<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Eunike, Author at Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<atom:link href="https://eunikefamily.org/author/yayasan-eunike-editor-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eunikefamily.org/author/yayasan-eunike-editor-1/</link>
	<description>Eunike Family</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Dec 2018 18:53:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2023/10/cropped-LOGO-EUNIKE-2023-1-32x32.png</url>
	<title>Yayasan Eunike, Author at Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<link>https://eunikefamily.org/author/yayasan-eunike-editor-1/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Being “U-hau”</title>
		<link>https://eunikefamily.org/being-u-hau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2017 09:42:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Being U-hau]]></category>
		<category><![CDATA[Chinese new year]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2048</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yeremia 5:7 Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan. Key Word: Grateful Happy Chinese New Year, everybody! Renungan hari ini mengingatkan bagaimana kita dapat menjadi anak yang U-hau bagi Tuhan. Anak U-hau adalah anak &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-u-hau/">Being “U-hau”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Yeremia 5:7 Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan.<span id="more-2048"></span></p>
<p><em>Key Word: <strong>Grateful </strong></em></p>
<p>Happy Chinese New Year, everybody!</p>
<p>Renungan hari ini mengingatkan bagaimana kita dapat menjadi anak yang <em>U-hau</em> bagi Tuhan. Anak <em>U-hau</em> adalah anak yang tahu diri dan menghormati orangtuanya. Orang Israel telah menunjukkan akibat dari anak <em>Pu-hau</em>, anak yang tidak tahu berterima kasih, anak yang tidak peka terhadap teguran Tuhan bahkan tidak mau mendengarkan panggilan pertobatan. Anak yang mengeraskan hati.</p>
<p>Tentu kita tidak mau menjadi anak yang seperti itu, bukan?</p>
<p>Masalahnya adalah ketika seseorang sedang dalam tahap keras kepala atau keras hati, ia tidak menyadari dan tetap menganggap diri benar. Itulah sebabnya mengapa orang keras hati tidak dapat bertobat. Hanya kuasa kuasa Roh kudus dan FirmanNya dapat membongkar kekerasan hati seseorang.</p>
<p>Di pihak lain, Yeremia diutus oleh Tuhan untuk menghadapi orang-orang yang keras hati dan keras kepala. Saya membayangkan ketika menyampaikan Firman dan mengadakan panggilan pertobatan, namun tidak ada seorangpun yang memberi respon. &nbsp;Saya membayangkan ketika mengajar di kelas Sekolah Minggu/Sahabat Kristus yang anak-anaknya sangat sulit diatur dan setelah bertahun-tahun tidak nampak ada perubahan.</p>
<p>Saya membayangkan kalau Tuhan memberikan anak-anak yang sangat susah dididik.</p>
<p>Apakah saudara tidak merasa gagal, kecewa, putus asa dan akhirnya ingin mengundurkan diri dari semua kepercayaan yang Tuhan berikan?</p>
<p>Tuhan melembutkan hati kita ketika&nbsp; kita dipertemukan dengan orang-orang yang <em>Pu-Hau</em>, yang keras kepala dan sulit diatur. Tuhan mengajar kita untuk <em>U-Hau</em> pada-Nya melalui pelayanan terhadap anak-anak yang <em>Pu-Hau</em>.</p>
<p>Selamat menikmati kebersaman dengan keluarga dan memakai kesempatan untuk menunjukkan <em>U-Ha</em>u kepada orangtua dan kepada Tuhan. ….</p>
<p><em>Xi Nien Mung En</em>!!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra<em>&nbsp;</em></p>

<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-u-hau/">Being “U-hau”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2017 08:20:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2041</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2043" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-2-524x350.jpg" alt="" width="524" height="350"></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-2041"></span></p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.” Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?&nbsp;Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?&nbsp;Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian”. Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman. Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.&nbsp; Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong>&nbsp;</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gadget Community</title>
		<link>https://eunikefamily.org/gadget-community/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2017 08:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget Community]]></category>
		<category><![CDATA[Holy Jealousy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2036</guid>

					<description><![CDATA[<p>1 Korintus. 10:1-14 Key word: Holy Jealousy Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: idolatry. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2037" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-524x498.jpg" alt="" width="524" height="498"></p>
<p>1 Korintus. 10:1-14</p>
<p>Key word: <strong><em>Holy Jealousy</em></strong></p>
<p>Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: <em>idolatry</em>. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja <span id="more-2036"></span>sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita kehilangan jaringan dengan internet, atau ketinggalan HP/Ipad. Gelisah seharian, uring-uringan.</p>
<p>Itu yang pernah keluarga <strong>Sahabat Kristus (SK) </strong>lakukan: para istri menyembunyikan idol suami di gudang SK sampai hari &#8220;<em>displaying </em>milik suami yang paling berharga&#8221; pada saat hari ayah. Lucu sekali ada yang nitip sangkar burung kesayangan suami, bikin guru-guru SK ketar ketir takut burungnya mati. Suami yang HP-nya diumpetin istri, setelah acara itu mengundurkan diri&#8230;.marah besar.</p>
