<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Parenting Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<atom:link href="https://eunikefamily.org/category/parenting/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eunikefamily.org/category/parenting/</link>
	<description>Eunike Family</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jan 2019 16:44:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2023/10/cropped-LOGO-EUNIKE-2023-1-32x32.png</url>
	<title>Parenting Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<link>https://eunikefamily.org/category/parenting/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</title>
		<link>https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2019 16:43:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak marah]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kristen]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi ibu]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi orang tua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.eunikefamily.org/?p=2413</guid>

					<description><![CDATA[<p>Being a mom is more than riding a roller coaster. Yes, ini yang saya rasakan sejak punya anak. Baru satu lho, entah Tuhan percayakan anak lebih dari satu atau cukup satu saja, hihihi&#8230; Kalo naik roller coaster, cuman tegang, takut, seru, dan yang paling penting, itu cuma sementara. Kurang lebih 5 menit selesai. Totally different &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/">BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Being a mom is more than riding a roller
coaster</em>. Yes, ini yang saya
rasakan sejak punya anak. Baru satu lho, entah Tuhan percayakan anak lebih dari satu atau cukup
satu saja, hihihi&#8230;</p>



<p>Kalo naik <em>roller coaster</em>,
cuman tegang, takut, seru, dan yang paling penting, itu cuma sementara. Kurang
lebih 5 menit selesai<em>. Totally different</em>
dengan ngurus anak. Waktunya jauh lebih panjang, <em>bok</em>! Dan tanjakan maupun turunan emosinya seringkali nggak bisa
diprediksi.</p>



<p>Contohnya&#8230;</p>



<p>Dua minggu lalu anak saya, Pippo, sakit. Dengan penuh iman dia
bilang &#8220;Mami, ga usah ke dokter. Kita berdoa aja. <em>Jesus is my doctor</em>. Tuhan Yesus sembuhin aku.&#8221; dan terjadilah
sesuai iman dia. Walaupun selama proses dia sakit sampe sembuh, saya sendiri
galau melihat kondisi Pippo <em>drop</em>
banget. Melalui peristiwa ini, Pippo mengajarkan saya tentang iman. Saya jadi teringat
lagi kisah perempuan yang sakit pendarahan dan sembuh setelah menyentuh ujung
jubah Tuhan Yesus. &#8220;Asal aku menjamah jubahnya saja, aku pasti
sembuh&#8221; begitu kira-kira batin si perempuan itu&#8230; Ah, iman saya belum ada
seujung kuku perempuan tersebut&#8230;</p>



<p>Minggu lalu, Pippo marah-marah (saya lupa gara-gara apa), dan
dia lempar bantal dari atas ranjang ke lantai, dia tendang mainannya, dia pukul
pintu kamar, dan dia bilang &#8220;Aku mau marah-marah aja. Aku mau hati aku
hitam.&#8221; Kondisi begini, kalo saya hadapi dengan emosi, yang ada jadi
tawuran lah kita, hahaha&#8230; Tuhan ajarin saya untuk sabar, tenang, tunggu
sampai kondisi lebih kondusif sebelum bicara hati ke hati dengan Pippo.</p>



<p>Tiga hari yang lalu, Pippo tiba-tiba memeluk saya dan bilang
&#8220;<em>Mommy, I&#8217;m so happy because I love
you</em>&#8220;. Aaaw<em>&#8230; So sweet</em>
banget kan&#8230; Anak 3 tahun bisa ngomong kayak gitu&#8230; Hati ini meleleh rasanya.
Saya belajar bahwa menyatakan kasih itu nggak perlu susah-susah, yang penting
tulus dan nggak dibuat-buat.</p>



