<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anak Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<atom:link href="https://eunikefamily.org/category/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eunikefamily.org/category/anak/</link>
	<description>Eunike Family</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Dec 2018 17:42:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2023/10/cropped-LOGO-EUNIKE-2023-1-32x32.png</url>
	<title>Anak Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<link>https://eunikefamily.org/category/anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2017 08:20:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2041</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2043" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-2-524x350.jpg" alt="" width="524" height="350"></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-2041"></span></p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.” Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?&nbsp;Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?&nbsp;Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian”. Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman. Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.&nbsp; Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong>&nbsp;</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2016 04:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1789</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1791" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2016/04/TeenAnger-524x205.png" alt="TeenAnger" width="524" height="205" /></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-1789"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.”</p>
<p>Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?</p>
<p>Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?</p>
<p>Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian.” Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman.Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.  Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>(Bahan ini sudah menjadi dasar kegiatan permainan dalam KTB Interaktif Remaja dan orangtua remaja di BIK Sahabat Kristus, Kelapa Gading, Jakarta, 10 April 2015)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diet Perilaku</title>
		<link>https://eunikefamily.org/diet-perilaku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2015 12:30:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[diet perilaku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1574</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” 2 Korintus 3:18 Kata Kunci: Diet Perilaku Imamat 11:1-12 adalah bagian Alkitab yang seringkali cenderung kita lewatkan. Isinya berkaitan dengan diet makanan. &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/diet-perilaku/">Diet Perilaku</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/childrens_ministry_blog_strengths_based_image.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1575" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/childrens_ministry_blog_strengths_based_image-524x274.jpg" alt="childrens_ministry_blog_strengths_based_image" width="524" height="274" /></a></p>
<p><em>“</em><em>Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” <strong>2 Korintus 3:18</strong></em><span id="more-1574"></span></p>
<p><em>Kata Kunci: Diet Perilaku<br />
</em></p>
<p>Imamat 11:1-12 adalah bagian Alkitab yang seringkali cenderung kita lewatkan. Isinya berkaitan dengan diet makanan. Hm…. Saya baru saja masak babi… perikop ini jadi tidak menarik. Tapi sebenarnya ada hal penting di balik perikop ini, yaitu: <strong>Perhatian Tuhan terhadap identitas umat-Nya</strong>. Begitu besar keinginan-Nya untuk membuat kita mempunyai identitas yang berbeda, sehingga Dia mengatur hidup kita sampai begitu detail…. Sampai kepada makanan.</p>
<p>Setelah Kristus datang dan Roh Kudus diberikan kepada kita, hal-hal ibadah lahiriah sudah tidak lagi menjadi hal yang terpenting. Lebih penting dari semuanya adalah meneladani pola hidup Kristus dan mentaati pimpinan Roh Kudus.</p>
<p>Yang Tuhan harapkan pada kita adalah: diet perilaku. Imamat 11 tetap memberikan prinsip bahwa umat Tuhan harus berbeda gaya hidupnya. Kadang hal yang wajar bagi orang dunia sebaiknya dihindari oleh umat Tuhan.</p>
<p>2 Korintus 3:18 mengungkapkan suatu keindahan: bahwa proses transformasi anak-anak Tuhan adalah menuju kepada kemuliaan yang semakin hari semakin nyata (ada pertumbuhan). Kemuliaan itu akan terus disempurnakan.</p>
<p>Dr. Oz selalu menampilkan keberhasilan diet para wanita yang dari gemuk menjadi langsing. Betapa bangganya kita ketika berhasil melakukan diet fisik, tubuh terasa sehat, wajah terasa cantik, dan kita menjadi lebih percaya diri. Tuhan menginginkan kita diet lebih dari pada itu: diet perilaku.</p>
<p>Janjinya adalah bukan percaya diri, tapi KEMULIAAN, sesuatu yang tidak dimakan karat atau ngengat. Sesuatu yang tidak hancur setelah kematian tubuh. Karena tujuan hidup kita adalah menampilkan “image” Kristus dan bukan “image” diri kita sendiri.</p>
<p>Pertanyaan refleksi:</p>
<p>Apakah ada kebiasaan atau perilaku yang masih melekat dalam identitas kita, yang menggerogoti “image” Kristus. Kebiasaan dan perilaku yang bagaimana yang memuliakan Kristus dan mau kita pelihara dan membiarkannya bertumbuh?</p>
<p>Pertanyaan refleksi dengan anak:</p>
<ol>
<li>Apa yang membedakan keluarga Kristen dan keluarga yang tidak percaya Tuhan?</li>
<li>Bagaimana perbedaan upacara kematian keluarga yang berduka di rumah duka?</li>
<li>Bagaimana perbedaan reaksi mereka terhadap kematian, terhadap bencana?</li>
<li>Apa yang membedakan kamu dengan teman2 di sekolah yang tidak percaya Tuhan? a. Iman – apa perbedaan kalian ketika menghadapi situasi sulit? Ketika ada tornado/banjir/situasi sulit lain? Apakah kamu panic, takut, atau beriman?</li>
<li>Pengharapan – apa perbedaan kalian ketika menghadapi ujian/test yang sulit?</li>
<li>Kasih – apa perbedaan sikap kamu terhadap teman yang membutuhkan pertolongan dan perhatian? Sikap terhadap teman yang tidak disukai dan disingkirkan yang lain karena masalah ras, disability, dll.?</li>
</ol>
