life from God&#8217;s perspective?</p>
<p>Ck (the Inspired Leader, Blackaby)</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/god-meant-it-for-good/">God Meant It for Good</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</title>
		<link>https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2015 00:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian diri anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=23</guid>

					<description><![CDATA[<p>Vita adalah anak yang cerdas dan cantik. Sayangnya, pada usianya yang keenam ini, ia mempunyai sifat yang kurang menyenangkan. Kalau sudah punya keinginan tertentu, Vita selalu memaksa agar kemauannya segera terpenuhi. Vita, misalnya, tidak dapat menahan diri untuk segera memperoleh boneka cantik yang dilihatnya di rumah saudaranya. Selama ia tidak dapat memperoleh boneka itu, selama &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/">Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/selfcontrol2.gif"><img decoding="async" class="alignnone wp-image-1186 size-large" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/selfcontrol2-1024x680.gif" alt="self control" width="700" height="465" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Vita adalah anak yang cerdas dan cantik. Sayangnya, pada usianya yang keenam ini, ia mempunyai sifat yang kurang menyenangkan. Kalau sudah punya keinginan tertentu, Vita selalu memaksa agar kemauannya segera terpenuhi. Vita, misalnya, tidak dapat menahan diri untuk segera memperoleh boneka cantik yang dilihatnya di rumah saudaranya. Selama ia tidak dapat memperoleh boneka itu, selama itu ia mengamuk, menjerit, memaki, dan merusak barang di sekitarnya.<span id="more-23"></span></p>
<p style="color: #000000;">Sifat tidak dapat menahan diri ini ternyata dikembangkan Vita sejak awal tahun-tahun kehidupannya. Ketika kecil, Vita sering sakit. Karena itu, orangtua cenderung memenuhi keinginannya dengan maksud agar Vita cepat pulih dari sakitnya itu. Beberapa saat kemudian, Vita mulai memahami bahwa orang di sekitarnya akan ketakutan bila ia mengamuk. Pada usia dua tahun, Vita sering menjerit sampai seluruh wajah tampak membiru, atau bertingkah seolah ingin muntah, bila ada yang kurang berkenan di hatinya. Orangtua biasanya akan tergopoh-gopoh melayani dan memenuhi keinginannya.</p>
<p style="color: #000000;">Apakah sebenarnya yang Vita alami? Bagaimanakah seharusnya orangtua menghadapinya? Pertanyaan penting ini perlu kita bahas agar kita memiliki kesempatan mengoreksi anak-anak kita sebelum terlambat.</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Kemampuan Mengendalikan Diri</strong></p>
<p style="color: #000000;">Masalah Vita merupakan persoalan pengendalian diri. Vita tidak terlatih untuk menunda keinginan dan bertahan terhadap perasaan frustrasi. Padahal sebetulnya penundaan keinginan dan kemampuan menahan diri atas godaan merupakan salah satu karakteristik kematangan kepribadian. Selain itu, kemampuan pengendalian diri juga berakibat pada pertumbuhan kepercayaan diri. Bila Vita tidak mampu mengendalikan diri, relasinya dengan teman dan guru bisa mendatangkan masalah. Ketidakmampuan menunda keinginan dan memohon pertolongan dengan wajar dan baik akan membuat Vita dijauhi lingkungan pergaulannya. Pada titik ini, besar kemungkinan Vita merasa terkucil, lalu merasa dirinya buruk dan dan tidak pantas berada di antara teman-temannya.</p>
<p style="color: #000000;">Alkitab memandang penguasaan diri sebagai sifat pribadi yang berharga. Amsal Salomo 16:32 menyatakan, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” Dengan demikian, kita perlu memperhatikan bagaimana penguasaan diri kita saat berelasi dan mendidik anak kita.</p>
<p style="color: #000000;">Bagaimanakah sebenarnya pengendalian diri dapat diperkenalkan kepada anak? Anak yang masih sangat muda tentu tidak langsung dapat mengendalikan dirinya. Ia perlu belajar tahap demi tahap, pertama-tama dengan bantuan orangtuanya, yakni melalui perlakuan orangtua tatkala ia lepas kontrol, maupun pada saat ia sedang berusaha mengendalikan dirinya.</p>
<p style="color: #000000;">Salah satu hal yang perlu orangtua perhatikan adalah bahwa kita perlu membedakan antara perilaku mengendalikan diri dengan perilaku menekan dan menyembunyikan perasaan. Mengendalikan diri dapat diibaratkan sebagai seorang penakluk kuda liar yang berhasil membuat kudanya menuruti keinginan sang penakluk. Emosi dan perilaku yang belum dikuasai ibarat kuda liar. Ketika emosi berhasil dilatih untuk dikuasai, emosi tersebut masih memiliki kekuatan besar, namun kekuatan itu sekarang dapat diarahkan dan disalurkan secara lebih tepat. Sebaliknya, menekan dan menyembunyikan perasaan hanya akan membuat emosi kita meledak tak terkendali ketika kita tidak lagi mampu menahannya lagi. Jadi, seharusnyalah emosi mempunyai tempat ekspresi yang nyaman, sehingga dapat dikuasai lebih mudah.</p>
<p style="color: #000000;">Hal lain yang perlu orangtua perhatikan adalah bahwa anak telah dapat memanipulasi orangtuanya dan belajar memaksakan kehendaknya di usia yang sangat muda. Pada saat itu pula kita perlu membantu mereka mengendalikan diri. Terlambatnya orangtua mengendalikan anaknya sejak awal akan berakibat anak mengalami kesulitan lebih besar mengontrol diri nantinya.</p>
<p style="color: #000000;">Karena kita perlu mengendalikan anak sejak mereka masih sangat muda, kita juga perlu membedakan antara tingkah laku anak sebagai akibat kurang terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikologis, dengan tingkah laku anak yang sengaja menentang atau memaksakan kehendak. Anak yang lapar, mengantuk, atau kekurangan perhatian akan bertingkah seolah lepas kendali. Adalah kewajiban orangtua untuk memuaskan kebutuhan fisik dan psikologis anak. Bila orangtua memaksa anak untuk tunduk dan menguasai tingkah lakunya pada saat-saat demikian, anak kemungkinan akan terluka batinnya.</p>