<p>Eits&#8230;.tunggu dulu! Jangan ketawa, jangan menghakimi. Mau ngalamin yang saya alami kemarin???? Saya bilang sama Tuhan: gak kira-kira kalau Tuhan mau pangkas carang-carang yang tidak berbuah. Bagaimana saya hidup tanpa email? Dengan di hack-nya email baru deh tuh yah. Berasa&#8230;.&#8221;dimana hartamu berada di situ hatimu berada&#8221;&#8230;.kepanikan melanda kalbu, takut bank account diterobos. Setelah cape seharian ngurusin harta kekayaan yang cuma dipercayakan secuil, saya baru sadar: kayanya saya berlebihan deh. Pinter tulis renungan, seperti guru pinter. Bikin soal ulangan. Giliran dirinya sendiri di test&#8230;bener!!! saya masih punya berhala. Tuhan iri&#8230; Tuhan semburu&#8230; Tuhan benci dengan berhala-berhala saya. Apa yang saya pikir bukan berhala&#8230;.&#8221;noh (istilah betawi!!!)&#8221;&#8230;&#8230; rasa&#8217;in kalau dicabut! ketahuan deh aslinya! Teman-teman pemulung kata, saya manusia biasa yang masih punya banyak jerawat dosa. Ngeri sebenernya menghadapi kenyataan proses &#8220;<em>sanctification</em>&#8221; ini, krn mau tidak mau kita harus berani melihat jerawat-jerawat kita sendiri. Segala pemoles wajah saya rontok ketika anak-anak melihat kenyataan mama panik. Sebelum sekolah Timmy pesan: &#8220;jika ada apa-apa&nbsp;<em>call </em>sekolah, panggil Timmy. <em>I can handle</em>&#8221;</p>
<p>Teman-teman&#8230;. mungkin ada saat Tuhan <em>expose </em>jerawat (idol) kita. Siapkah anda menerima kenyataan bahwa &#8220;saya orang berdosa yang sdg diproses dalam api pengudusan Allah?&#8221;</p>
<p><strong>Permainan dengan anak: </strong></p>
<ul>
<li>Masih ingat main &#8220;<strong><em>give it up</em></strong>?&#8221;. Suruh anak pilih salah satu yang &#8220;paling&#8221; dia sayang.</li>
<li>Tanyakan apakah dia siap kalau &#8220;itu&#8221; dititip di rumah orang lain dalam kurun waktu tertentu???</li>
<li>Atau diberikan kepada orang yang lebih perlu. Mama papa ikutan yah..jangan curang!!</li>
</ul>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Sakit?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2016 07:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Menikmati sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sembuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1848</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matius 8:17 Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Kata kunci: Sembuh Kemarin saya kurang sehat dan saya membutuhkan obat. Namun, di negara ini tidak seperti di Indonesia yang bisa seenaknya kita membeli obat. Suami saya mau membawa saya ke dokter, namun saya merasa enggan. Memikirkan berapa jauh perjalanan ke dokter, berapa lama &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/">Menikmati Sakit?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Matius 8:17</p>
<p><em>Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.</em></p>
<p><span id="more-1848"></span></p>
<p><strong>Kata kunci: Sembuh</strong></p>
<p>Kemarin saya kurang sehat dan saya membutuhkan obat. Namun, di negara ini tidak seperti di Indonesia yang bisa seenaknya kita membeli obat. Suami saya mau membawa saya ke dokter, namun saya merasa enggan. Memikirkan berapa jauh perjalanan ke dokter, berapa lama menunggu di ruang dokter, berapa dinginnya di luar, dll. Namun, setelah didesak, akhirnya saya menurut dan saya bersyukur sekali sekarang karena kondisi tubuh saya jauh lebih sehat dan saya bisa melakukan banyak aktifitas. Mungkin kalau kemarin saya bersikeras, saya masih terbaring dan tidak bisa berbuat apa-apa dan bahkan mungkin menjadi sulit untuk pulang kembali ke <em>Fort Worth</em> esok hari.</p>
<p>Renungan hari ini mengingatkan bahwa kehadiran Kristus di dunia adalah untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan menolong. Bukan hanya masalah penyakit fisik, tapi juga penyakit rohani. Namun, bukankah kita sering memilih untuk tetap sakit? Memikirkan apa resikonya untuk menjadi sembuh? Memikirkan harga yang harus dibayar untuk mengalami proses penyembuhan?? Kita tidak memikirkan betapa indahnya kondisi kita ketika sudah disembuhkan. Bahkan kita berpura-pura sehat dan menolak untuk diperiksa, atau takut menghadapi realita bahwa kita sedang menderita sakit?</p>
<p>Melihat kondisi dunia Barat dan juga kondisi kota Jakarta, kita bisa melihat banyaknya penyakit moral, penyakit rohani yang beredar. Seperti halnya setelah banjir maka penyakit akan berlipat ganda, demikian juga penyakit moral. Setelah banjir <em>mall</em>, banjir <em>gadget</em>, banjir <em>café</em>, banjir <em>x-box</em>, banjir <em>entertainment</em>…maka penyakit kemalasan, penyakit materialism, penyakit perzinahan, penyakit penyembahan berhala akan terus bertambah dan berlipat. Namun, kita lebih “enjoy being sick”&nbsp; atau membiarkan anak-anak kita sakit. Tanpa menyadari bahwa penyakit kita akan menyebar, menurun dan akhirnya membentuk “evil society (komunitas setan)”</p>
<p>Mari kita periksa rumah kita, keluarga kita, pekerjaan/karir kita, dan hati kita. Apakah ada penyakit yang perlu kita serahkan pada SANG JURUSELAMAT? Dia datang bukan untuk menyaksikan kita menikmati penyakit kita, dia datang untuk menanggung penyakit kita dan menyembuhkan.</p>
<p>Setelah mertua Petrus disembuhkan, dia tidak pasif menerima kesembuhan itu, namun dia dengan sigap mengambil langkah untuk menjadi pengikut Kristus. Mari kita periksa gaya hidup kita, apakah kita juga mempunyai gaya hidup sebagai murid yang sudah disembuhkan? Atau kita hanya seperti murid-murid lain yang ikut dalam rombongan ke sana kemari tetapi tetap dalam kondisi sakit dan pasif?</p>