<p>Tapiiiiii&#8230; Kemarin, dia marah-marah sambil nangis dan
mengacungkan telunjuknya ke saya, dia bilang &#8220;Mami harus taat sama aku!
Mami harus bantuin aku!&#8221; Kehebohan ini terjadi cuma gara-gara dia ga mau
siram bekas pipisnya di kloset, dan dia maunya saya yang siram. Saya belajar
lagi, bahwa anak kecil itu konyol. Hal-hal sepele, ga penting, jadi masalah
besar. Sayapun jadi evaluasi diri, apakah saya masih suka &#8220;konyol&#8221;
seperti anak kecil? Membesar-besarkan masalah sepele? Waduh, saya harus segera
bertobat dan berubah.</p>



<p><em>Well</em>, ga mudah menjadi seorang ibu&#8230;
Banyak<em> up</em> and <em>down</em> yang dihadapi (kadang rasanya lebih banyak <em>down</em> :P)</p>



<p>Tapi menjadi ibu juga suatu proses, proses hati dan diri ini
dibentuk oleh Tuhan untuk semakin diperluas kapasitasnya&#8230;</p>



<p>Sebagai ibu, saya mewakili Allah untuk menyatakan kasih dan
penerimaan terhadap Pippo. Allah, yang adalah Bapa Sorgawi saya, tak pernah
berhenti untuk mengasihi saya. Ketika saya gagal, jatuh dalam dosa, melakukan
kesalahan, memberontak, Ia tetap mengasihi saya. Ia sudah mengampuni dan
menerima saya sepenuhnya. Ia tidak menyerah terhadap saya. Ia tetap membimbing
dan mengarahkan saya untuk kembali ke jalan yang sesuai dengan kebenaran
Firman-Nya.</p>



<p>Demikian juga Ia mau saya lakukan kepada Pippo&#8230; Sekalipun
Pippo tidak taat, membangkang, gagal, jatuh dalam dosa, melakukan kesalahan,
dan lainnya. Saya tetap mengasihi Pippo, karena Allah sudah lebih dulu
mengasihi saya.</p>



<p>Menjadi seorang ibu (maupun ayah) di dalam Tuhan tidaklah mudah&#8230; Tapi, percayalah, Allah senantiasa memberikan hikmat-Nya dan memampukan&#8230;</p>



<p></p>



<p>Oleh: Yaticania</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-parent-is-more-than-riding-roller-coaster/">BEING PARENT  Is more than RIDING ROLLER COASTER</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Being “U-hau”</title>
		<link>https://eunikefamily.org/being-u-hau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2017 09:42:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Being U-hau]]></category>
		<category><![CDATA[Chinese new year]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2048</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yeremia 5:7 Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan. Key Word: Grateful Happy Chinese New Year, everybody! Renungan hari ini mengingatkan bagaimana kita dapat menjadi anak yang U-hau bagi Tuhan. Anak U-hau adalah anak &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-u-hau/">Being “U-hau”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Yeremia 5:7 Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan.<span id="more-2048"></span></p>
<p><em>Key Word: <strong>Grateful </strong></em></p>
<p>Happy Chinese New Year, everybody!</p>
<p>Renungan hari ini mengingatkan bagaimana kita dapat menjadi anak yang <em>U-hau</em> bagi Tuhan. Anak <em>U-hau</em> adalah anak yang tahu diri dan menghormati orangtuanya. Orang Israel telah menunjukkan akibat dari anak <em>Pu-hau</em>, anak yang tidak tahu berterima kasih, anak yang tidak peka terhadap teguran Tuhan bahkan tidak mau mendengarkan panggilan pertobatan. Anak yang mengeraskan hati.</p>
<p>Tentu kita tidak mau menjadi anak yang seperti itu, bukan?</p>
<p>Masalahnya adalah ketika seseorang sedang dalam tahap keras kepala atau keras hati, ia tidak menyadari dan tetap menganggap diri benar. Itulah sebabnya mengapa orang keras hati tidak dapat bertobat. Hanya kuasa kuasa Roh kudus dan FirmanNya dapat membongkar kekerasan hati seseorang.</p>
<p>Di pihak lain, Yeremia diutus oleh Tuhan untuk menghadapi orang-orang yang keras hati dan keras kepala. Saya membayangkan ketika menyampaikan Firman dan mengadakan panggilan pertobatan, namun tidak ada seorangpun yang memberi respon. &nbsp;Saya membayangkan ketika mengajar di kelas Sekolah Minggu/Sahabat Kristus yang anak-anaknya sangat sulit diatur dan setelah bertahun-tahun tidak nampak ada perubahan.</p>
<p>Saya membayangkan kalau Tuhan memberikan anak-anak yang sangat susah dididik.</p>
<p>Apakah saudara tidak merasa gagal, kecewa, putus asa dan akhirnya ingin mengundurkan diri dari semua kepercayaan yang Tuhan berikan?</p>
<p>Tuhan melembutkan hati kita ketika&nbsp; kita dipertemukan dengan orang-orang yang <em>Pu-Hau</em>, yang keras kepala dan sulit diatur. Tuhan mengajar kita untuk <em>U-Hau</em> pada-Nya melalui pelayanan terhadap anak-anak yang <em>Pu-Hau</em>.</p>
<p>Selamat menikmati kebersaman dengan keluarga dan memakai kesempatan untuk menunjukkan <em>U-Ha</em>u kepada orangtua dan kepada Tuhan. ….</p>
<p><em>Xi Nien Mung En</em>!!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra<em>&nbsp;</em></p>