<p>Kesimpulan: Karena kamu sudah percaya Tuhan, Roh Kudus sudah ada di dalam dirimu, peliharalah identitas yang memancarkan iman, pengharapan dan kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/diet-perilaku/">Diet Perilaku</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Ampuuuun, Anakku Susah Makan!”</title>
		<link>https://eunikefamily.org/ampuuuun-anakku-susah-makan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2015 13:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Ampuuuun Anakku Susah Makan!]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1556</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengasuhan dan Pendidikan Anak 2 Tahun (Bagaimana Menghadapi Anak 2 Tahun yang Susah Makan) Ketika Roni pulang dari kantor, dia menemukan istrinya sedang menangis di sofa, di sekelilingnya mainan berserakan dan tumpahan makanan ada dimana-mana, dan Charis, anaknya yang berusia 2 tahun sedang asyik memainkan tumpahan makanan. Roni segera mendekati istrinya dan memeluknya. Di dalam &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/ampuuuun-anakku-susah-makan/">“Ampuuuun, Anakku Susah Makan!”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/07/Screenshot_12.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1557" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/07/Screenshot_12-524x367.jpg" alt="Screenshot_12" width="524" height="367" /></a></p>
<p>Pengasuhan dan Pendidikan Anak 2 Tahun (Bagaimana Menghadapi Anak 2 Tahun yang Susah Makan)</p>
<p>Ketika Roni pulang dari kantor, dia menemukan istrinya sedang menangis di sofa, di sekelilingnya mainan berserakan dan tumpahan makanan ada dimana-mana, dan Charis, anaknya yang berusia 2 tahun sedang asyik memainkan tumpahan makanan. Roni segera mendekati istrinya dan memeluknya. Di dalam pelukannya, Stela menangis lebih keras lagi. Dengan hati berdebar-debar, Roni bertanya dalam hati: “ada masalah serius apakah?” Dengan berhati-hati Roni bertanya pada wanita muda yang baru 3 tahun lebih menjadi istrinya: “Tenangkan hatimu dan ceritakan pada saya apa yang sesungguhnya terjadi.” Sambil tersedu-sedu, Stela mulai bertutur, “aku sangat frustrasi, anak kita susah sekali makannya.” Roni agak bingung. Satu pihak dia tidak tega melihat wajah istrinya yang penuh air mata, di lain pihak ada gelitikan geli di hati mendengar alasannya yang terdengar…. SANGAT SEDERHANA.<span id="more-1556"></span></p>
<p>“Apa? Masalah anak susah makan adalah masalah sederhana????” Jutaan ibu-ibu yang mempunyai anak usia 2-3 tahun akan sangat marah mendengar kalimat ini. Bagaimana tidak?? Para ibu ini mengalami susah payahnya masak yang berakhir hanya dengan sekali semburan atau muntahan, semua jerih payahnya sia-sia. Setiap ibu dengan anak usia ini mempunyai suatu mimpi yang sangat diidam-idamkan: “semua masakan yang dimasaknya masuk ke dalam perut anaknya… dan tetap ada di sana.”</p>
<p>Memang masalah anak susah makan bukanlah hal yang sederhana, namun informasi dan tips dari <em>Focus on the Family </em>di bawah ini mungkin dapat menyederhanakan hiruk pikuk rumah tangga yang sudah sangat rumit bagi keluarga muda:</p>
<p><strong>Berilah makanan yang berkalori rendah. </strong>Anak Anda yang berumur dua tahun tidak membutuhkan banyak kalori untuk membuatnya tumbuh secara maksimal. Total kalori sejumlah 1200-1400 yang terbagi dalam tiga kali makan dan satu atau dua camilan sudah cukup per harinya. Anda tidak perlu repot-repot menghitung makanan dengan jumlah kandungan kalori di dalamnya kecuali jika anak Anda memiliki masalah dengan nutrisi tertentu atau anak Anda sudah didiagnosa dengan penyakit turunan seperti sakit kolesterol atau sakit jantung.</p>
<p>Yang terpenting sekarang bagi Anda adalah menyiapkan makanan bergizi untuk seisi rumah, termasuk anak Anda. Tugas Anda adalah menyiapkan makanan dan menyediakannya pada jam makan, dan anak Anda yang akan memutuskan berapa banyak porsi yang akan ia makan.</p>
<p>Salah satu aspek yang patut Anda perhatikan adalah jumlah susu yang anak Anda minum. Untuk anak umur dua tahun, mereka disarankan untuk minum susu sedikitnya 473 ml (16 ons) atau tidak lebih dari 946ml (32 ons) per harinya agar mereka mendapatkan Kalsium yang cukup untuk memaksimalkan pertumbuhan tulangnya tanpa menggangu selera makan mereka. Anak batita Anda membutuhkan sekiranya 500mg Kalsium setiap harinya; segelas susu sendiri sudah mengandung 300mg di dalamnya. Apabila anak Anda tidak suka atau tidak bisa minum susu, Anda harus menggantinya dengan makanan-makanan yang mengandung Kalsium tinggi seperti keju, <em>yoghurt</em>, sayur-sayuran hijau, atau jus jeruk yang mengandung Kalsium tinggi. Untuk jenis susu itu sendiri, Anda bebas memilih jenis susu apa saja (susu segar ataupun susu rendah lemak) yang keluarga Anda sukai. Untuk susu rendah lemak, kandungan lemak di dalamnya tidak mempengaruhi jumlah kalsium di dalam susu tersebut.</p>
<p><strong>Hindari makanan-makanan <em>junkfood </em>(jajanan yang tidak sehat dan tidak mengandung cukup nutrisi)<em>.</em> </strong>Pada tahun-tahun berikutnya, anak Anda akan mulai dikelilingi oleh jajan-jajanan yang mengandung lebih banyak gula, garam, dan lemak yang tidak sehat untuk mereka. Dengan adanya iklan-iklan di televisi dan <em>packaging</em> yang menarik, anak-anak akan lebih cenderung untuk memilih makanan-makanan tersebut. Untuk mencegah hal ini, perhatikan langkah berikut: Jangan turuti keinginan anak Anda apabila mereka merengek untuk membeli coklat, permen, atau minuman bersoda. Tetaplah sajikan makanan yang biasa Anda masak dan siapkan. Akan tetapi, janganlah menjadi orang yang terlalu ketat terhadap makanan sehingga setiap makanan haruslah yang organik, dari kebun sendiri, dan yang 100% bebas gula. Anak Anda tidak mungkin terhindar dari jajan-jajanan <em>junkfood. </em>Sewaktu-waktu memberikan anak Anda kentang goreng dalam jumlah sedikit atau membiarkan mereka makan kue tart di acara ulang tahun teman mereka, tidak akan membunuh mereka.</p>
<p><strong>Menjaga keamanan ketika anak makan sendiri. </strong>Pada tahap umur ini, anak Anda sudah akan lancar menggunakan sendok dan garpu, dan mungkin juga sudah dapat memegang gelas dengan satu tangan. Akan tetapi, masih ada kemungkinan bagi mereka untuk tersedak makanan-makanan berbahaya seperti biji-bijian, kacang, anggur, <em>popcorn</em>, seledri, dan permen-permen kecil. Untuk wortel dan susis<em>, </em>Anda harus memotongnya kecil-kecil untuk menghindari anak menjadi tersedak.</p>