<p><strong><u>Aktifitas dengan anak:</u></strong></p>
<ul>
<li>Ajak anak untuk mendiskusikan kondisi masyarakat di koran/berita TV, bicarakan apa yang murid Tuhan dapat lakukan untuk menghadirkan Kristus yang dapat menyembuhkan? (dapat juga memasukkan diskusi tantangan yang Ahok hadapi menghadapi situasi masyarakat Jakarta yang sakit).</li>
<li>Jika hari ini Anda/ anak Anda sakit, bagaimana Anda dan keluarga Anda menghadirkan Kristus dalam menghadapi penyakit ini?</li>
<li>Doakan teman-teman yang sakit.</li>
</ul>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>

<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/">Menikmati Sakit?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Half-Time (separuh usia menjelang 50-an)</title>
		<link>https://eunikefamily.org/half-time-separuh-usia-menjelang-50/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2016 06:15:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Half time (separuh usia menjelang 50-an)]]></category>
		<category><![CDATA[usia 50]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1845</guid>

					<description><![CDATA[<p>(10) Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. (11) Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/half-time-separuh-usia-menjelang-50/">Half-Time (separuh usia menjelang 50-an)</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="irc_mi iDJGnrwnMx_A-pQOPx8XEepE" src="http://cumulus.pro.poolb.tritondigitalcms.com/wp-content/uploads/sites/247/2015/02/halftime.jpg" alt="" width="640" height="364" /></p>
<p>(10) Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. (11) Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. (12) Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. (13) Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. (<strong>Imamat 25:10-13</strong>)</p>
<p><span id="more-1845"></span></p>
<p><strong><em>Kata Kunci: 50</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saya berusaha mencari kata kunci apa yang cocok untuk renungan hari ini. Cukup banyak pilihan sebenarnya:  bersyukur, waktu untuk Tuhan, merasa diberkati, tahun Sabat, keadilan, perayaan, kebebasan, “mudik”, dlsb. Tapi, mengingat usia saya sudah menjelang 50, maka saya memilih kata kunci : 50. Mudah-mudahan pada usia itu saya masih ingat renungan hari ini: “Bagaimana merayakan ulang tahun ke-50”</p>
<p>Bagi Saudara yang masih muda tentu usia 50 terasa masih lama, tapi anda juga dapat melakukan beberapa prinsip dari perayaan tahun Yobel ini:</p>
<p><strong>Pulang Kampung (mudik) </strong></p>
<p>Bukan secara territorial/pulang mudik ke kampung halaman. Tapi mungkin lebih ke arah memikirkan: apakah ada Saudara yang selama ini Anda sudah lama sekali tidak ketemu. Biasanya orang-orang kaya pada usia 50 tahun akan merayakannya secara besar-besaran (siapa tau <em>gak nyampe</em> usia 90, kan?). Namun, prinsip yang Tuhan ajarkan bukanlah “<em>self-centered</em>” (berorientasi pada diri sendiri), melainkan “<em>other-centered</em>” (berorientasi pada orang lain). Kadang dalam menjalankan kesibukan hidup, baik untuk mencari nafkah, dll… kita sibuk berjuang untuk keluarga kita sendiri, dan melupakan keluarga besar kita. Bahkan mungkin ada yang melupakan atau mengabaikan orangtua sendiri. Hmmmm, khususnya bagi teman-teman yang sedang merantau di luar negeri. Ini saat yang baik bagi kita untuk berhenti dan berpikir sejenak.</p>
<p><strong>“Mbalik’ no”</strong></p>
<p>Anda mungkin bingung dengan <em>sub heading </em>di atas. Apa sih artinya “mbalik’ no”. Maksudnya adalah “mengembalikan hak milik saudara lain.” Luar biasa prinsip ekonomi Tuhan yah. Saya bukan orang ekonomi, tidak mengerti tentang ekonomi. Namun, yang saya mengerti dari ayat ini adalah bahwa Tuhan menjaga supaya orang kaya tidak terus bertambah kaya sementara orang miskin tidak terus bertambah miskin. Salah satunya adalah pada tahun ke-50, tanah yang pernah dibeli pada tahun sebelumnya, harus dikembalikan kepada pemilik yang sebenarnya. Dengan kata lain, Tuhan ingin mengatakan bahwa tanah Kanaan, tanah perjanjian adalah MILIK Tuhan, bukan milik orang kaya. Nah, mungkin dalam rangka ulang tahun ke-50, kita perlu juga memikirkan: apakah ada milik orang lain yang saat ini ada pada kita yang terlalu berlebih, sementara the pemilik aslinya sedang membutuhkan? Atau adakah barang/properti yang ada pada kita yang kita dapatkan secara tidak halal? Tahun pembebasan bukan hanya pembebasan hak milik, tapi juga pembebasan hati. <em>Well</em>…. Artinya dalam hal ini tidak perlu menunggu ulang tahun ke-50 kali yah…kelamaan numpukin hak milik menjadi dosa.</p>
<p><strong>Membebaskan </strong></p>
<p>Zaman kita memang sudah tidak ada budak, sehingga mungkin terasa tidak begitu relevan perintah untuk membebaskan budak. Apalagi Saudara yang tinggal di Amerika, pembantu pun kita tidak punya. Namun, prinsipnya adalah apakah kita mempunyai sikap “memperbudak” orang lain, mungkin terhadap bawahan, rekan kerja, saudara yang lebih muda/tdk mampu, atau malah terhadap orangtua yang selama ini membantu kita, atau malah terhadap pasangan hidup? <em>Give them a break, will you</em>? Kadang kita merasa tidak mau rugi kalau pembantu/supir nganggur, bahkan tidak memberi mereka istirahat sama sekali. Tuhan mengizinkan adanya relasi tuan-hamba (Ephesus), tapi Tuhan tidak mengizinkan umat-Nya memperhamba orang lain seumur hidup. Saya senang sekali para pembantu dan supir kami bekerja di tempat kami pada masa-masa tertentu, dan ketika mereka berhenti, kami pun senang, karena mereka bisa memulai kehidupan yang baru dengan usaha dan karir lebih baik, keluarga lebih baik, dan kehidupan lebih bebas dan leluasa. Saya anggap, ketika mereka bekerja pada kami, itu adalah masa “menabung” dan masa <em>“training.” </em>Pada saatnya mereka berhenti bekerja, mereka tidak lagi sama seperti dulu. Mereka sudah bisa membuka usaha sendiri, mempunyai keluarga sendiri, dan menjadi masyarakat Indonesia yang lebih baik…<em>sukur-sukur</em> kalau mereka keluar dengan membawa Injil.</p>