<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/being-u-hau/">Being “U-hau”</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2017 08:20:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2041</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2043" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-2-524x350.jpg" alt="" width="524" height="350"></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-2041"></span></p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.” Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?&nbsp;Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?&nbsp;Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian”. Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman. Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.&nbsp; Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong>&nbsp;</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan-2/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gadget Community</title>
		<link>https://eunikefamily.org/gadget-community/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2017 08:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget Community]]></category>
		<category><![CDATA[Holy Jealousy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2036</guid>

					<description><![CDATA[<p>1 Korintus. 10:1-14 Key word: Holy Jealousy Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: idolatry. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2037" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-524x498.jpg" alt="" width="524" height="498"></p>
<p>1 Korintus. 10:1-14</p>
<p>Key word: <strong><em>Holy Jealousy</em></strong></p>
<p>Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: <em>idolatry</em>. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja <span id="more-2036"></span>sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita kehilangan jaringan dengan internet, atau ketinggalan HP/Ipad. Gelisah seharian, uring-uringan.</p>
<p>Itu yang pernah keluarga <strong>Sahabat Kristus (SK) </strong>lakukan: para istri menyembunyikan idol suami di gudang SK sampai hari &#8220;<em>displaying </em>milik suami yang paling berharga&#8221; pada saat hari ayah. Lucu sekali ada yang nitip sangkar burung kesayangan suami, bikin guru-guru SK ketar ketir takut burungnya mati. Suami yang HP-nya diumpetin istri, setelah acara itu mengundurkan diri&#8230;.marah besar.</p>
<p>Eits&#8230;.tunggu dulu! Jangan ketawa, jangan menghakimi. Mau ngalamin yang saya alami kemarin???? Saya bilang sama Tuhan: gak kira-kira kalau Tuhan mau pangkas carang-carang yang tidak berbuah. Bagaimana saya hidup tanpa email? Dengan di hack-nya email baru deh tuh yah. Berasa&#8230;.&#8221;dimana hartamu berada di situ hatimu berada&#8221;&#8230;.kepanikan melanda kalbu, takut bank account diterobos. Setelah cape seharian ngurusin harta kekayaan yang cuma dipercayakan secuil, saya baru sadar: kayanya saya berlebihan deh. Pinter tulis renungan, seperti guru pinter. Bikin soal ulangan. Giliran dirinya sendiri di test&#8230;bener!!! saya masih punya berhala. Tuhan iri&#8230; Tuhan semburu&#8230; Tuhan benci dengan berhala-berhala saya. Apa yang saya pikir bukan berhala&#8230;.&#8221;noh (istilah betawi!!!)&#8221;&#8230;&#8230; rasa&#8217;in kalau dicabut! ketahuan deh aslinya! Teman-teman pemulung kata, saya manusia biasa yang masih punya banyak jerawat dosa. Ngeri sebenernya menghadapi kenyataan proses &#8220;<em>sanctification</em>&#8221; ini, krn mau tidak mau kita harus berani melihat jerawat-jerawat kita sendiri. Segala pemoles wajah saya rontok ketika anak-anak melihat kenyataan mama panik. Sebelum sekolah Timmy pesan: &#8220;jika ada apa-apa&nbsp;<em>call </em>sekolah, panggil Timmy. <em>I can handle</em>&#8221;</p>
<p>Teman-teman&#8230;. mungkin ada saat Tuhan <em>expose </em>jerawat (idol) kita. Siapkah anda menerima kenyataan bahwa &#8220;saya orang berdosa yang sdg diproses dalam api pengudusan Allah?&#8221;</p>
<p><strong>Permainan dengan anak: </strong></p>
<ul>
<li>Masih ingat main &#8220;<strong><em>give it up</em></strong>?&#8221;. Suruh anak pilih salah satu yang &#8220;paling&#8221; dia sayang.</li>
<li>Tanyakan apakah dia siap kalau &#8220;itu&#8221; dititip di rumah orang lain dalam kurun waktu tertentu???</li>