<p style="color: #000000;">Sebaliknya, kesengajaan anak untuk memanipulasi orangtua untuk memenuhi keinginan kekanak-kanakannya perlu memperoleh tanggapan yang memadai dari orangtua. Ada berbagai cara yang orangtua dapat pakai untuk menanggapi mereka. Tepat tidaknya cara orangtua mengendalikan anak dan mengembangkan kemampuan pengendalian diri mereka bergantung pada kondisi anak, tingkat kematangan usia anak, dan juga contoh-teladan orangtua sendiri.</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Tahapan Usia Perkembangan</strong></p>
<p style="color: #000000;">Sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak, kemampuan anak belajar mengendalikan dirinya juga semakin besar dari waktu ke waktu. Namun kemampuan ini hanya berkembang baik bila orangtua bersedia menyediakan waktu mendidik anaknya mengendalikan diri. Berikut beberapa ide yang orangtua dapat terapkan untuk membantu anak mengendalikan diri sesuai dengan usia perkembangannya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Sejak lahir hingga usia 9 bulan:</span></p>
<p style="color: #000000;">Bayi yang baru lahir belum mengenali dirinya yang terpisah dan berbeda dengan lingkungannya. Apa yang ia lakukan lebih banyak berupa refleks naluriah. Kesadaran akan dirinya mulai muncul ketika bayi mulai menginjak usia 3 bulan. Ia pun semakin pandai menggunakan tangisnya agar orang lain membantunya merasa nyaman. Yang bisa orangtua lakukan pada saat-saat seperti ini adalah menenangkannya dengan kata-kata lembut, serta menjadikan jadwal minum susu dan buang air besar dan kecil sebagai suatu rutinitas. Sangat penting bagi orangtua untuk mengendalikan emosinya sendiri tatkala tugas mengasuh anak menjadi beban yang melelahkan. Stres dan kegelisahan orangtua mempengaruhi anak pada usia ini dan membuat mereka gelisah.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 10 bulan hingga 2 tahun:</span></p>
<p style="color: #000000;">Pada usia ini, rentang memori anak masih terbatas. Artinya, anak mudah lupa dan mudah teralih perhatiannya. Kelemahan ini dapat kita manfaatkan sebagai bahan latihan mengendalikan perilaku anak. Bila anak menangis keras, kita memiliki pilihan untuk tidak menanggapi tangisan itu, dan segera memberi pujian dan penghargaan ketika anak tidak melanjutkan rengekannya. Cara lain adalah kita mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang lebih bermanfaat, namun menyenangkan.</p>
<p style="color: #000000;">Pada usia menjelang 2 tahun, kita telah dapat menggunakan cara time-out, misalnya dengan memintanya berdiri 2-3 menit di suatu pojok tertentu, ketika anak tampak tidak dapat menguasai kemarahannya.</p>
<p style="color: #000000;">Kita juga dapat membantu menyebutkan perasaan-perasaan anak dan perasaan kita sendiri, sehingga anak lebih cepat mengenali perasaan dan dengan demikian lebih cepat pula mengendalikannya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 3 hingga 5 tahun:</span></p>
<p style="color: #000000;">Orangtua masih dapat menggunakan cara time-out, namun dengan waktu yang lebih panjang. Sebaliknya, orangtua tidak boleh melupakan untuk memberi pujian ketika anak dapat mengendalikan diri pada situasi yang membuat frustrasi.</p>
<p style="color: #000000;">Sejalan dengan semakin baiknya bahasa lisan anak, seyogyanya juga semakin banyak kata-kata pemahaman dan penerimaan ekspresi emosi yang kita lontarkan. Anak yang nyaman mengakui perasaannya, sekalipun perasaan itu negatif, akan lebih mampu pula mengendalikannya. Selain itu, kita juga perlu memberi alternatif anak mengekspresikan perasaan negatifnya dengan cara yang lebih dapat diterima. Misalnya saja dengan memberikan kertas yang dapat dicoret apa pun juga, atau juga melontarkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan lewat kata-kata verbal.</p>
<p style="color: #000000;">Cerita tokoh Alkitab dan contoh kehidupan nyata juga dapat membantu anak mengimajinasikan perilaku pengendalian diri dan konsekuensi yang kita akan hadapi sesuai dengan apa yang kita lakukan. Selain itu, kita juga perlu ajarkan tentang hal yang lebih berharga yang bisa kita peroleh bila kita mau menanti lebih lama dan menahan godaan lebih banyak.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 6 hingga masa pra remaja:</span></p>
<p style="color: #000000;">Ketika anak memasuki Sekolah Dasar, ia memiliki banyak kesempatan berelasi dengan orang lain. Orangtua dapat mengarahkan anak usia ini, antara lain dengan memberi kesempatan anak mengetahui perasaan orang lain ketika terjadi benturan. Setelah itu, orangtua juga perlu mengajarkan soal kepantasan ekspresi emosi, serta memberi contoh bagaimana menyatakan suatu permintaan secara wajar dan baik.</p>
<p style="color: #000000;">Belajar menabung, menemani anak bermain dan memberi tanggapan ketika mereka kalah dalam permainan, juga berlatih musik dan berolah raga, adalah beberapa alternatif cara yang dapat kita terapkan untuk melatih anak mengendalikan dirinya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia remaja:</span></p>
<p style="color: #000000;">Umumnya bila anak terlatih mengendalikan diri sejak kecil, ia akan tampak lebih stabil pada usia remaja. Meskipun demikian, anak pada masa ini akan mengalami gejolak emosi melebihi masa sebelumnya karena aktifnya hormon-hormon seksual. Anak akan lebih dapat mengendalikan diri bila orangtua memahami apa yang sedang mereka alami. Orangtua perlu lebih berperan sebagai sahabat yang mendampingi anaknya menghadapi masa-masa sulit mereka. Bila orangtua dapat menampung unek-unek mereka tanpa menilai negatif diri mereka, mereka pun akan lebih percaya diri dalam menghadapi diri mereka sendiri.</p>