<p><strong> </strong><strong>Mempercayai diri pada Tuhan </strong></p>
<p>Ketika saya membaca bagian ini saya sungguh kagum. Saya tidak yakin bahwa suami saya menyadari ayat ini ketika dia memutuskan untuk pensiun dan mengambil tahub Sabat selama 2 tahun. Namun itulah yang kami alami. Menjelang usia ke-50 tahun, suami saya berhenti bekerja, sekolah di seminari…tidak menabur, tidak menuai. Namun, seperti Firman Tuhan katakan, <em>in every cicle of 7 years</em>, Tuhan memimpin kami untuk memasuki fase-fase ketaatan, mulai dari keputusan menikah, sekolah di San Diego untuk M.Div, memulai Sahabat Kristus, bertahan di Indocement waktu kerusuhan Mei, memulai Eunike, memulai Eureka, dan….. sekolah di seminary. Dua tahun kami lalui tanpa penghasilan, tapi Tuhan selalu mencukupkan karena <em>cycle </em>terakhir yang Tuhan berkati mampu membuat kami bertahan “cukup” baik untuk kami sendiri maupun untuk Eunike (termasuk memberkati teman-teman di Eunike).</p>
<p>Semalam, ketika kami merenungkan bagian ini, Tadeus bercerita: “mama, kami diskusikan di sekolah bahwa persembahan harus dilakukan dengan iman, karena jika kita punya pas-pasan, kita harus percaya Tuhan mencukupkan dengan 90% yang ada pada kita.” Betul sekali, begitu juga dengan tahun Sabat  harus dilakukan dengan iman. Dan Tuhan sudah membuktikan dalam hidup kami, tanpa kami sadari ketika melaluinya.</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/half-time-separuh-usia-menjelang-50/">Half-Time (separuh usia menjelang 50-an)</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aroma</title>
		<link>https://eunikefamily.org/aroma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2016 07:51:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Aroma]]></category>
		<category><![CDATA[busuk]]></category>
		<category><![CDATA[harum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1841</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum  dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa” (2 Korintus 2:15, TB) Kata kunci : Aroma Kemarin ketika sedang beribadah di gereja, di tengah-tengah saat mendengarkan kotbah, anak bungsu saya berbisik pada saya: “ma, ada harum strawberry di sekitar ini.” Ketika saya &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/aroma/">Aroma</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="irc_mi imZe45KjjEXU-pQOPx8XEepE" src="http://img.gawkerassets.com/img/18n2xdr9o8rfljpg/original.jpg" alt="" width="698" height="393" /></p>
<p>“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum<sup> </sup> dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa” (2 Korintus 2:15, TB)</p>
<p>Kata kunci : Aroma<span id="more-1841"></span></p>
<p>Kemarin ketika sedang beribadah di gereja, di tengah-tengah saat mendengarkan kotbah, anak bungsu saya berbisik pada saya: “ma, ada harum <em>strawberry</em> di sekitar ini.” Ketika saya mulai fokus kepada aroma itu, mendadak terbayang <em>pie strawberry</em> di kepala saya. Betapa hebatnya kekuatan aroma untuk mendatangkan gambar di dalam memori kita. Fungsi otak kita berhubungan satu dengan yang lain, luar biasa ciptaan Tuhan.</p>
<p>Baik Imamat 1:1-17, maupun Bilangan 29:2, juga 2 Korintus 2:15, berbicara tentang aroma korban bakaran. Dalam perjanjian lama, aroma harum yang dinikmati Tuhan dari korban persembahan binatang merupakan gambaran korban hidup. Paulus menggambarkan persembahan diri kita sebagai korban yang harum di hadapan Tuhan.</p>
<p>Rekan saya, Pdt. Tommy Elim sering memakai istilah “nuansa” di dalam kotbahnya. Suami saya sering memakai istilah “chemistry” di dalam menjelaskan kesamaan pola pribadi. Sesungguhnya yang mau digambarkan oleh kedua orang ini adalah bahwa setiap pribadi mempunyai pola karakteristik. Semakin orang mengenal kita, mereka dapat melihat lebih jelas pola (<em>pattern)</em> kepribadian kita. Seperti sebuah parfum yang mempunyai komposisi bahan kimia tertentu, demikian juga setiap kita mempunyai komposisi karakter yang memancarkan pola aroma tertentu.</p>
<p>Mari kita coba “test” daya cium kita. Jika Anda membaca nama di bawah ini, aroma apa yang Anda cium dari pola karakteristik orang tersebut, aroma yang harum ataukah aroma yang busuk?:</p>
<ul>
<li>Nelson Mandela</li>
<li>Mother Teresa</li>
<li>Mohammad Ali</li>
<li>Hitler</li>
<li>Jokowi</li>
<li>Ahok</li>
<li>Obama</li>
<li>Herodes</li>
<li>Yudas</li>
<li>Justin Biber</li>
<li>Rasul Petrus</li>
<li>Yesus Kristus</li>
</ul>
<p>Mengapa Anda kategorikan orang tersebut beraroma harum atau busuk? Mau tidak mau kita mengkategorikan berdasarkan isi hati yang terpancar melalui keputusan dan perbuatannya, bukan?</p>
<p>Pertanyaannya sekarang: apakah “nuansa” atau “aroma” yang Anda pancarkan melalui keputusan dan tindakan Anda? Apakah komposisi “chemistry” karakter Anda? Apakah ketika orang semakin mengenal Anda lebih dalam, orang dalam mencium “harum Kristus”, komposisi karakter Kristus dalam karakter Anda?</p>
<p>Jadi…, seperti saya tidak bisa mencium sendiri bau badan saya, orang lain lah yang dapat mengatakan hal yang sebenarnya apa yang mereka cium dan mereka lihat. Namun yang terlebih penting adalah, apakah kita dengan sengaja, tiap hari, tiap pagi, mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan bakaran yang hidup, yang harum di hadapan Tuhan. Jika hari ini Anda belum datang ke altar Tuhan untuk menyampaikan korban persembahan hidup Anda. Datanglah sekarang……sebelum bau busuk kita menghancurkan diri kita sendiri. Yuk! Ambil waktu 1 menit untuk menutup mata dan mencoba mencium bau badan kita sendiri, maksud saya bukan harafiah, tapi aroma kehidupan.</p>