<p><strong>Hindari konflik ketika jam makan. </strong>Satu hal tentang anak Anda dalam tahap umur ini, Anda tidak bisa memaksa mereka untuk memakan makanan mereka. Setelah beberapa bulan, Anda mungkin khawatir apabila anak Anda tidak makan dengan cukup, di sisi lain anak Anda tetap tidak mau makan apapun yang Anda sajikan di atas meja. Anak-anak dalam kelompok umur ini, mereka mungkin hanya bersemangat untuk makan sekali dalam sehari. Apabila mereka tidak makan banyak di siang hari, mereka akan makan lebih banyak ketika makan malam atau keesokkan harinya. Janganlah marahi anak atau paksa makan anak dengan hukuman atau bahkan dengan “suapan” hanya agar mereka mau makan, mereka hanya sedang tidak mau makan.</p>
<p>Jangan membuatkan anak Anda makanan yang khusus atau berbeda dari makanan yang orang lain makan di keluarga Anda. Anda hanya perlu memberi porsi yang sesuai untuk anak Anda, dan anak Anda akan memutuskan berapa banyak yang akan ia makan. Apabila anak Anda mulai merengek untuk memakan makanan lain, janganlah Anda langsung menuruti keinginannya. Apabila ia memaksa tidak mau makan makanan yang sudah disiapkan, berikan anak Anda waktu. Anak Anda tidak akan menjadi kelaparan.</p>
<p>Apabila Anda sangat khawatir mengenai gizi dan nutrisi anak Anda, tuliskanlah apa yang ia sudah makan selama beberapa hari lalu bawa daftar tersebut ke Dokter Anak Anda. Mengetahui tes pertumbuhan tinggi, berat badan, dan tes lainnya akan membuat Anda lebih tenang karena Anda tahu anak Anda masih mengalami pertumbuhan walaupun ia susah makan. Anak-anak yang benar-benar mengalami gangguan kesehatan akan lansung menunjukkan gejala-gejala lain seperti demam, diare, kelesuan, atau berat badan yang menurun. Anak-anak yang tetap aktif walaupun susah makan menandakan bahwa ia makan dengan cukup.</p>
<p>Semoga informasi dan tips dari <em>Focus on the Family </em>ini dapat membuat para ibu dapat tersenyum lebih cantik ketika suami pulang dari kantor.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Paul C. Reisser, <em>Baby and Child Care: From Pre-Birth through the Teen Years (Focus on The Family) </em>(Carol Stream, IL: Tyndale House, 2007), 299-301.</p>
<p>(informasi dan tips dari sumber sudah disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat dan kebudayaan Indonesia; nama yang dipakai dalam artikel ini adalah nama samaran).</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/ampuuuun-anakku-susah-makan/">“Ampuuuun, Anakku Susah Makan!”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gara-Gara Choki-Choki</title>
		<link>https://eunikefamily.org/gara-gara-choki-choki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2015 09:49:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Gara-gara choki-choki]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman menggembalakan hati anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1366</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengalaman Menggembalakan Hati Anak Di supermarket, Reni (usia 5 tahun) minta dibelikan Choki-choki. Reni berkata, “Sebungkus Choki-choki ini isinya ada empat. Nanti aku mau bagi, papa dapat satu, mama dapat satu, kakak dapat satu, lalu aku dapat satu.” Setibanya di rumah, Reni kemudian mengambil, membuka lalu segera memakan salah satu Choki-chokinya. Sambil makan ia berkata, &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gara-gara-choki-choki/">Gara-Gara Choki-Choki</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/03/Screenshot_8.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1367" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/03/Screenshot_8-524x392.jpg" alt="Screenshot_8" width="524" height="392" /></a></strong></p>
<p><em>Pengalaman Menggembalakan Hati Anak</em></p>
<p>Di supermarket, Reni (usia 5 tahun) minta dibelikan Choki-choki. Reni berkata, “Sebungkus Choki-choki ini isinya ada empat. Nanti aku mau bagi, papa dapat satu, mama dapat satu, kakak dapat satu, lalu aku dapat satu.”<span id="more-1366"></span></p>
<p>Setibanya di rumah, Reni kemudian mengambil, membuka lalu segera memakan salah satu Choki-chokinya. Sambil makan ia berkata, “Hmmmm, ini enak lho, Pa. Rasanya seperti susu.” Ia pun terus memakannya sampai habis. Setelah habis dengan tersipu-sipu ia berkata, “Sorry ya, aku gak jadi berbagi ah… Soalnya aku suka sih.”</p>
<p>Mendengar komentarnya, mamanya terpikir untuk mengingatkan Reni pada janjinya saat membeli Choki-choki tadi. “Reni, bukankah tadi kamu mau bagi satu-satu untuk kita semua?” Mendengar pertanyaan itu, dengan polosnya Reni bertanya kembali kepada kami semua, “Kakak mau?” Kakaknya mengangguk. Lalu, “Mama mau?” Dan Mama pun mengangguk. Saat menghampiri Papanya, dengan raut wajah was-was, ia bertanya, “Papa mau?” Tak disangka, respon Papa berbeda dari respon Mama dan kakaknya. Papa merangkul Reni, lalu mengambil sepotong Choki-choki dan berkata, “Ya Reni, Papa mau. Dan Papa mau berbagi separuh dengan Reni.” Akhirnya dengan mata yang berbinar-binar, Reni menikmati berbagi Choki-choki itu bersama Papanya.</p>
<p>Setelah dihabiskannya Choki-choki tadi, Reni memandangi dua Choki-choki yang masih tersisa dan berujar dengan suara pelan, “Mama, maaf yah, aku tidak mau berbagi tadi.”</p>
<p>Memang Choki-choki ini masalah sepele. Berapa sih harganya? Selain itu, bukankah tadi Reni sudah mau berbagi separuh Choki dengan Papanya?</p>
<p>Namun mengingat Papa-Mama sedang melatih hati dan bukan sekadar perilaku, maka Mama memakai momen sederhana ini untuk melatih hati Reni. Maka terjadilah percakapan sebagai berikut:</p>
<p>Mama: &#8220;Mengapa Reni tidak mau berbagi?”</p>
<p>Reni: “Karena Reni suka, Ma”</p>
<p>Mama: “Reni, berbagi itu indah lho.”</p>
<p>Reni menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Reni mau semua Choki-choki itu, Ma. Reni suka”</p>
<p>Mama: “Reni, Tuhan Yesus pernah bertemu dengan anak seperti kamu. Ketika anak itu sangat lapar dan ia mau memakan bekalnya, ia melihat orang-orang lain yang juga sedang lapar. Lalu ia mau memberikan bekalnya kepada Tuhan Yesus, supaya bekal itu bisa dibagi-bagikan untuk orang lain. Anak itu tidak menikmati sendiri apa yang ia punya.”</p>