<p style="color: #000000;">Sebagai catatan tambahan, sangat penting bagi anak pada usia berapa pun untuk dapat melihat orangtua yang mampu mengendalikan diri dalam kesehariannya. Bila sekali waktu orangtua lepas kendali, anak perlu melihat contoh orangtua yang rela mengakui kesalahan dan meminta maaf.</p>
<p style="color: #000000;">Kesediaan orangtua meluangkan waktu dan memeras pikiran untuk membantu anak mengendalikan dirinya akan sangat berguna bagi kesejahteraan anak di kemudian hari. Anak tumbuh lebih percaya diri dan lebih bebas berkiprah. Anak pun memahami batasan-batasan dan mampu mengendalikan diri untuk tidak melampaui batas tersebut.</p>
<p style="color: #000000;"><em>Oleh: Heman Elia, M.Psi</em></p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/">Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Self Esteem</title>
		<link>https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 08:30:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[self esteem]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=29</guid>

					<description><![CDATA[<p>”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:” Mazmur 8:5-7. Hari demi hari hubungan antara manusia semakin hubungan ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Istri menghargai suami &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/">Refleksi Self Esteem</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/self-esteem.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-831 size-shop_catalog alignnone" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/self-esteem-524x330.jpg" alt="Self esteem" width="524" height="330" /></a></p>
<p style="color: #000000;">”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:” Mazmur 8:5-7.<span id="more-29"></span></p>
<p style="color: #000000;">Hari demi hari hubungan antara manusia semakin hubungan ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Istri menghargai suami jikalau suami menjalankan fungsinya sebagai suami yang memberikan nafkah, melindungi anak-anak dan dirinya sendiri. Suami menghargai istri jika istri berfungsi menata rumah tangga dengan baik, mengasuh anak-anak dan memuaskan kebutuhan seksualnya.</p>
<p style="color: #000000;">Pembicaraan di dalam keluargapun lebih ke arah ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Kita lebih banyak mendengar dan mengucapkan kalimat: “Sudah selesai, belum?”, “sudah dikerjakan?”, “sudah dibetulkan belum?”, “kenapa ini masih berantakan?”, “kapan genteng dibetulkan?”, “kapan kamu bisa memuaskan saya?”, dll.  Sedangkan kalimat berikut jarang di dengar: “aku bersyukur karena Tuhan memberikan kamu untuk saya”, “senangnya melihat kamu lagi hari ini”, “aku senang sekali kita bisa ngobrol-ngobrol seperti ini”, “apa yang membuat kamu nampak khawatir hari ini?”, dll.</p>
<p style="color: #000000;">Peralihan penghargaan manusia dari “relasional” kepada “fungsional” membuat kita lupa “APAKAH MANUSIA?”</p>
<p style="color: #000000;">Kita semua tanpa kecuali, adalah manusia yang tidak ada harganya di mata Allah. Alkitab mengatakan kita seperti debu, seperti bunga rumput. Tapi, Alkitab juga mengatakan bahwa manusia seperti itu dihargai oleh Allah dengan diberikan identitas yang melebihi dari kondisinya: “membuatnya hamper sama seperti Allah”. Allah “mengindahkan”. Perhatian Allah kepada manusia bersifat personal dan mendasar. Allah memberikan perhatian/mengindahkan sampai memberikan AnakNya yang Tunggal untuk mati dan menyelamatkan kita; Allah memberikan mahkota yang tidak layak kita terima; Allah memberikan kuasa yang sebenarnya dengan kuasa itu pula manusia berpotensi untuk berbalik melawan Allah.</p>
<p style="color: #000000;">Dapatkan perlakuan Allah kepada manusia menjadi dasar kita memperlakukan anak, istri/suami kita??? Sebodoh apapun anak kita, senakal apapun perilakunya, secuek apapun suami kita, secerewet apapun istri kita, …. Mereka adalah Manusia. Mereka diperlakukan sangat istimewa oleh Allah……… akankah kita memperlakukan mereka dengan hina???</p>
<p style="color: #000000;">Salah seorang saudara sepupu saya memiliki anak “Down Syndrome”. Pada saat kumpul keluarga, anak itu selalu terlihat berbeda dari yang lain. Dengan usianya yang sudah cukup dewasa dia masih bertingkah sebagai anak-anak. Akan tetapi keluarganya selalu memperlakukan dia sama seperti yang lain. Dia diberikan pendidikan yang layak dan pantas. Setelah selesai training di sekolah khusus, dia diberikan tugas sebagaimana anak-anak yang lain dalam keluarga itu. Dan yang mengharukan saya adalah: ibunya dapat menemukan kelebihan anak ini. Ia berkata: “Dari semua anak-anak saya, dia adalah anak yang mempunyai hati penyayang dan bertanggung jawab”. Pada saat lebaran, dialah yang membantu membersihkan lantai, dan dialah anak yang selalu siap menyambut siapa saja yang baru pulang. Jika ada satu anggota yang belum pulang, dialah satu-satunya yang tahan menunggu di depan pintu, sampai semua ada di rumah.</p>
<p style="color: #000000;">Tidak seorangpun tidak berharga di mata Allah, hanya manusia yang membuat manusia lain seperti sampah. Dan itu adalah sikap  kekejian yang kejam.</p>
<p style="color: #000000;">Apakah manusia sehingga dapat menghina manusia lain yang sudah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat oleh Allah?</p>
<p style="color: #000000;">Pandanglah baik-baik dan dalam-dalam setiap anggota dalam keluarga anda. Renungkanlah apakah mereka sudah mendapatkan perlakuan, penghargaan dan pujian yang selayaknya mereka peroleh? Ataukah sebaliknya?</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/">Refleksi Self Esteem</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bertengkar Karena Pelajaran Anak</title>