<li>Atau diberikan kepada orang yang lebih perlu. Mama papa ikutan yah..jangan curang!!</li>
</ul>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Sakit?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2016 07:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Menikmati sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sembuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1848</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matius 8:17 Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Kata kunci: Sembuh Kemarin saya kurang sehat dan saya membutuhkan obat. Namun, di negara ini tidak seperti di Indonesia yang bisa seenaknya kita membeli obat. Suami saya mau membawa saya ke dokter, namun saya merasa enggan. Memikirkan berapa jauh perjalanan ke dokter, berapa lama &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/">Menikmati Sakit?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Matius 8:17</p>
<p><em>Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.</em></p>
<p><span id="more-1848"></span></p>
<p><strong>Kata kunci: Sembuh</strong></p>
<p>Kemarin saya kurang sehat dan saya membutuhkan obat. Namun, di negara ini tidak seperti di Indonesia yang bisa seenaknya kita membeli obat. Suami saya mau membawa saya ke dokter, namun saya merasa enggan. Memikirkan berapa jauh perjalanan ke dokter, berapa lama menunggu di ruang dokter, berapa dinginnya di luar, dll. Namun, setelah didesak, akhirnya saya menurut dan saya bersyukur sekali sekarang karena kondisi tubuh saya jauh lebih sehat dan saya bisa melakukan banyak aktifitas. Mungkin kalau kemarin saya bersikeras, saya masih terbaring dan tidak bisa berbuat apa-apa dan bahkan mungkin menjadi sulit untuk pulang kembali ke <em>Fort Worth</em> esok hari.</p>
<p>Renungan hari ini mengingatkan bahwa kehadiran Kristus di dunia adalah untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan menolong. Bukan hanya masalah penyakit fisik, tapi juga penyakit rohani. Namun, bukankah kita sering memilih untuk tetap sakit? Memikirkan apa resikonya untuk menjadi sembuh? Memikirkan harga yang harus dibayar untuk mengalami proses penyembuhan?? Kita tidak memikirkan betapa indahnya kondisi kita ketika sudah disembuhkan. Bahkan kita berpura-pura sehat dan menolak untuk diperiksa, atau takut menghadapi realita bahwa kita sedang menderita sakit?</p>
<p>Melihat kondisi dunia Barat dan juga kondisi kota Jakarta, kita bisa melihat banyaknya penyakit moral, penyakit rohani yang beredar. Seperti halnya setelah banjir maka penyakit akan berlipat ganda, demikian juga penyakit moral. Setelah banjir <em>mall</em>, banjir <em>gadget</em>, banjir <em>café</em>, banjir <em>x-box</em>, banjir <em>entertainment</em>…maka penyakit kemalasan, penyakit materialism, penyakit perzinahan, penyakit penyembahan berhala akan terus bertambah dan berlipat. Namun, kita lebih “enjoy being sick”&nbsp; atau membiarkan anak-anak kita sakit. Tanpa menyadari bahwa penyakit kita akan menyebar, menurun dan akhirnya membentuk “evil society (komunitas setan)”</p>
<p>Mari kita periksa rumah kita, keluarga kita, pekerjaan/karir kita, dan hati kita. Apakah ada penyakit yang perlu kita serahkan pada SANG JURUSELAMAT? Dia datang bukan untuk menyaksikan kita menikmati penyakit kita, dia datang untuk menanggung penyakit kita dan menyembuhkan.</p>
<p>Setelah mertua Petrus disembuhkan, dia tidak pasif menerima kesembuhan itu, namun dia dengan sigap mengambil langkah untuk menjadi pengikut Kristus. Mari kita periksa gaya hidup kita, apakah kita juga mempunyai gaya hidup sebagai murid yang sudah disembuhkan? Atau kita hanya seperti murid-murid lain yang ikut dalam rombongan ke sana kemari tetapi tetap dalam kondisi sakit dan pasif?</p>
<p><strong><u>Aktifitas dengan anak:</u></strong></p>
<ul>
<li>Ajak anak untuk mendiskusikan kondisi masyarakat di koran/berita TV, bicarakan apa yang murid Tuhan dapat lakukan untuk menghadirkan Kristus yang dapat menyembuhkan? (dapat juga memasukkan diskusi tantangan yang Ahok hadapi menghadapi situasi masyarakat Jakarta yang sakit).</li>
<li>Jika hari ini Anda/ anak Anda sakit, bagaimana Anda dan keluarga Anda menghadirkan Kristus dalam menghadapi penyakit ini?</li>
<li>Doakan teman-teman yang sakit.</li>
</ul>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>