<p><strong><u>Permainan dengan anak:</u></strong></p>
<p>Siapkan beberapa kotak yang tidak tembus pandang, namun mempunyai lobang yang cukup untuk mengeluarkan aroma isi kotak tersebut. Masukan beberapa benda berbau ke dalamnya, misalnya: parfum, duren, udang, terasi, strawberry, mangga, kopi, coklat, dll. (yang cukup familiar bagi anak Anda). Ajak anak Anda menebak.</p>
<p><strong><u>Permainan di persekutuan kantor:</u></strong></p>
<p>Ganti benda-benda tersebut dengan benda beraroma yang ada di kantor misalnya: parfum dengan merk-merk yang familiar bagi mereka, bisa selipkan minyak kayu putih (parfum saya, hehehe).</p>
<p>Tutup dengan pesan bahwa hidup kita pun memancarkan aroma. Apakah aroma Kristus yang kita sebarkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/aroma/">Aroma</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebih Buruk dari Setan?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2016 07:30:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Buruk]]></category>
		<category><![CDATA[Lebih buruk dari setan?]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1854</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matius 8:23-34 (32a) Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Pergilah!&#8221; Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Kata kunci: Perintah yang berpengaruh (Powerfull Instruction) Waktu saya merenungkan kalimat Tuhan Yesus kepada setan, lho …. luar biasa yah. Tuhan Yesus hanya bilang “Pergilah”, setan menurut dan pergi. Saya bandingkan dengan kita (makhluk lemot-lemah otak). Berapa kali &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/">Lebih Buruk dari Setan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="" src="http://g01.a.alicdn.com/kf/HTB1iXFiIXXXXXcyXpXXq6xXFXXXz/2016-Hot-sale-high-quanlity-New-red-font-b-devil-b-font-children-unisex-halloween-font.jpg" width="423" height="423"></p>
<p>Matius 8:23-34</p>
<p>(32a) Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Pergilah!&#8221; Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu.<span id="more-1854"></span></p>
<p>Kata kunci: Perintah yang berpengaruh (<em>Powerfull Instruction</em>)</p>
<p>Waktu saya merenungkan kalimat Tuhan Yesus kepada setan, <em>lho</em> …. luar biasa yah. Tuhan Yesus hanya bilang “Pergilah”, setan menurut dan pergi. Saya bandingkan dengan kita (makhluk <em>lemot</em>-lemah otak). Berapa kali Tuhan bilang: “Pergilah”, kita <em>celingak-celinguk</em> dan masih nanya lagi: “ngapain, Tuhan?” Berapa kali Tuhan bilang: “Pergilah”, terus kita masih bertanya: “beneran??? Serius???” Nah itulah sebabnya saya bilang…manusia itu <em>the crown of creature</em>, punya banyak freedom, punya banyak hak…. Tapi juga satu pihak “lemot” banget.</p>
<p>Pertanyaan saya adalah apakah “ketidaktaatan” manusia menunjukan kelemahan kuasa instruksi Tuhan??? Apakah Tuhan tidak berdaya dengan ketidaktaatan kita? Bukankah Dia juga bisa memperlakukan kita seperti setan-setan itu… sekali suruh…blass…. Gak bisa gak harus nurut. Tetapi kemudian saya jadi teringat bagaimana instruksi kita bekerja bagi pembantu dan anak. Ketika kita menyuruh pembantu, maka mereka tidak bisa tidak menurut. Tapi anak??? <em>Ampyun</em>…. Sampai berbusa aja <em>kok</em> susah <em>banget</em> disuruhnya??? Mengapa? Apakah kekuatan perintah kita lebih lemah dari ketidaktaatan mereka? Karena status “anak”, maka “anak” mempunyai kebebasan dan hak yang berbeda dengan pembantu.</p>
<p>Manusia adalah ciptaan yang khusus, dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Manusia diberi kebebasan memilih yang dapat berakibat sangat baik atau sangat buruk. Tinggal bagaimana kita memakainya. Orang-orang di Gadara yang sudah ditolong dari kuasa iblis, mereka malah minta Tuhan Yesus pergi meninggalkan mereka. Mereka tidak bersedia Kristus masuk ke dalam batasan pribadi (<em>boundary privacy</em>) mereka, walaupun sebenarnya itu adalah pilihan yang salah.</p>
<p>Pertanyaan kedua: apakah dengan kebebasan kita, kita pun memilih untuk menjaga Kristus untuk tidak masuk dalam batasan pribadi kita? Sadarkah kita bahwa Kristus punya perintah yang sangat berkuasa.</p>
<p>Sebaliknya, apakah Saudara saat ini sedang mengalami “the powerful instruction” dimana Anda merasa<em> I can not resist but obey Him (tidak dapat menolak perintah Allah)?</em></p>
<p><strong><u>Diskusi dengan anak: </u></strong></p>
<p>Bicarakan tentang perbedaan perintah papa mama terhadap mereka dan terhadap pembantu/staff. Apa akibatnya kalau pembantu/staff tidak taat, apa akibatnya kalau anak tidak taat. Mengapa ada perbedaan itu? Diskusikan, apakah iblis bisa tidak taat ketika Tuhan berkata “Pergilah”?</p>
<p><strong><u>Diskusi jenjang lanjutan: </u></strong></p>
<p>Apakah artinya Tuhan Yesus bisa diajak negosiasi oleh iblis? Apakah justru artinya Tuhan Yesus mengikuti permintaan iblis? Apa yang Matius mau sampaikan melalui kisah ini?</p>
<p><strong><u>Permainan dengan anak</u></strong>:</p>
<p>List kepemilikan pribadi/<em>privacy</em> (hal-hal yang anak-anak anggap tidak boleh ada yang tau).</p>
<ol>
<li>Berikan anak-anak selembar kertas,</li>
<li>Buat lingkaran yang besar,</li>
<li>Minta anak-anak menulis/menggambar simbol dari <em>privacy</em> Kemudian tuliskan di luar lingkaran, orang-orang yang kadang mau masuk menembus <em>privacy</em> itu. Kalau ada yang sudah masuk, tulis nama mereka di dalam lingkaran.</li>