		<link>https://eunikefamily.org/bertengkar-karena-pelajaran-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 07:30:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[bertengkar karena anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=31</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu topik pertengkaran terhangat di banyak keluarga dewasa ini adalah mengenai pelajaran sekolah anak-anak.  Biasanya salah satu orangtua akan berperan sebagai si pendisiplin sedangkan yang satunya akan berfungsi sebagai si pelindung anak yang malang ini.   Pertengkaran dimulai tatkala si pelindung merasa tidak tahan melihat si anak dimarahi oleh si pendisiplin.  Sebaliknya, si pendisiplin menjadi &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/bertengkar-karena-pelajaran-anak/">Bertengkar Karena Pelajaran Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/pasutri-bertengkar.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-728 size-full" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/pasutri-bertengkar.jpg" alt="Pasutri bertengkar" width="442" height="334" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Salah satu topik pertengkaran terhangat di banyak keluarga dewasa ini adalah mengenai pelajaran sekolah anak-anak.  Biasanya salah satu orangtua akan berperan sebagai si pendisiplin sedangkan yang satunya akan berfungsi sebagai si pelindung anak yang malang ini.   Pertengkaran dimulai tatkala si pelindung merasa tidak tahan melihat si anak dimarahi oleh si pendisiplin.  Sebaliknya, si pendisiplin menjadi jengkel karena si anak menatapnya dengan pandangan, “Engkau orangtua yang jahat!” dan melihat si pelindung dengan tatapan, “Engkau orangtua yang baik.”<span id="more-31"></span></p>
<p style="color: #000000;">Saya percaya skenario di atas ini mewakili keadaan di rumah kita—pertengkaran demi pertengkaran karena kita peduli dengan anak kita.  Jika kita tidak mempedulikannya, mungkin kita pun tidak perlu meributkan performa belajarnya.  Di pihak yang satu kita tidak rela membiarkan rapor anak kita hangus kebakaran; di pihak lain, kita pun tidak tega melihatnya tersiksa oleh tuntutan akademik yang tampaknya makin hari makin terlalu tinggi untuk digapai.</p>
<p style="color: #000000;">Sebagaimana saya uraikan di atas, pada umumnya pertengkaran di antara orangtua muncul seiring dengan munculnya kedua peran yang bersifat antagonistik itu: si pendisiplin yang kejam melawan si pelindung yang penuh dengan belas kasihan.  Dengan berjalannya waktu, peranan-peranan ini bukan saja mencuat pada topik sekolah anak, celakanya, kedua peranan ini mulai mengalir pula ke daerah-daerah kehidupan lainnya, misalnya dalam pengambilan keputusan bersama terhadap pekerja atau karyawan, atau bagaimana menghadapi teman yang sedang memiliki kebutuhan untuk ditolong.</p>
<p style="color: #000000;">Pada akhirnya, si pelindung sungguh-sungguh merasa bahwa mitra pernikahannya memang orang yang berhati singa. Sebaliknya, si pendisiplin menjadi makin muak dengan kelembutan si pelindung yang dianggapnya berbaik hati untuk tujuan tertentu saja dan bahwa pada dasarnya ia tidak berani menghadapi kenyataan hidup.  Tidak jarang, si anak juga turut terseret masuk ke dalam kancah pertempuran ini dan dipaksa memihak dengan salah satu orangtuanya.</p>
<p style="color: #000000;">Apabila ini sudah terjadi, si anak sudah pasti akan menjadi korban atau sasaran kemarahan kita kepada pasangan. Kita tahu bahwa cara yang ampuh untuk menyakiti si pelindung adalah dengan cara menyakiti anak yang disayanginya.  Sebaliknya, kita pun paham bahwa cara terbaik melukai hati si pendisiplin adalah dengan cara melindungi dan dekat dengan si anak agar makin tampak kebengisan pasangan kita.</p>
<p style="color: #000000;">Ada beberapa saran yang ingin saya tawarkan sebagai jalan pemecahannya.</p>
<ol style="color: #000000;">
<li><strong>Fokuskan pada permasalahannya. </strong>Bukankah inti persoalannya adalah bagaimana memotivasi si anak untuk belajar dengan penuh tanggung jawab?  Jadi, duduklah bersama dan susunlah strategi bagaimana memotivasi si anak.  Misalnya, tentukan jam belajarnya DAN jam mainnya.  Saya sengaja menekankan pentingnya memasukkan waktu main ke dalam jadwal hidupnya karena tanpa waktu main, si anak tidak akan menggunakan waktu belajarnya dengan efektif.Atau, tetapkan sistem imbalan dan hukuman yang pasti agar bukan saja anak tahu konsekuensi perbuatannya, kita pun sebagai orangtua tidak perlu lagi meributkan bentuk hukuman atau imbalan yang sepadan untuknya.Sadarilah pula bahwa anak memiliki keunikannya dan ini akan berpengaruh pada tanggapannya terhadap ancaman kita.  Anak yang introvert dan perasa tidak perlu mendapatkan omelan yang keras, apalagi pukulan.  Kebalikannya, anak yang ekstrovert dan aktif, cenderung kurang sensitif sehingga membutuhkan teguran yang lebih keras dan bilamana perlu, pukulan yang sesuai di pantatnya.</li>