<p>Tanpa diduga, Reni pun menangis.</p>
<p>Mama kembali berkata, “Reni, Mama ingin kamu belajar untuk tidak mengikuti keinginan hatimu sendiri, tetapi belajar bahwa berbagi itu sebenarnya menyenangkan. Ayo, berikan Choki-choki itu seperti janjimu tadi.”</p>
<p>Dengan agak ragu, Reni mengulurkan satu Choki-choki itu kepada kakaknya. Mama berencana, apabila Reni sudah berani menyerahkan Choki-chokinya, Mama akan berbagi separuh dengannya (seperti yang dilakukan papanya). Namun ternyata kakaknya mendahului Mama. “Kakak berbagi separuh denganmu yah, Reni.”</p>
<p>Reni cukup senang dan makan sedikit demi sedikit separuh Choki dari kakaknya, lalu ia mendekati Mama dengan mata yang masih basah dengan air mata. Dengan sedih hati ia menunjukkan mimik muka yang berat untuk berpisah dengan satu buah Choki-choki terakhirnya. Mama tahu bahwa Reni berharap dirinya juga mengatakan hal yang sama. Namun, Mama melakukan hal yang berbeda. Mama memakan dulu Choki-choki itu, baru sesaat setelah itu menengok kepada Reni yang masih memandangi mamanya. Mama pun menghiburnya, “Reni, kita makan sama-sama yah. Mama makan dulu, setelah itu mama minta Reni habiskan, ok?” Wajah Reni tiba-tiba berubah menjadi sangat cerah. Ia meraih Choki-choki terakhirnya dengan begitu gembira dan mengucapkan, “Terima kasih, Mama.”</p>
<p>Pengalaman menggembalakan hati anak semacam ini membuat kita menyadari bahwa sekalipun masalahnya mungkin kecil, tetapi hati manusia memang membutuhkan suatu pembentukan yang tidak mudah. Sebagai orangtua, kita harus peka terhadap momentum-momentum yang terjadi untuk menghidupi firman Tuhan dalam pengalaman anak sehari-hari. Orangtua perlu lebih sering belajar firman Tuhan dan lebih sering mengingatkan anak-anak untuk menjalankan firman Tuhan, sehingga yang hidup di dalam hati anak-anak kita adalah nilai-nilai kebenaran yang berbeda dari nilai-nilai duniawi. Sebagai orangtua, saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri bahwa anak-anak belajar menjalani kehidupan imannya dengan memperhatikan kehidupan orangtuanya, dan orangtua belajar menjalani kehidupan ini dengan dasar firman Tuhan. Ayo orangtua, kita harus terus bertekun dan TETAP SEMANGAT!!!!</p>
<p>(Ditulis oleh Rachel Veronica, dari bahan diskusi dan sharing support group orangtua SAHABAT KRISTUS, 5 Februari 2015)</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gara-gara-choki-choki/">Gara-Gara Choki-Choki</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Susu Milik Siapa? &#8211; Kisah Nyata Pergumulan Anak Mengalah</title>
		<link>https://eunikefamily.org/susu-milik-siapa-kisah-nyata-pergumulan-anak-mengalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2015 03:00:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[mengalah dengan saudara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1219</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu malam ketika kami sekeluarga akan tidur, anak perempuan saya meminta roti. Karena saat itu sudah terlalu malam untuk membuat roti di lantai dasar, maka saya mengambil dua kotak susu dari ruangan lain dan menawarkannya kepada kedua anak saya. Ketika mereka melihat susu, dengan segera keduanya menunjuk kepada susu beraroma jeruk. Anak laki-laki saya kemudian &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/susu-milik-siapa-kisah-nyata-pergumulan-anak-mengalah/">Susu Milik Siapa? &#8211; Kisah Nyata Pergumulan Anak Mengalah</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/caring.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1221 size-shop_catalog" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/caring-524x349.jpg" alt="caring" width="524" height="349" /></a></p>
<p>Suatu malam ketika kami sekeluarga akan tidur, anak perempuan saya meminta roti. Karena saat itu sudah terlalu malam untuk membuat roti di lantai dasar, maka saya mengambil dua kotak susu dari ruangan lain dan menawarkannya kepada kedua anak saya. Ketika mereka melihat susu, dengan segera keduanya menunjuk kepada susu beraroma jeruk. Anak laki-laki saya kemudian berkata, “Saya memilih susu itu ketika berada di supermarket dan sekarang saya mengatakannya terlebih dulu”. <span id="more-1219"></span>Berbeda dengan anak laki-laki saya, anak perempuan saya justru mengambil susu beraroma jeruk tersebut dari tangan saya dan berkata, “saya mengambilnya terlebih dulu”. Ketika anak perempuan saya berdiri menjauhi dari kakak laki-lakinya dan berniat untuk memasukkan sedotan, anak laki-laki saya memprotes tingkah laku adik perempuannya.</p>
<p>Kemudian saya mengambil kedua kotak susu tersebut dan terdiam beberapa saat. Banyak hal terjadi yang membuat saya sangat sibuk sepanjang hari dan saya bingung apa yang harus dikatakan di malam ini. Tiba-tiba hati saya seperti mendapat hikmat untuk menyelesaikan masalah ini. Saya pun mengambil nafas panjang dan berkata, “Anak-anak, dengar: Mama tidak tahu siapa yang mengatakan pertama kali, siapa yang menginginkan pertama kali, dan lain sebagainya. Dan hal itu tidak penting saat ini. Mama sungguh tidak tahu harus memberikan kepada siapa susu beraroma jeruk ini. Mama ingin memberikan kepada kalian berdua, tetapi tidak bisa. Kita hanya punya satu kotak. Seperti yang kalian lihat, kita memiliki 2 kotak susu dengan 2 aroma yang berbeda dan kalian berdua hanya menginginkan susu beraroma jeruk. Sekarang, Mama mau bertanya kepada kalian : siapa yang rela mengalah malam ini, berkata “Mama, saya mau belajar mengalah dan mau mengambil susu dengan aroma lain”. Saya menatap kedua anak saya.</p>
<p>Saya terkejut dalam beberapa detik, anak perempuan saya mengangkat tangannya. Saya menatapnya dalam dan berkata, “Amy, apakah kamu hari ini benar-benar mau belajar untuk mengalah dan minum susu beraroma strawberry?”. Amy mengangguk dan menjawab, “ya”. Saya pun memberikannya susu beraroma strawberry dengan sedotan di dalamnya. Amy mengambil susu tersebut lalu meminumnya. Dan saya pun memberikan susu beraroma jeruk kepada anak laki-laki saya. Sekali lagi saya berkata, “ Amy, mama menghargai kebaikanmu dan kerelaanmu”.</p>