<li>Setelah itu diskusikan, apakah ada iblis di dalam lingkaran itu? apakah ada Tuhan?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/">Lebih Buruk dari Setan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidup  yang Tidak Seimbang</title>
		<link>https://eunikefamily.org/hidup-yang-tidak-seimbang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 May 2016 12:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[The Inspired Leader]]></category>
		<category><![CDATA[keseimbangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[life priority]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen waktu]]></category>
		<category><![CDATA[over commitment]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas hidup]]></category>
		<category><![CDATA[time management]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1821</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada saat-saat saya alami “over-commitment” dimana saya buat appointment dan meeting yang berbenturan dengan satu acara lainnya, atau saya harus mengabaikan janji-janji kepada anak saya disebabkan ada acara lain yang saya harus hadiri.  Ada juga waktu-waktu dalam hidup dimana saya terlalu sibuk dan terburu-buru, sehingga saya harus “skip” atau melewatkan waktu keluarga, waktu istirahat, waktu &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/hidup-yang-tidak-seimbang/">Hidup  yang Tidak Seimbang</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1823" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2016/05/work-life-balance-524x274.jpg" alt="work life balance" width="524" height="274" /></p>
<p>Ada saat-saat saya alami “over-commitment” dimana saya buat appointment dan meeting yang berbenturan dengan satu acara lainnya, atau saya harus mengabaikan janji-janji kepada anak saya disebabkan ada acara lain yang saya harus hadiri.  Ada juga waktu-waktu dalam hidup dimana saya terlalu sibuk dan terburu-buru, sehingga saya harus “skip” atau melewatkan waktu keluarga, waktu istirahat, waktu teduh atau bahkan waktu ber-ibadah!</p>
<p><span id="more-1821"></span> Biasanya sewaktu saya terlalu sibuk seperti itu akan berakhir dengan saya harus terbaring karena sakit kelelahan.  Atau ada juga pengalaman dimana saya sudah tidak sempat lagi memikirkan untuk satu-dua hal yang penting untuk diambil keputusan dalam hidup berkeluarga maupun dalam pekerjaan, akan tetapi oleh karena deadline dan keputusan sudah harus diambil, akhirnya  saya memutuskannya berdasarkan apa yang orang lain lakukan (“follow the crowd”) tanpa memikirkannya  dengan baik. <strong><em>Sounds familiar bagi anda? </em></strong></p>
<p>Tiga hal tersebut bagi saya adalah suatu alarm atau tanda-tanda dalam hidup dimana saya sudah tidak seimbang lagi dalam menata hidup, yaitu saat dimana saya mengalami: 1) Over-commitment atau Under-commitment; 2) Terlalu sibuk dan serba terburu-buru; 3) Follow the crowd atau ikut-ikutan saja dalam membuat suatu keputusan.  Ijinkan saya share apa yang saya alami melalui artikel ini.</p>
<p>Komitmen adalah suatu hal yang mahal dalam kehidupan seorang professional seperti saya.  Saya akan dihargai sewaktu memegang janji dan komitmen! Tetapi seringnya sebagai seorang ayah dan seorang suami, saya lupa menerapkan hal yang sama.  Pada waktu saya masih  muda sampai dengan 35an, saya  sering gampang saja mengalahkan waktu main bersama anak atau janji dengan istri oleh karena saya buat janji pada waktu yang sama di kantor ataupun dalam pelayanan.  Alasannya  adalah sangat simple yaitu saya merasa istri dan anak-anak harus mengerti karena kalau papa tidak buat tepat janji di kantor atau dalam pelayanan, nanti saya akan tidak dipercaya lagi oleh atasan atau rekan bisnis, maupun oleh rekan sepelayanan.</p>
<p>Sampai pada suatu hari, mentor saya, Pdt. Paul Gunadi PhD. menegor saya dengan cara bertanya suatu pertanyaan yang saya tidak pernah lupa.  Beliau bertanya: “Christian, pada saat kamu sedang sekarat dan hampir menghembuskan nafas terakhir kali, apakah atau siapakah yang kamu paling rindukan ada di sekelilingmu untuk terakhir kalinya? Apakah itu boss-mu? Atau rekan kerja atau rekan bisnismu ataupun rekan sepelayananmu? Atau kamu mau lihat surat tanah atau bilyet depositomu terakhir kalinya?  Tidak bukan….!!  Tetapi pasti kamu mau melihat dan berbicara atau berpesan kepada anak-anakmu dan istrimu yang tercinta!”  Dia lalu menyambung dengan suatu statement yang begitu menegur saya, “kalau memang istri dan anak-anakmu  merupakan pemberian Tuhan Allah yang sangat penting dalam hidupmu, kenapa engkau sering me-nomor-dua-kan mereka selagi engkau hidup dan sehat?!”</p>
<p>Saya tahu itulah keseimbangan pertama dalam hidup yang saya harus saya jaga sebagai professional Kristen yaitu seimbang dalam memberikan prioritas komitmen dan janji yang sama baik untuk keluarga, pekerjaan dan juga pelayanan.</p>
<p>Keseimbangan kedua yang juga penting adalah untuk mempunyai pembagian waktu yang seimbang di tengah-tengah tuntutan dari berbagai aspek hidup yang makin besar.  Sebagaimana Tuhan berfirman dalam Matius 25:21 &amp; 23 <strong><em>“Barangsiapa setia dalam perkara kecil akan dipercayakan tanggung jawab atas perkara yang lebih besar,”</em></strong> maka saya percaya setiap anak-anak Tuhan mengalami hal ini.  Saya juga mengalaminya, dimana Tuhan memberikan mulai dari bawah, saat saya bekerja di staff level di Indocement, sampai saya diberikan promosi dan tanggung jawab yang lebih besar dan lebih besar lagi dari tahun ke tahun, sampai di posisi saat ini.  Demikian pula di dalam pelayanan keluarga bersama istri tercinta, Anne dan teman-teman sepelayanan di Yayasan Eunike, kamipun mengalami dari merintis melalui bulletin keluarga EUNIKE sampai memulai dengan 5 keluarga dalam kelas bina Iman keluarga SAHABAT KRISTUS di Kelapa Gading sampai sekarang Tuhan percayakan lebih dari 150 keluarga yang bergabung di Bina Iman Keluarga tersebut.</p>