<li><strong>Jika harus bertengkar juga, hindarkan pertengkaran dan pembelaan di muka anak. </strong>Ibarat pusaran air, pertengkaran dan pembelaan hanyalah akan menenggelamkan perahu keluarga kita sendiri.  Sewaktu berselisih pandang, hindarkan lontaran kata-kata yang membuat pasangan kita merasa seakan-akan ia tidak mencintai anak itu.  Tuduhan seperti ini hanyalah akan memancingnya untuk balik menantang, apa bagian kita atau apa itu yang telah kita kerjakan untuk anak kita. Pada titik ini pertengkaran berpotensi untuk lari di tempat dan seperti kompor gas, ia makin memanas. Yang kita harus lakukan justru kebalikannya.  Kita mesti memberi penghargaan kepada pasangan yang memang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menolong pelajaran anak kita.  Saya khawatir bahwa orangtua yang paling sabar kepada anak sebenarnya adalah orangtua yang tidak pernah menunggui anak belajar.  Barangsiapa pernah menemani anak belajar akan tahu betapa sulitnya untuk bisa tetap lemah lembut dan sabar setelah satu jam bersamanya.Kita yang pelindung perlu mengakui usaha keras pasangan kita yang berupaya mendidik anak agar berdisiplin dan kita yang pendisiplin, harus mengakui bahwa memang pasangan kita tidak ingin menambah penderitaan anak.  Pengakuan seperti ini membawa kita kembali ke pokok permasalahannya yakni bahwa sebenarnya kita menginginkan anak belajar dengan baik dan bahwa sesungguhnya kita mengasihi anak ini.  Dengan kata lain, kembalilah kepada saran pertama di atas dan duduklah bersama untuk menentukan strategi bersama.Mungkin penggalan skenario dan saran ini tampil terlalu menyederhanakan masalah.  Saya setuju dengan penilaian anda. Sungguhpun demikian, saya tetap meminta agar anda mencoba melakukan yang sederhana ini dan saya percaya bahwa anda akan menemukan bahwa metode ini tidak semudah yang anda duga. Ternyata memfokuskan pada inti masalah dan memberi penghargaan bukanlah hal yang mudah.Sederhana dan mudah memang tidak harus identik. Namun, makin sering kita melakukannya, makin tampak hasilnya dan makin pudar pula peranan antagonistik di antara kita.  Kita tidak perlu lagi membagi tugas sebagai pelindung atau pendisiplin; kita kembali menjadi orangtua yang peduli dengan anak?</li>
</ol>
<p style="color: #000000;">Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/bertengkar-karena-pelajaran-anak/">Bertengkar Karena Pelajaran Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/teman-khayalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 07:00:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[teman khayalan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=35</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengapa anak saya suka bermain sendiri, seolah-olah ada teman khayalan di dekatnya? Anak balita Anda suka bicara sendiri seolah ada teman bermain di dekatnya. Anda mungkin agak ngeri melihatnya karena seolah-olah ada makhluk halus yang menemani anak Anda bermain. Setiap anak mempunyai bentuk ‘teman’ yang berbeda, ada yang memberinya nama perempuan seperti dirinya dan seolah &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/teman-khayalan/">Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/imaginary-friend.gif"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1185" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/imaginary-friend-1024x737.gif" alt="teman khayalan" width="500" height="360" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Mengapa anak saya suka bermain sendiri, seolah-olah ada teman khayalan di dekatnya?</p>
<p style="color: #000000;">Anak balita Anda suka bicara sendiri seolah ada teman bermain di dekatnya. Anda mungkin agak ngeri melihatnya karena seolah-olah ada makhluk halus yang menemani anak Anda bermain.</p>
<p style="color: #000000;">Setiap anak mempunyai bentuk ‘teman’ yang berbeda, ada yang memberinya nama perempuan seperti dirinya dan seolah anak itu teman seusianya, ada juga yang berperilaku seolah temannya adalah seekor anjing yang terus mengikutinya.</p>
<p style="color: #000000;">Wajarkah??? Apakah anak Anda diikuti makhluk halus???<span id="more-35"></span></p>
<p style="color: #000000;">65% anak kecil membangun konsep teman khayalan pada saat mereka berusia 3 sampai 5 tahun, yaitu ketika mereka mulai membentuk identitas dirinya dan mulai mengenali batas antara khayalan dan dunia nyata. Walaupun pada umumnya, anak-anak mempunyai teman khayalan pada usia pra-sekolah, tidak sedikit terjadi pula sampai mereka usia 7 tahun¹ .</p>
<p style="color: #000000;">Selain teman khayalan yang tidak kelihatan oleh orang lain, teman khayalan juga bisa berbentuk objek yang terlihat, misalnya: boneka binatang, mainan-mainan berkarakter, dan lain sebagainya. Dari segi gender, anak perempuan lebih banyak mempunyai teman khayalan daripada anak laki-laki.</p>
<p style="color: #000000;">Dari beberapa riset yang diadakan, ditemukan adanya hubungan antara teman khayalan dengan perkembangan sosial dan emosi anak.  Melalui berinteraksi dengan teman khayalan, anak belajar:</p>
<ol style="color: #000000;">
<li><strong>Memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. </strong><br />
Keitha mempunyai seorang teman khayalan bernama “momon” (boneka monyet). Sekalipun tidak selalu Momon diajak besertanya, Keitha tetap bisa berbicara dengan Momon, yaitu dengan meletakan tangannya di telinga, seolah dia menelpon Momon. Kadang Keitha menanyakan bagaimana perasaan Momon, apakah Momon sudah makan atau belum, dsb. Tanpa disadari, Keitha sedang latihan untuk interaksi dengan orang lain.  Menurut penelitian, anak-anak seperti ini akan tumbuh menjadi orang dewasa yang dapat lebih mudah memahami perasaan orang lain.</li>
<li><strong>Mengembangkan rasa ingin tahu dan pemikiran kreatif</strong><br />
Joyce seringkali membicarakan tentang “Ida”, teman khayalannya. Kedua orangtuanya tahu betul bahwa tidak ada “Ida” yang sesungguhnya, akan tetapi Joyce seringkali membicarakan dengan serius dan banyak bertanya tentang Ida, warna pakaian yang disukai, apakah Ida punya rumah, apakah Ida masuk sekolah hari ini, dll. Sekalipun terdengar ‘aneh’, sesungguhnya anak ini mempunyai kreatifitas yang tinggi. Dia dapat membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada, dan kemudian berkomunikasi dengan orangtua, bertanya untuk mengembangkan khayalannya. Orangtua yang bijaksana akan terus mengikuti percakapan ini tanpa rasa takut anak ini ‘kesurupan’. Karena sesungguhnya ini hanyalah gejala kerja otak dan tidak ada urusan dengan roh halus.</li>