<p>Sebelum saya menyelesaikan kalimat saya, Amy pun menangis. Saya memeluknya erat dan berkata, “Kamu benar-benar menginginkan susu beraroma jeruk?” Amy mengangguk di tengah tangisnya. Saya kembali berkata, “Hari ini, kita belajar bahwa di dalam keluarga kita belajar untuk mengalah daripada melihat siapa yang pantas mendapatkan sesuatu duluan. Amy telah mengambil langkah untuk belajar hal baru dan kita semua menghargai hal tersebut.”</p>
<p>Saya mengerti bagaimana sulitnya Amy belajar dari situasi yang sederhana ini, walau akhirnya ia tetap mau mencoba. Pada saat yang sama, saya membayangkan diri saya sendiri pada situasi ini. Amy adalah seorang anak perempuan berusia 5 tahun dan dapat keluar dari zona nyamannya, dan saya tidak dapat.</p>
<p>Tuhan, ampuni saya untuk selalu memikirkan diri sendiri. Hari ini, anak perempuan saya mengajarkan saya lebih dari apa yang saya pikirkan malam ini. Dia telah membuka sesuatu yang menutupi saya selama ini. Dia telah menunjukkan Tuhan telah melakukan sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan saya. Hidup saya telah diisi dengan sesuatu yang saya lihat sebagai “sesuatu yang besar” dan saya melewatkan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu melangkah lebih lagi untuk menjadi seperti Yesus setiap hari. Terima kasih Yesus karena Engkau telah memperlihatkan kasih-Mu melalui hati seorang anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Caroline Jong</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/susu-milik-siapa-kisah-nyata-pergumulan-anak-mengalah/">Susu Milik Siapa? &#8211; Kisah Nyata Pergumulan Anak Mengalah</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</title>
		<link>https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2015 00:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian diri anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=23</guid>

					<description><![CDATA[<p>Vita adalah anak yang cerdas dan cantik. Sayangnya, pada usianya yang keenam ini, ia mempunyai sifat yang kurang menyenangkan. Kalau sudah punya keinginan tertentu, Vita selalu memaksa agar kemauannya segera terpenuhi. Vita, misalnya, tidak dapat menahan diri untuk segera memperoleh boneka cantik yang dilihatnya di rumah saudaranya. Selama ia tidak dapat memperoleh boneka itu, selama &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/">Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/selfcontrol2.gif"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1186 size-large" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/selfcontrol2-1024x680.gif" alt="self control" width="700" height="465" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Vita adalah anak yang cerdas dan cantik. Sayangnya, pada usianya yang keenam ini, ia mempunyai sifat yang kurang menyenangkan. Kalau sudah punya keinginan tertentu, Vita selalu memaksa agar kemauannya segera terpenuhi. Vita, misalnya, tidak dapat menahan diri untuk segera memperoleh boneka cantik yang dilihatnya di rumah saudaranya. Selama ia tidak dapat memperoleh boneka itu, selama itu ia mengamuk, menjerit, memaki, dan merusak barang di sekitarnya.<span id="more-23"></span></p>
<p style="color: #000000;">Sifat tidak dapat menahan diri ini ternyata dikembangkan Vita sejak awal tahun-tahun kehidupannya. Ketika kecil, Vita sering sakit. Karena itu, orangtua cenderung memenuhi keinginannya dengan maksud agar Vita cepat pulih dari sakitnya itu. Beberapa saat kemudian, Vita mulai memahami bahwa orang di sekitarnya akan ketakutan bila ia mengamuk. Pada usia dua tahun, Vita sering menjerit sampai seluruh wajah tampak membiru, atau bertingkah seolah ingin muntah, bila ada yang kurang berkenan di hatinya. Orangtua biasanya akan tergopoh-gopoh melayani dan memenuhi keinginannya.</p>
<p style="color: #000000;">Apakah sebenarnya yang Vita alami? Bagaimanakah seharusnya orangtua menghadapinya? Pertanyaan penting ini perlu kita bahas agar kita memiliki kesempatan mengoreksi anak-anak kita sebelum terlambat.</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Kemampuan Mengendalikan Diri</strong></p>
<p style="color: #000000;">Masalah Vita merupakan persoalan pengendalian diri. Vita tidak terlatih untuk menunda keinginan dan bertahan terhadap perasaan frustrasi. Padahal sebetulnya penundaan keinginan dan kemampuan menahan diri atas godaan merupakan salah satu karakteristik kematangan kepribadian. Selain itu, kemampuan pengendalian diri juga berakibat pada pertumbuhan kepercayaan diri. Bila Vita tidak mampu mengendalikan diri, relasinya dengan teman dan guru bisa mendatangkan masalah. Ketidakmampuan menunda keinginan dan memohon pertolongan dengan wajar dan baik akan membuat Vita dijauhi lingkungan pergaulannya. Pada titik ini, besar kemungkinan Vita merasa terkucil, lalu merasa dirinya buruk dan dan tidak pantas berada di antara teman-temannya.</p>
<p style="color: #000000;">Alkitab memandang penguasaan diri sebagai sifat pribadi yang berharga. Amsal Salomo 16:32 menyatakan, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” Dengan demikian, kita perlu memperhatikan bagaimana penguasaan diri kita saat berelasi dan mendidik anak kita.</p>
<p style="color: #000000;">Bagaimanakah sebenarnya pengendalian diri dapat diperkenalkan kepada anak? Anak yang masih sangat muda tentu tidak langsung dapat mengendalikan dirinya. Ia perlu belajar tahap demi tahap, pertama-tama dengan bantuan orangtuanya, yakni melalui perlakuan orangtua tatkala ia lepas kontrol, maupun pada saat ia sedang berusaha mengendalikan dirinya.</p>
<p style="color: #000000;">Salah satu hal yang perlu orangtua perhatikan adalah bahwa kita perlu membedakan antara perilaku mengendalikan diri dengan perilaku menekan dan menyembunyikan perasaan. Mengendalikan diri dapat diibaratkan sebagai seorang penakluk kuda liar yang berhasil membuat kudanya menuruti keinginan sang penakluk. Emosi dan perilaku yang belum dikuasai ibarat kuda liar. Ketika emosi berhasil dilatih untuk dikuasai, emosi tersebut masih memiliki kekuatan besar, namun kekuatan itu sekarang dapat diarahkan dan disalurkan secara lebih tepat. Sebaliknya, menekan dan menyembunyikan perasaan hanya akan membuat emosi kita meledak tak terkendali ketika kita tidak lagi mampu menahannya lagi. Jadi, seharusnyalah emosi mempunyai tempat ekspresi yang nyaman, sehingga dapat dikuasai lebih mudah.</p>