<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/menikmati-sakit/">Menikmati Sakit?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aroma</title>
		<link>https://eunikefamily.org/aroma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2016 07:51:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Aroma]]></category>
		<category><![CDATA[busuk]]></category>
		<category><![CDATA[harum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1841</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum  dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa” (2 Korintus 2:15, TB) Kata kunci : Aroma Kemarin ketika sedang beribadah di gereja, di tengah-tengah saat mendengarkan kotbah, anak bungsu saya berbisik pada saya: “ma, ada harum strawberry di sekitar ini.” Ketika saya &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/aroma/">Aroma</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="irc_mi imZe45KjjEXU-pQOPx8XEepE" src="http://img.gawkerassets.com/img/18n2xdr9o8rfljpg/original.jpg" alt="" width="698" height="393" /></p>
<p>“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum<sup> </sup> dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa” (2 Korintus 2:15, TB)</p>
<p>Kata kunci : Aroma<span id="more-1841"></span></p>
<p>Kemarin ketika sedang beribadah di gereja, di tengah-tengah saat mendengarkan kotbah, anak bungsu saya berbisik pada saya: “ma, ada harum <em>strawberry</em> di sekitar ini.” Ketika saya mulai fokus kepada aroma itu, mendadak terbayang <em>pie strawberry</em> di kepala saya. Betapa hebatnya kekuatan aroma untuk mendatangkan gambar di dalam memori kita. Fungsi otak kita berhubungan satu dengan yang lain, luar biasa ciptaan Tuhan.</p>
<p>Baik Imamat 1:1-17, maupun Bilangan 29:2, juga 2 Korintus 2:15, berbicara tentang aroma korban bakaran. Dalam perjanjian lama, aroma harum yang dinikmati Tuhan dari korban persembahan binatang merupakan gambaran korban hidup. Paulus menggambarkan persembahan diri kita sebagai korban yang harum di hadapan Tuhan.</p>
<p>Rekan saya, Pdt. Tommy Elim sering memakai istilah “nuansa” di dalam kotbahnya. Suami saya sering memakai istilah “chemistry” di dalam menjelaskan kesamaan pola pribadi. Sesungguhnya yang mau digambarkan oleh kedua orang ini adalah bahwa setiap pribadi mempunyai pola karakteristik. Semakin orang mengenal kita, mereka dapat melihat lebih jelas pola (<em>pattern)</em> kepribadian kita. Seperti sebuah parfum yang mempunyai komposisi bahan kimia tertentu, demikian juga setiap kita mempunyai komposisi karakter yang memancarkan pola aroma tertentu.</p>
<p>Mari kita coba “test” daya cium kita. Jika Anda membaca nama di bawah ini, aroma apa yang Anda cium dari pola karakteristik orang tersebut, aroma yang harum ataukah aroma yang busuk?:</p>