<li><strong>Eksperimen berbagai bentuk sosial dalam situasi kritis. </strong><br />
Lusi terdengar marah-marah di dalam kamarnya, ketika diintip oleh orangtuanya ternyata dia sedang memarahi bonekanya. Dalam hal ini orangtua tidak perlu berpikir “apakah anak saya trauma karena dimarahi dan melampiaskannya dengan boneka”. Sesungguhnya anak-anak suka mencoba beberapa peran orang dewasa, baik yang pernah dilihatnya maupun yang secara natur sebagai manusia, dia ingin melakukan eksperimen sendiri.Yang menjadi pertanyaan banyak orangtua Kristen adalah: apakah saya perlu mengoreksi atau menegur anak saya ketika dia menjadikan teman khayalannya sebagai kambing hitam.Ketika Nana ditegur oleh ibunya karena menumpahkan susu, Nana langsung melihat ke kursi kosong di sebelah kanannya dan berkata dengan keras: “Ita sih… Nana kan jadi dimarahi mama, aku sudah bilang… hati-hati nanti susunya tumpah. Nah kalau sudah begini bagaimana???”Orangtua Kristen akan berpikir, apakah saya harus berkata:“Nana…. Jangan cari alasan ya…mama bicara kepada kamu”atau“Nana… mama tidak bicara pada Ita, mama bicara pada kamu. Kamu yang menumpahkan susu, jangan berdalih.”atau“Dalam nama Yesus….. roh Ita pergilah dari anakku”</li>
</ol>
<p>“Sekalipun Ita yang menumpahkan, Nana yang mama minta lap tumpahan susunya karena gelas susu ini adalah tanggung jawabmu”</p>
<p>Kalau saya jadi mama Nana, saya akan pilih yang terakhir. Selucu apapun anak kita ketika mengatakannya, tetap dia harus bertanggung jawab. Sebagai seorang anak balita, dia perlu mengerti konsekuensi perbuatan dari sudut pandang atau dunia caranya berpikir. Dengan kalimat terakhir, kita tidak mengeluarkan anak kita dari dunia khayalnya, tapi juga tidak terbawa untuk meninggalkan dunia nyata bahkan menariknya untuk masuk dalam dunia nyata. Ini merupakan cara imaginatif untuk mengerti konsep otoritas, benar, salah, hukuman dan pujian.</p>
<ul>
<li><strong>Mengatasi perasaan-perasaan negatif.</strong><br />
Setelah orangtua Jeni bercerai, Jeni jadi lebih banyak berbicara dengan bonekanya, “Jeje”. Suatu hari ibunya mendengar Jeni berkata, “Jeje, hari minggu nanti kita jalan-jalan ke Singapore yah sama papa. Papa nanti akan ajak kita melihat kebun binatan, lho. Jangan takut dengan singa, kan ada papa.” Kalimat ini sudah barang tentu mengiris hati orang yang mendengarnya, akan tetapi sesungguhnya itulah cara Jeni mengatasi rasa takut terhadap perceraian, pertengkaran papa mama yang sering ia dengar dan sedang mengkomunikasikan harapan-harapannya. Dengan bantuan konselor, Jeni akan lebih mudah dibimbing untuk mengatasi perubahan-perubahan yang sedang dan akan dia alami.</li>
</ul>
<p style="color: #000000;">Peran Orangtua dalam menghadapi ‘teman khayalan”:</p>
<ol style="color: #000000;">
<li><strong>Mengembangkan</strong><br />
Orangtua dapat menggunakan ‘teman khayalan’ untuk melatih anak berpikir “bagaimana jika”, bukan hanya “mengapa” dan “bagaimana” (dalam realita). Jika anak tidak punya teman khayalan, orangtua boleh mendorong anak untuk mempunyai teman khayal, yaitu dengan cara bercerita: Tadi Tomat berkata bahwa dia sangat ingin dimakan. Bagaimana jika si Tomat ikut ke sekolah bersama kamu?</li>
<li><strong>Tunjukkan minat Anda</strong><br />
Dengan memberikan pertanyaan open-ended, Anda akan mengembangkan interaksi dimana anak akan terdorong untuk lebih banyak bercerita. Misalnya:Anak: “Terry (teman khayalan), ayo cepat ganti baju… nanti kamu terlambat, lho”Orangtua: “Pakai baju apa Terry hari ini???”Anak: “Baju merah”Orangtua: “oh… baju warna merah?? Rok atau blouse atasan?? Sepatunya apa?, dst….dst…dst….</li>
<li><strong>Jangan memberikan penilaian negatif</strong><br />
Anda akan cepat mematikan manfaat dari ‘teman khayalan’ ini jika Anda cepat-cepat memberikan penilaian negatif.Misalnya dengan mengatakan: “ah…kamu aneh-aneh aja…mana temanmu?; “temanmu makan ya??? Koq makanannya gak berkurang?? Menghayal yah kamu??? Jangan bohong ah… mana ada sih si Ida, dari tadi juga mama gak lihat apa2”.Dengan komentar-komentar ini, anak mungkin tidak lagi mengatakan apa-apa dengan Anda, tapi bukan berarti dia berhenti dari menghayalkan temannya. Dan jauh lebih berbahaya jika dia tidak bercerita kepada kita, karena kita tidak tau apa yang dia khayalkan dan kita terhambat untuk membimbing pikiran ke arah yang positif.</li>
<li><strong>Mengarahkan kepada dunia nyata (jika sudah berlebihan).</strong></li>
</ol>
<p style="color: #000000;">Pertanyaan yang mungkin Anda tanyakan:  “kapankah saya perlu mengkhawatirkan relasi anak saya dengan teman khayalannya?”</p>
<p style="color: #000000;">Intensitas dan panjangnya waktu yang dia habiskan dengan teman khayalan haruslah tetap diperhatikan. Jikalau anak Anda menghindari pergaulannya dengan teman yang nyata dan lebih cenderung hanya mau bermain dengan teman khayalan, maka kita harus waspada. Mungkin saja anak Anda sesungguhnya mengalami perasaan tertekan ketika harus berinteraksi dengan teman yang nyata. Dengan demikian, orang tua harus lebih aktif memberikan pengalaman berinteraksi dengan teman nyata, memberikan dorongan dan menolong anak-anak untuk lebih menyukai bermain dengan teman nyata daripada teman khayalan.</p>
<p style="color: #000000;">Sikap memarahi anak dan memaksanya meninggalkan teman khayalan akan menambah perasaan tertekan. Orangtua harus secara aktif memberikan aktifitas pengganti yang jauh lebih sehat. Selain itu, orangtua juga perlu menemui penyebab rasa aman dan rasa takut yang membuat anak sering masuk dunia khayalnya.</p>
<p style="color: #000000;">“Bagaimana menghentikannya dari dunia khayalan?”</p>