<p style="color: #000000;">Hal lain yang perlu orangtua perhatikan adalah bahwa anak telah dapat memanipulasi orangtuanya dan belajar memaksakan kehendaknya di usia yang sangat muda. Pada saat itu pula kita perlu membantu mereka mengendalikan diri. Terlambatnya orangtua mengendalikan anaknya sejak awal akan berakibat anak mengalami kesulitan lebih besar mengontrol diri nantinya.</p>
<p style="color: #000000;">Karena kita perlu mengendalikan anak sejak mereka masih sangat muda, kita juga perlu membedakan antara tingkah laku anak sebagai akibat kurang terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikologis, dengan tingkah laku anak yang sengaja menentang atau memaksakan kehendak. Anak yang lapar, mengantuk, atau kekurangan perhatian akan bertingkah seolah lepas kendali. Adalah kewajiban orangtua untuk memuaskan kebutuhan fisik dan psikologis anak. Bila orangtua memaksa anak untuk tunduk dan menguasai tingkah lakunya pada saat-saat demikian, anak kemungkinan akan terluka batinnya.</p>
<p style="color: #000000;">Sebaliknya, kesengajaan anak untuk memanipulasi orangtua untuk memenuhi keinginan kekanak-kanakannya perlu memperoleh tanggapan yang memadai dari orangtua. Ada berbagai cara yang orangtua dapat pakai untuk menanggapi mereka. Tepat tidaknya cara orangtua mengendalikan anak dan mengembangkan kemampuan pengendalian diri mereka bergantung pada kondisi anak, tingkat kematangan usia anak, dan juga contoh-teladan orangtua sendiri.</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Tahapan Usia Perkembangan</strong></p>
<p style="color: #000000;">Sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak, kemampuan anak belajar mengendalikan dirinya juga semakin besar dari waktu ke waktu. Namun kemampuan ini hanya berkembang baik bila orangtua bersedia menyediakan waktu mendidik anaknya mengendalikan diri. Berikut beberapa ide yang orangtua dapat terapkan untuk membantu anak mengendalikan diri sesuai dengan usia perkembangannya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Sejak lahir hingga usia 9 bulan:</span></p>
<p style="color: #000000;">Bayi yang baru lahir belum mengenali dirinya yang terpisah dan berbeda dengan lingkungannya. Apa yang ia lakukan lebih banyak berupa refleks naluriah. Kesadaran akan dirinya mulai muncul ketika bayi mulai menginjak usia 3 bulan. Ia pun semakin pandai menggunakan tangisnya agar orang lain membantunya merasa nyaman. Yang bisa orangtua lakukan pada saat-saat seperti ini adalah menenangkannya dengan kata-kata lembut, serta menjadikan jadwal minum susu dan buang air besar dan kecil sebagai suatu rutinitas. Sangat penting bagi orangtua untuk mengendalikan emosinya sendiri tatkala tugas mengasuh anak menjadi beban yang melelahkan. Stres dan kegelisahan orangtua mempengaruhi anak pada usia ini dan membuat mereka gelisah.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 10 bulan hingga 2 tahun:</span></p>
<p style="color: #000000;">Pada usia ini, rentang memori anak masih terbatas. Artinya, anak mudah lupa dan mudah teralih perhatiannya. Kelemahan ini dapat kita manfaatkan sebagai bahan latihan mengendalikan perilaku anak. Bila anak menangis keras, kita memiliki pilihan untuk tidak menanggapi tangisan itu, dan segera memberi pujian dan penghargaan ketika anak tidak melanjutkan rengekannya. Cara lain adalah kita mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang lebih bermanfaat, namun menyenangkan.</p>
<p style="color: #000000;">Pada usia menjelang 2 tahun, kita telah dapat menggunakan cara time-out, misalnya dengan memintanya berdiri 2-3 menit di suatu pojok tertentu, ketika anak tampak tidak dapat menguasai kemarahannya.</p>
<p style="color: #000000;">Kita juga dapat membantu menyebutkan perasaan-perasaan anak dan perasaan kita sendiri, sehingga anak lebih cepat mengenali perasaan dan dengan demikian lebih cepat pula mengendalikannya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 3 hingga 5 tahun:</span></p>
<p style="color: #000000;">Orangtua masih dapat menggunakan cara time-out, namun dengan waktu yang lebih panjang. Sebaliknya, orangtua tidak boleh melupakan untuk memberi pujian ketika anak dapat mengendalikan diri pada situasi yang membuat frustrasi.</p>
<p style="color: #000000;">Sejalan dengan semakin baiknya bahasa lisan anak, seyogyanya juga semakin banyak kata-kata pemahaman dan penerimaan ekspresi emosi yang kita lontarkan. Anak yang nyaman mengakui perasaannya, sekalipun perasaan itu negatif, akan lebih mampu pula mengendalikannya. Selain itu, kita juga perlu memberi alternatif anak mengekspresikan perasaan negatifnya dengan cara yang lebih dapat diterima. Misalnya saja dengan memberikan kertas yang dapat dicoret apa pun juga, atau juga melontarkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan lewat kata-kata verbal.</p>
<p style="color: #000000;">Cerita tokoh Alkitab dan contoh kehidupan nyata juga dapat membantu anak mengimajinasikan perilaku pengendalian diri dan konsekuensi yang kita akan hadapi sesuai dengan apa yang kita lakukan. Selain itu, kita juga perlu ajarkan tentang hal yang lebih berharga yang bisa kita peroleh bila kita mau menanti lebih lama dan menahan godaan lebih banyak.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia 6 hingga masa pra remaja:</span></p>
<p style="color: #000000;">Ketika anak memasuki Sekolah Dasar, ia memiliki banyak kesempatan berelasi dengan orang lain. Orangtua dapat mengarahkan anak usia ini, antara lain dengan memberi kesempatan anak mengetahui perasaan orang lain ketika terjadi benturan. Setelah itu, orangtua juga perlu mengajarkan soal kepantasan ekspresi emosi, serta memberi contoh bagaimana menyatakan suatu permintaan secara wajar dan baik.</p>
<p style="color: #000000;">Belajar menabung, menemani anak bermain dan memberi tanggapan ketika mereka kalah dalam permainan, juga berlatih musik dan berolah raga, adalah beberapa alternatif cara yang dapat kita terapkan untuk melatih anak mengendalikan dirinya.</p>
<p style="color: #000000;"><span style="text-decoration: underline;">Usia remaja:</span></p>
<p style="color: #000000;">Umumnya bila anak terlatih mengendalikan diri sejak kecil, ia akan tampak lebih stabil pada usia remaja. Meskipun demikian, anak pada masa ini akan mengalami gejolak emosi melebihi masa sebelumnya karena aktifnya hormon-hormon seksual. Anak akan lebih dapat mengendalikan diri bila orangtua memahami apa yang sedang mereka alami. Orangtua perlu lebih berperan sebagai sahabat yang mendampingi anaknya menghadapi masa-masa sulit mereka. Bila orangtua dapat menampung unek-unek mereka tanpa menilai negatif diri mereka, mereka pun akan lebih percaya diri dalam menghadapi diri mereka sendiri.</p>