<p>Sebagaimana Efesus 2:10 katakan “Kita ini buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan yang baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau kita hidup didalamnya,” saya tahu persis apa yang saya peroleh semata-mata karena saya mau belajar “percaya dan taat” akan setiap langkah yang dibukakan Tuhan untuk bisa masuk langkah demi langkah dalam PEKERJAAN BAIK-NYA yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.  Oleh karena itu, saya tidak bisa merusaknya dengan tidak menatanya dengan baik-baik.  Saya tahu persis begitu saya jatuh oleh satu dan lain hal dalam dosa di tempat pekerjaan saya, maka saya akan merusak bagian-bagian lain dalam kehidupan pelayanan dan keluarga yang sudah Tuhan percayakan.</p>
<p>Ada satu saat dalam hidup saya, saat saya baru ditunjuk menjadi pimpinan No. 1 di perusahaan di medio tahun 2013, saya alami ketakutan untuk memimpin dan merasa tidak mampu atas tanggung jawab untuk perkara yang menurut saya terlalu besar.  Lalu saya terbangun di suatu subuh, dan saya langsung sujud berdoa kepada Tuhan mengatakan “Tuhan, saya tidak sanggup rasanya!”  Tetapi, lagi-lagi Tuhan begitu baik untuk saya.  Melalui waktu teduh saya pagi itu, Tuhan menjawab langsung dengan FirmanNya demikian dalam Mazmur 32:8 “<em>Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan  yang harus kautempuh; Aku hendak memberikan nasehat, mataKu tertuju kepadamu.</em>”  Wah saya terhibur sekali untuk jawaban langsung Tuhan.  Apalagi saat saya baca ayat 10nya “<em>Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada Tuhan, dikelilingiNya dengan kasih setia</em>.”</p>
<p>Itulah yang saya rasa terpenting bagi setiap anak-anak Tuhan yang diberi tanggung jawab besar dan lebih besar lagi dari waktu ke waktu yaitu “antenna” yang terus terpasang dan tune-in dengan Tuhan melalui FirmanNya.  Saya tahu ada saat-saat tertentu dalam hidup pekerjaan telah menyita begitu banyak perhatian dan waktu saya, firmanNya melalui saat teduh ataupun mimbar gereja telah mengingatkan saya untuk menatanya lebih baik.   Saya juga alami ada saat dimana saya sebagai pemimpin dalam Pelayanan maupun dalam Bisnis telah melemah dan kehilangan arah, saya harus segera ambil waktu untuk retreat 1-2 hari atau berlibur untuk bisa mendapatkan “alignment” atau arah yang lebih baik saat saya membaca buku-buku “self development  atau leadership” maupun saat saya berdoa dan bisa mendengar suaraNya atau teguranNya.</p>
<p>Bill Hybels menuliskan dalam bukunya “HOLY DISCONTENT” bahwa setiap anak Tuhan itu harusnya mempunyai <strong><em>Popeye Movement</em></strong> dalam hidupnya.  Tokoh kartun terkenal, Popeye akan menjadi semangat lagi dan langsung berapi-api siap bertempur melawan siapa saja, saat dia mendengar ada rintihan dari OLIVE kekasihnya “Popeye, help me… help me.”  Sebagai pemimpin, saya harus tetap mempunyai api itu dalam memimpin dan memberikan arah baik di perusahaan maupun di pelayanan.  Dalam pelayanan, saya memperoleh Popeye movement, saat saya melihat para suami dan istri kembali menyatakan cinta kasihnya, saling berpelukan dan menatap dengan api cinta mula-mulanya dalam pelayanan Marriage Encounter; atau saat saya bisa melihat istri saya, Ev. Anne, memanggil para anak-anak untuk menerima Kristus sewaktu ada pelayanan Panggung Boneka ataupun KKR Anak; atau sewaktu hati para Ayah-ayah kembali berbalik kepada anak-anaknya dengan mau bermain bersama dan menyemangati anak-anaknya dalam kamp Father &amp; Son.  Apakah anda juga terus bisa menemukan POPEYE MOVEMENT dalam hidup pelayanan saudara saat ini? Atau api itu telah padam dan gelap gulita sehingga pelayanan anda sudah kehilangan arah dan semangat tersebut?</p>
<p>Terakhir, saya mau sharingkan pentingnya untuk hidup tidak sekedar ikut arus atau follow the crowd saja.  Saya harus mengakui bahwa hidup di kota besar seperti Jakarta akan membuat suatu tekanan dan arus gelombang yang besar dari komunitas keluarga ataupun masyarakat untuk hidup menjadi “sama” dengan mereka.  Seolah-olah ada suatu indikator yang dipakai masyarakat untuk mengukur tingkat keberhasilan seseorang melalui jabatannya, mobil apa yang dikendarai, olah-raga apa yang dilakukan, liburan kemana, ataupun baju dan tas apa yang dipakai dan hal-hal materi lain yang diukurkan.  Hal tersebut telah menekan banyak pelayan Tuhan, maupun kaum awam untuk hidup mengejar ukuran-ukuran tersebut supaya tidak diremehkan oleh orang.   Akibatnya banyak yang bekerja ngoyo sampai larut malam bahkan sampai pagi dan tidak seimbang lagi.  Maka tidak ada waktu yang cukup untuk membacar meningkatkan pengetahuan atau self-development sebagai seorang leader; tidak ada waktu yang teduh lagi untuk berdoa dan membaca Alkitab;  tidak ada waktu lagi untuk menanamkan nilai-nilai penting bagi anak-anaknya;  dan tidak ada waktu “dating” lagi untuk memelihara hubungan cinta-kasih dengan pasangannya.</p>
<p>Saat keseimbangan ke-3 ini tidak dijaga dengan baik, maka banyak hidup dari para professional dan juga hamba Tuhan akan menjadi rusak.  Perselingkuhan terjadi …. Kekerasan dan ketidak-setiaan dalam rumah tangga… maupun anak-anak yang akhirnya merasa tidak diperlakukan fair oleh orang tua Kristen-nya, sehingga mereka akhirnya dengan gampang mengambil keputusan untuk meninggalkan Tuhan saat mereka memasuki umur dewasa atau saat mereka masuk ke Universitas.</p>