<p style="color: #000000;">Terlalu banyak bermain dengan “teman khayalan” dapat menjadi tanda bahwa anak Anda sedang mengalami masalah kejiwaan yang kompleks.  Kita tidak boleh menghina, melarang atau memarahi anak untuk hal ini, tapi juga tidak boleh terlalu terlibat dalam dunia khayalnya. Sedikit demi sedikit kita harus menunjukkan realita bahwa teman khayalannya tidak nyata: “Ida tidak bisa ikut makan bersama keluarga kita, karena dia tidak ada”; “Momon adalah boneka, bukan binatang yang hidup seperti yang di pohon itu, dll. Kadang kita perlu mengikuti skenario anak, tapi tetap dengan batas-batas tertentu dan dengan lembut membawa anak kepada kenyataan.</p>
<p style="color: #000000;">Pada akhirnya, nikmatilah masa-masa kecil anak yang penuh dengan imaginasi yang indah. Masa-masa itu akan berlalu dan anda akan merasa rindu kembali lagi ke masa seperti itu. Nikmatilah anak Anda dan didiklah mereka pada jalan yang seharusnya dia tempuh sebagai anak-anak Tuhan yang dicipta dengan daya imaginasi yang luar biasa (Amsal 22:6).</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Referensi</strong></p>
<p style="color: #000000;">l. Taylor, M. (2004). Developmental Psychology (Vol. 40, No. 6)</p>
<p style="color: #000000;">Gurian, Anita, Ph.D.. &#8220;When Your Child&#8217;s New Friend is Imaginary.&#8221; About Our Kids. N.p., n.d. Web. 23 July 2011.</p>
<p style="color: #000000;">Oxenreider, Anne. &#8220;Imaginary friends (2-4).&#8221; Sixty Second Parent. N.p., n.d. Web. 23 July 2011</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/teman-khayalan/">Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ayah&#8230;Penggembala atau Penggembira</title>
		<link>https://eunikefamily.org/ayah-penggembala-atau-penggembira/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 06:15:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[peran ayah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=121</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di dalam budaya tradisional, ayah adalah tokoh pelindung, pemelihara, pemberi nafkah, dan pendidik bagi anaknya. Seringkali ayah merupakan peran yang menakjubkan anak kecil, namun dapat menjadi peran yang dijauhi oleh remaja dan pemuda karena ayah berarti peran otoriter. Banyak ayah yang memainkan peran tadi. Semakin kurang serius dirinya dalam menjalin keintiman dengan Tuhan, semakin ia &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/ayah-penggembala-atau-penggembira/">Ayah&#8230;Penggembala atau Penggembira</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/biblical-father.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-721 size-full" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/biblical-father.jpg" alt="Biblical father" width="454" height="337" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Di dalam budaya tradisional, ayah adalah tokoh pelindung, pemelihara, pemberi nafkah, dan pendidik bagi anaknya. Seringkali ayah merupakan peran yang menakjubkan anak kecil, namun dapat menjadi peran yang dijauhi oleh remaja dan pemuda karena ayah berarti peran otoriter.</p>
<p style="color: #000000;">Banyak ayah yang memainkan peran tadi. Semakin kurang serius dirinya dalam menjalin keintiman dengan Tuhan, semakin ia bersikap otoriter agar anaknya menjadi orang yang menjalankan ritual agamanya dengan baik. Sayang anak tidak mendapatkan teladan langsung dalam hal itu.<span id="more-121"></span></p>
<p style="color: #000000;">Di dalam Alkitab beberapa ayat menunjukkan kepada peran ayah yang seharusnya. Secara implicit ayah bukan hanya pelindung atau pemelihara, namun juga tokoh yang perlu dikasihi, memberi inspirasi bagi keluarganya dalam urusan hidup doa dan dengar-dengaran pada FirmanNya. Untuk itu, peran tradisional tidak cukup untuk dunia modern dimana anak-anak mendapat pengaruh bukan saja dari rumah, tapi juga dari sekolah dan dari media massa.</p>
<p style="color: #000000;">Seorang ayah bertugas memenuhi kebutuhan jasmaniah dari anak-anaknya. Ayah juga perlu membimbing anak dalam pertumbuhan kejiwaan mereka, khususnya dalam pembentukan gambar diri dan kemampuan sosialisasi. Namun yang terlebih penting adalah agar ayah juga menjadi gembala yang menjaga, memberikan perlindungan, dan inspirasi bagi anak dalam hidup spiritual. Bila ayah jarang kelihatan berdoa atau mendengarkan firmanNya, anak akan mencatat di dalam hatinya dan mengikuti teladan tadi.</p>
<p style="color: #000000;">Untuk memenuhi peran terakhir tadi, seorang ayah perlu menjadi teman dari anak-anaknya. Teman berarti tempat bertanya, mengadu, mendapatkan kegembiran serta mendapatkan kelegaan. Ayah tidak cukup hanya memainkan peran otoriter. Dalam cerita anak yang hilang, sang ayah memainkan peran sebagai ayah yang memahami anaknya dan menjadi pemberi maaf. Dalam diri Yakub kita mengenal ayah yang menyayangi anak-anaknya. Dalam diri Abraham, terlihat seorang ayah yang sangat bersandar pada Tuhan sangat percaya padaNya.</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p style="color: #000000;">Menjadi ayah bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Ayah yang ingin anaknya tumbuh dengan gambar diri yang sehat, perlu mulai dengan menata gambar dirinya, mengenali luka batin dan bias-bias pandangannya terlebih dulu. Ayah yang ingin anaknya hidup sehat, juga perlu meneladani bagaimana ia sendiri mengurus kehidupan jasmaninya.</p>