<p style="color: #000000;">Sebagai catatan tambahan, sangat penting bagi anak pada usia berapa pun untuk dapat melihat orangtua yang mampu mengendalikan diri dalam kesehariannya. Bila sekali waktu orangtua lepas kendali, anak perlu melihat contoh orangtua yang rela mengakui kesalahan dan meminta maaf.</p>
<p style="color: #000000;">Kesediaan orangtua meluangkan waktu dan memeras pikiran untuk membantu anak mengendalikan dirinya akan sangat berguna bagi kesejahteraan anak di kemudian hari. Anak tumbuh lebih percaya diri dan lebih bebas berkiprah. Anak pun memahami batasan-batasan dan mampu mengendalikan diri untuk tidak melampaui batas tersebut.</p>
<p style="color: #000000;"><em>Oleh: Heman Elia, M.Psi</em></p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengembangkan-kemampuan-pengendalian-diri-anak/">Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Diri Anak</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/teman-khayalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 07:00:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[teman khayalan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=35</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengapa anak saya suka bermain sendiri, seolah-olah ada teman khayalan di dekatnya? Anak balita Anda suka bicara sendiri seolah ada teman bermain di dekatnya. Anda mungkin agak ngeri melihatnya karena seolah-olah ada makhluk halus yang menemani anak Anda bermain. Setiap anak mempunyai bentuk ‘teman’ yang berbeda, ada yang memberinya nama perempuan seperti dirinya dan seolah &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/teman-khayalan/">Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/imaginary-friend.gif"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1185" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/imaginary-friend-1024x737.gif" alt="teman khayalan" width="500" height="360" /></a></p>
<p style="color: #000000;">Mengapa anak saya suka bermain sendiri, seolah-olah ada teman khayalan di dekatnya?</p>
<p style="color: #000000;">Anak balita Anda suka bicara sendiri seolah ada teman bermain di dekatnya. Anda mungkin agak ngeri melihatnya karena seolah-olah ada makhluk halus yang menemani anak Anda bermain.</p>
<p style="color: #000000;">Setiap anak mempunyai bentuk ‘teman’ yang berbeda, ada yang memberinya nama perempuan seperti dirinya dan seolah anak itu teman seusianya, ada juga yang berperilaku seolah temannya adalah seekor anjing yang terus mengikutinya.</p>
<p style="color: #000000;">Wajarkah??? Apakah anak Anda diikuti makhluk halus???<span id="more-35"></span></p>
<p style="color: #000000;">65% anak kecil membangun konsep teman khayalan pada saat mereka berusia 3 sampai 5 tahun, yaitu ketika mereka mulai membentuk identitas dirinya dan mulai mengenali batas antara khayalan dan dunia nyata. Walaupun pada umumnya, anak-anak mempunyai teman khayalan pada usia pra-sekolah, tidak sedikit terjadi pula sampai mereka usia 7 tahun¹ .</p>
<p style="color: #000000;">Selain teman khayalan yang tidak kelihatan oleh orang lain, teman khayalan juga bisa berbentuk objek yang terlihat, misalnya: boneka binatang, mainan-mainan berkarakter, dan lain sebagainya. Dari segi gender, anak perempuan lebih banyak mempunyai teman khayalan daripada anak laki-laki.</p>
<p style="color: #000000;">Dari beberapa riset yang diadakan, ditemukan adanya hubungan antara teman khayalan dengan perkembangan sosial dan emosi anak.  Melalui berinteraksi dengan teman khayalan, anak belajar:</p>
<ol style="color: #000000;">
<li><strong>Memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. </strong><br />
Keitha mempunyai seorang teman khayalan bernama “momon” (boneka monyet). Sekalipun tidak selalu Momon diajak besertanya, Keitha tetap bisa berbicara dengan Momon, yaitu dengan meletakan tangannya di telinga, seolah dia menelpon Momon. Kadang Keitha menanyakan bagaimana perasaan Momon, apakah Momon sudah makan atau belum, dsb. Tanpa disadari, Keitha sedang latihan untuk interaksi dengan orang lain.  Menurut penelitian, anak-anak seperti ini akan tumbuh menjadi orang dewasa yang dapat lebih mudah memahami perasaan orang lain.</li>
<li><strong>Mengembangkan rasa ingin tahu dan pemikiran kreatif</strong><br />
Joyce seringkali membicarakan tentang “Ida”, teman khayalannya. Kedua orangtuanya tahu betul bahwa tidak ada “Ida” yang sesungguhnya, akan tetapi Joyce seringkali membicarakan dengan serius dan banyak bertanya tentang Ida, warna pakaian yang disukai, apakah Ida punya rumah, apakah Ida masuk sekolah hari ini, dll. Sekalipun terdengar ‘aneh’, sesungguhnya anak ini mempunyai kreatifitas yang tinggi. Dia dapat membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada, dan kemudian berkomunikasi dengan orangtua, bertanya untuk mengembangkan khayalannya. Orangtua yang bijaksana akan terus mengikuti percakapan ini tanpa rasa takut anak ini ‘kesurupan’. Karena sesungguhnya ini hanyalah gejala kerja otak dan tidak ada urusan dengan roh halus.</li>
<li><strong>Eksperimen berbagai bentuk sosial dalam situasi kritis. </strong><br />
Lusi terdengar marah-marah di dalam kamarnya, ketika diintip oleh orangtuanya ternyata dia sedang memarahi bonekanya. Dalam hal ini orangtua tidak perlu berpikir “apakah anak saya trauma karena dimarahi dan melampiaskannya dengan boneka”. Sesungguhnya anak-anak suka mencoba beberapa peran orang dewasa, baik yang pernah dilihatnya maupun yang secara natur sebagai manusia, dia ingin melakukan eksperimen sendiri.Yang menjadi pertanyaan banyak orangtua Kristen adalah: apakah saya perlu mengoreksi atau menegur anak saya ketika dia menjadikan teman khayalannya sebagai kambing hitam.Ketika Nana ditegur oleh ibunya karena menumpahkan susu, Nana langsung melihat ke kursi kosong di sebelah kanannya dan berkata dengan keras: “Ita sih… Nana kan jadi dimarahi mama, aku sudah bilang… hati-hati nanti susunya tumpah. Nah kalau sudah begini bagaimana???”Orangtua Kristen akan berpikir, apakah saya harus berkata:“Nana…. Jangan cari alasan ya…mama bicara kepada kamu”atau“Nana… mama tidak bicara pada Ita, mama bicara pada kamu. Kamu yang menumpahkan susu, jangan berdalih.”atau“Dalam nama Yesus….. roh Ita pergilah dari anakku”</li>