<p>Saya mengakui bahwa sayapun bukannya selalu sukses melawan arus yang kuat tersebut.   Saya harus berjuang keras menata  kesimbangan hidup yang Tuhan percayakan agar saya tidak larut dengan dunia materialistis ini.  Saya tahu akibatnya ada waktu-waktu saya harus mengatakan “Tidak atau maaf, saya tidak bisa melakukannya.”   Salah satunya saya memutuskan untuk tidak main golf, karena saya tahu apabila saya lakukan akan banyak menyita week-end saya yang saya pakai untuk melayani dan untuk bermain basket atau berenang dengan keluarga.  Saya juga coba membatasi kesempatan melayani sesi-sesi tentang Parenting ataupun Keluarga di gereja-gereja dengan menerima pelayanan 2x sebulan saja.  Saya juga meminta istri dan anak-anak mempunyai waktu keluarga bersama yang dikosongkan agar kita bisa punya waktu bertumbuh dan sharing bersama.  Sulit memang…. Tetapi harus dikerjakan!</p>
<p>Itulah hidup kita yang harus diperjuangkan untuk bisa menjaga keseimbangan dalam hidup yang dipercayakan dan dalam tugas yang dibebankan  oleh Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhanlah yang merancang dan mempersiapkannya untuk saya dan anda jalani.  Bersyukurlah ada mata Tuhan yang selalu tertuju kepada anda dan saya sehingga tetap ada arah, teguran, semangat dan penghiburan dari Tuhan Allah kita!</p>
<p>Selamat berjuang.</p>
<p>Oleh: Christian Kartawijaya</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/hidup-yang-tidak-seimbang/">Hidup  yang Tidak Seimbang</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2016 04:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1789</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1791" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2016/04/TeenAnger-524x205.png" alt="TeenAnger" width="524" height="205" /></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-1789"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.”</p>
<p>Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?</p>
<p>Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?</p>
<p>Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian.” Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman.Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.  Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>(Bahan ini sudah menjadi dasar kegiatan permainan dalam KTB Interaktif Remaja dan orangtua remaja di BIK Sahabat Kristus, Kelapa Gading, Jakarta, 10 April 2015)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Obat Anti-Lesu</title>
		<link>https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2015 12:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[anti lesu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat anti lesu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1587</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221; Imamat 6:13 Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-1590" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg" alt="13806772_s" width="450" height="300" /></a></p>
<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221;</p>
<p>Imamat 6:13<span id="more-1587"></span></p>
<p>Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda gelisah?</p>
<p>Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menjaga api mezbah pribadi dan keluarga kita untuk tetap menyala. Dengan kata lain, kehangatan relasi dengan Tuhan membutuhkan komitmen dari setiap individu. Dengan zaman yang serba otomatis, kita tidak bisa mengharapkan keintiman relasi dengan Tuhan dan anggota keluarga juga bisa terjadi secara otomatis.</p>
<p>Sejak awal mula Tuhan menciptakan dunia, Tuhan mengizinkan “tukang tiup” berkeliaran di sekeliling kita. Ketaatan Hawa “ditiup” oleh si iblis, kepemimpinan Adam “ditiup” oleh si jahat dengan menggunakan “ si penolong yang sepadan”; kasih sayang kakak beradik Kain dan Habel “ditiup” dengan menggunakan perasaan iri hati.</p>
<p>Sadarkah kita bahwa disekitar kita si iblis sedang “meniup-niup” api mezbah pribadi dan keluarga kita? Saat ini mungkin dengan cara yang berbeda: kesibukan membersihkan rumah di kala “balada lebaran” melanda rumah tangga yang kehilangan pembantu rumah tangga; kesibukan perjalanan tour bagi yang sedang berlibur; link2 facebook yang lebih menarik untuk dibaca daripada Alkitab; chatting whatsapp dan bb messenger yang menggantikan saat teduh pagi; atau kekhawatiran karena “kasus Yunani” dan ancaman krisis ekonomi?</p>
<p>Bagaimana kita menghidupkan kembali bara api mezbah yang sudah redup dan dingin? Paulus mengingatkan Timotius untuk “mengobarkan” (Fan into flame) karunia Allah. Karunia Allah yang begitu besar adalah Injil itu sendiri. Pengabaran Injil sesungguhnya tidak mengenal “liburan”. Pada zaman dahulu, iklan sebuah minuman soda memiliki slogan “dimana saja kapan saja…” Ini pula yang harus menjadi slogan kita. “Dimana saja dan kapan saja, beritakanlah Firman.” Pada saat percikan api itu kita sampaikan kepada orang lain, maka bara itu mulai menyala lebih besar.</p>
<p>Anda dapat memulai memercikan api itu melalui hal sederhana: bacalah satu ayat dalam Alkitab, renungkan dan katakan pada Tuhan apa yang anda pikirkan setelah membaca ayat tersebut. Kemudian, mulailah “kipasan” awal untuk membuat api itu mulai berkobar. Misalnya, “share” renungan melalui media sosial; menyapa orang yang duduk di sebelah anda di terminal atau airport; membayarkan mobil di belakang anda di jalan tol sambil menitipkan kartu sapaan dari perenungan anda hari ini; menuliskan email dan menceritakan perjalanan iman anda pada sahabat2 anda; mendoakan pembantu atau supir yang mudik; menyanyikan lagu rohani sambil membersihkan rumah; menceritakan kepada anak dan pasangan tentang apa yang anda renungkan hari ini; dan masih banyak seribu cara sederhana untuk memulai “kipasan” pertama untuk menyalakan kembali api mezbah pribadi dan keluarga anda.</p>
<p>“Selamat mengobarkan kembali api mezbah anda hari ini.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