<p style="color: #000000;">Selanjutnya, bila dalam hubungan dengan anak, otoritas terlalu ditekankannya, anak akan menjauh dan komunikasi tidak tercapai. Bila ayah tidak cukup intim dengan Tuhan, anak akan tidak memiliki teladan untuk hal yang sangat penting. Bila ayah tidak cukup menjadi teman anak, anak akan mencari teman dan tempat untuk kegembiraan di tempat lain. Jadi seorang ayah yang baik perlu mulai dengan meminta Tuhan memampukannya.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/ayah-penggembala-atau-penggembira/">Ayah&#8230;Penggembala atau Penggembira</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Mendidik Anak Menjadi Beban?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/mengapa-mendidik-anak-menjadi-beban-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 06:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[beban mendidik anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=744</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekalipun kita memahami bahwa anak adalah anugerah, seringkali proses mendidik anak sulit dinikmati sebagai anugerah. Beberapa alasan mengapa mendidik anak menjadi beban: Idealisme Setiap orangtua mempunyai cita-cita dan idealisme sendiri tentang hidup, karir, dan kehidupan keluarga. Orangtua yang idealis dan sulit menerima realita sering memiliki beban yang banyak. Sebagai contoh: Ibu mempunyai idealisme ayah dari anak-anak &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengapa-mendidik-anak-menjadi-beban-2/">Mengapa Mendidik Anak Menjadi Beban?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/parenting-handholding.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-719 size-full" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/parenting-handholding.jpg" alt="parenting handholding" width="452" height="300" /></a></p>
<p>Sekalipun kita memahami bahwa anak adalah anugerah, seringkali proses mendidik anak sulit dinikmati sebagai anugerah. Beberapa alasan mengapa mendidik anak menjadi beban:<span id="more-744"></span></p>
<ol>
<li><strong>Idealisme<br />
</strong>Setiap orangtua mempunyai cita-cita dan idealisme sendiri tentang hidup, karir, dan kehidupan keluarga. Orangtua yang idealis dan sulit menerima realita sering memiliki beban yang banyak. Sebagai contoh: Ibu mempunyai idealisme ayah dari anak-anak yang banyak waktu bermain, mengajar sport, membacakan cerita Alkitab. Tapi dalam kenyataan pekerjaan suami mengharuskannya berada di luar kota dalam waktu lama. Ketika berada di rumahpun banyak sekali harapan-harapan istri yang harus dipenuhinya. Tegangan-tegangan semacam ini membuat ibu mengisi masa-masa emas mendidik anak dengan keluh kesah.Sebaiknya pasangan semacam ini mengambil waktu untuk duduk berdua dan bersama-sama menyusun kembali harapan-harapan yang cukup realistis. Masing-m,asing perlu menyatakan harapan dan batas kemampuannya.</li>
<li><strong>Beban yang terlalu banyak<br />
</strong>Setiap keluarga harus secara berkala mengevaluasi beban masing-masing anggotanya. Beban pekerjaan atau kegiatan yang terlalu banyak, kadang-kadang bukan saja membuat persoalan bagi diri sendiri tapi bisa berakibat buruk kepada anggota yang lain.Kadang-kadang kata yang paling sulit diucapkan oleh keluarga Kristen adalah “Tidak”. Tidak untuk permintaan dan tawaran kegiatan baik pelayanan, kekeluargaan maupun kegiatan social selain kegiatan pekerjaan dan kewajiban yang banyak.Kegiatan yang menumpuk dan tidak terorganisir dengan baik, akhirnya membuat anggota yang lain merasa tersisih atau dituntut berlebih.Contoh: Ayah sudah banyak pekerjaan ditambah dengan permintaan-permintaan mendadak untuk pelayanan, ibu mengalami kebingungan dengan apa yang harus disiapkan untuk ayah yang tidak jelas kapan pulang dan kapan pergi, sementara tidak ada pembantu dan ibu harus mengantar anak-anak kursus. Beban menjadi bertambah besar ketika ternyata anak-anak tidak cocok dengan kursusnya, sulit didorong dan tidak mau belajar.Sebaiknya pasangan semacam ini mengambil waktu untuk duduk berdua dan bersama-sama menyusun kembali prioritas dan kegiatan yang harus dibuang.</li>
<li><strong>Gaya komunikasi “seharusnya kamu tahu”<br />
</strong>Manusia dicipta sebagai makhluk yang harus berkomunikasi. Tuhan mencipta manusia bukan sebagai makhluk mahatahu. Setiap pasangan harus menyampaikan aspirasi, inspirasi dan pendapat kepada pasangannya. Bukan berarti 10 tahun menikah berarti dia sudah mengenal seluruh hati dan pikirannya.Gaya komunikasi “seharusnya kamu tahu” seringkali membuat ayah maupun ibu tidak bisa menikmati perannya sebagai pendidik.Contoh: Ibu merasa jengkel karena ayah tidak memberi tahu kapan tidak pulang makan. Ibu merasa kesulitan sekali karena kadang ayah pulang mendadak pada saat menemani anak tidur atau belajar. Pekerjaan ayah yang fleksible sering kali membuat ibu menjadi kewalahan karena jadwal bisa berubah dalam hitungan detik. Ayah merasa sudah banyak memberi waktu bagi keluarga, akan tetapi memang ada saat-saat yang tidak bisa dihindari karena kebutuhan pekerjaan yang mendadak.Suasana seperti itu membuat ayah merasa tidak berkualitas menjadi ayah, dan ibu merasa tidak dihargai.Sebaiknya pasangan semacam ini mengambil waktu duduk berdua untuk menyampaikan kembali harapannya. Cukup penting setiap pasangan menentukan “core-time”, yaitu waktu-waktu tertentu yang perlu ditaati bersama. Jikalau ada sesuatu yang berubah pada “core-time” itu, masing-masing perlu mengkomunikasikan. Selebihnya biarkan tiap pasangan secara fleksibel mengatur waktunya masing-masing. Tapi setiap pasangan harus mempunyai asumsi: Dia belum tahu dan perlu tahu apa yang sudah, sedang dan akan kerjakan. Dengan demikian, salah paham dan salah tafsir bisa dihindari. Dengan demikian “saling percaya” bisa lebih terbangun</li>
</ol>
<p><!--more--></p>
<p><!--more--></p>
<p><!--more--></p>
<p><!--more--></p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengapa-mendidik-anak-menjadi-beban-2/">Mengapa Mendidik Anak Menjadi Beban?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