</ol>
<p>“Sekalipun Ita yang menumpahkan, Nana yang mama minta lap tumpahan susunya karena gelas susu ini adalah tanggung jawabmu”</p>
<p>Kalau saya jadi mama Nana, saya akan pilih yang terakhir. Selucu apapun anak kita ketika mengatakannya, tetap dia harus bertanggung jawab. Sebagai seorang anak balita, dia perlu mengerti konsekuensi perbuatan dari sudut pandang atau dunia caranya berpikir. Dengan kalimat terakhir, kita tidak mengeluarkan anak kita dari dunia khayalnya, tapi juga tidak terbawa untuk meninggalkan dunia nyata bahkan menariknya untuk masuk dalam dunia nyata. Ini merupakan cara imaginatif untuk mengerti konsep otoritas, benar, salah, hukuman dan pujian.</p>
<ul>
<li><strong>Mengatasi perasaan-perasaan negatif.</strong><br />
Setelah orangtua Jeni bercerai, Jeni jadi lebih banyak berbicara dengan bonekanya, “Jeje”. Suatu hari ibunya mendengar Jeni berkata, “Jeje, hari minggu nanti kita jalan-jalan ke Singapore yah sama papa. Papa nanti akan ajak kita melihat kebun binatan, lho. Jangan takut dengan singa, kan ada papa.” Kalimat ini sudah barang tentu mengiris hati orang yang mendengarnya, akan tetapi sesungguhnya itulah cara Jeni mengatasi rasa takut terhadap perceraian, pertengkaran papa mama yang sering ia dengar dan sedang mengkomunikasikan harapan-harapannya. Dengan bantuan konselor, Jeni akan lebih mudah dibimbing untuk mengatasi perubahan-perubahan yang sedang dan akan dia alami.</li>
</ul>
<p style="color: #000000;">Peran Orangtua dalam menghadapi ‘teman khayalan”:</p>
<ol style="color: #000000;">
<li><strong>Mengembangkan</strong><br />
Orangtua dapat menggunakan ‘teman khayalan’ untuk melatih anak berpikir “bagaimana jika”, bukan hanya “mengapa” dan “bagaimana” (dalam realita). Jika anak tidak punya teman khayalan, orangtua boleh mendorong anak untuk mempunyai teman khayal, yaitu dengan cara bercerita: Tadi Tomat berkata bahwa dia sangat ingin dimakan. Bagaimana jika si Tomat ikut ke sekolah bersama kamu?</li>
<li><strong>Tunjukkan minat Anda</strong><br />
Dengan memberikan pertanyaan open-ended, Anda akan mengembangkan interaksi dimana anak akan terdorong untuk lebih banyak bercerita. Misalnya:Anak: “Terry (teman khayalan), ayo cepat ganti baju… nanti kamu terlambat, lho”Orangtua: “Pakai baju apa Terry hari ini???”Anak: “Baju merah”Orangtua: “oh… baju warna merah?? Rok atau blouse atasan?? Sepatunya apa?, dst….dst…dst….</li>
<li><strong>Jangan memberikan penilaian negatif</strong><br />
Anda akan cepat mematikan manfaat dari ‘teman khayalan’ ini jika Anda cepat-cepat memberikan penilaian negatif.Misalnya dengan mengatakan: “ah…kamu aneh-aneh aja…mana temanmu?; “temanmu makan ya??? Koq makanannya gak berkurang?? Menghayal yah kamu??? Jangan bohong ah… mana ada sih si Ida, dari tadi juga mama gak lihat apa2”.Dengan komentar-komentar ini, anak mungkin tidak lagi mengatakan apa-apa dengan Anda, tapi bukan berarti dia berhenti dari menghayalkan temannya. Dan jauh lebih berbahaya jika dia tidak bercerita kepada kita, karena kita tidak tau apa yang dia khayalkan dan kita terhambat untuk membimbing pikiran ke arah yang positif.</li>
<li><strong>Mengarahkan kepada dunia nyata (jika sudah berlebihan).</strong></li>
</ol>
<p style="color: #000000;">Pertanyaan yang mungkin Anda tanyakan:  “kapankah saya perlu mengkhawatirkan relasi anak saya dengan teman khayalannya?”</p>
<p style="color: #000000;">Intensitas dan panjangnya waktu yang dia habiskan dengan teman khayalan haruslah tetap diperhatikan. Jikalau anak Anda menghindari pergaulannya dengan teman yang nyata dan lebih cenderung hanya mau bermain dengan teman khayalan, maka kita harus waspada. Mungkin saja anak Anda sesungguhnya mengalami perasaan tertekan ketika harus berinteraksi dengan teman yang nyata. Dengan demikian, orang tua harus lebih aktif memberikan pengalaman berinteraksi dengan teman nyata, memberikan dorongan dan menolong anak-anak untuk lebih menyukai bermain dengan teman nyata daripada teman khayalan.</p>
<p style="color: #000000;">Sikap memarahi anak dan memaksanya meninggalkan teman khayalan akan menambah perasaan tertekan. Orangtua harus secara aktif memberikan aktifitas pengganti yang jauh lebih sehat. Selain itu, orangtua juga perlu menemui penyebab rasa aman dan rasa takut yang membuat anak sering masuk dunia khayalnya.</p>
<p style="color: #000000;">“Bagaimana menghentikannya dari dunia khayalan?”</p>
<p style="color: #000000;">Terlalu banyak bermain dengan “teman khayalan” dapat menjadi tanda bahwa anak Anda sedang mengalami masalah kejiwaan yang kompleks.  Kita tidak boleh menghina, melarang atau memarahi anak untuk hal ini, tapi juga tidak boleh terlalu terlibat dalam dunia khayalnya. Sedikit demi sedikit kita harus menunjukkan realita bahwa teman khayalannya tidak nyata: “Ida tidak bisa ikut makan bersama keluarga kita, karena dia tidak ada”; “Momon adalah boneka, bukan binatang yang hidup seperti yang di pohon itu, dll. Kadang kita perlu mengikuti skenario anak, tapi tetap dengan batas-batas tertentu dan dengan lembut membawa anak kepada kenyataan.</p>
<p style="color: #000000;">Pada akhirnya, nikmatilah masa-masa kecil anak yang penuh dengan imaginasi yang indah. Masa-masa itu akan berlalu dan anda akan merasa rindu kembali lagi ke masa seperti itu. Nikmatilah anak Anda dan didiklah mereka pada jalan yang seharusnya dia tempuh sebagai anak-anak Tuhan yang dicipta dengan daya imaginasi yang luar biasa (Amsal 22:6).</p>
<p style="color: #000000;"><strong>Referensi</strong></p>
<p style="color: #000000;">l. Taylor, M. (2004). Developmental Psychology (Vol. 40, No. 6)</p>
<p style="color: #000000;">Gurian, Anita, Ph.D.. &#8220;When Your Child&#8217;s New Friend is Imaginary.&#8221; About Our Kids. N.p., n.d. Web. 23 July 2011.</p>
<p style="color: #000000;">Oxenreider, Anne. &#8220;Imaginary friends (2-4).&#8221; Sixty Second Parent. N.p., n.d. Web. 23 July 2011</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/teman-khayalan/">Wajarkah Anak punya Teman Khayalan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