<ul>
<li>Nelson Mandela</li>
<li>Mother Teresa</li>
<li>Mohammad Ali</li>
<li>Hitler</li>
<li>Jokowi</li>
<li>Ahok</li>
<li>Obama</li>
<li>Herodes</li>
<li>Yudas</li>
<li>Justin Biber</li>
<li>Rasul Petrus</li>
<li>Yesus Kristus</li>
</ul>
<p>Mengapa Anda kategorikan orang tersebut beraroma harum atau busuk? Mau tidak mau kita mengkategorikan berdasarkan isi hati yang terpancar melalui keputusan dan perbuatannya, bukan?</p>
<p>Pertanyaannya sekarang: apakah “nuansa” atau “aroma” yang Anda pancarkan melalui keputusan dan tindakan Anda? Apakah komposisi “chemistry” karakter Anda? Apakah ketika orang semakin mengenal Anda lebih dalam, orang dalam mencium “harum Kristus”, komposisi karakter Kristus dalam karakter Anda?</p>
<p>Jadi…, seperti saya tidak bisa mencium sendiri bau badan saya, orang lain lah yang dapat mengatakan hal yang sebenarnya apa yang mereka cium dan mereka lihat. Namun yang terlebih penting adalah, apakah kita dengan sengaja, tiap hari, tiap pagi, mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan bakaran yang hidup, yang harum di hadapan Tuhan. Jika hari ini Anda belum datang ke altar Tuhan untuk menyampaikan korban persembahan hidup Anda. Datanglah sekarang……sebelum bau busuk kita menghancurkan diri kita sendiri. Yuk! Ambil waktu 1 menit untuk menutup mata dan mencoba mencium bau badan kita sendiri, maksud saya bukan harafiah, tapi aroma kehidupan.</p>
<p><strong><u>Permainan dengan anak:</u></strong></p>
<p>Siapkan beberapa kotak yang tidak tembus pandang, namun mempunyai lobang yang cukup untuk mengeluarkan aroma isi kotak tersebut. Masukan beberapa benda berbau ke dalamnya, misalnya: parfum, duren, udang, terasi, strawberry, mangga, kopi, coklat, dll. (yang cukup familiar bagi anak Anda). Ajak anak Anda menebak.</p>
<p><strong><u>Permainan di persekutuan kantor:</u></strong></p>
<p>Ganti benda-benda tersebut dengan benda beraroma yang ada di kantor misalnya: parfum dengan merk-merk yang familiar bagi mereka, bisa selipkan minyak kayu putih (parfum saya, hehehe).</p>
<p>Tutup dengan pesan bahwa hidup kita pun memancarkan aroma. Apakah aroma Kristus yang kita sebarkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/aroma/">Aroma</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebih Buruk dari Setan?</title>
		<link>https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2016 07:30:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Buruk]]></category>
		<category><![CDATA[Lebih buruk dari setan?]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1854</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matius 8:23-34 (32a) Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Pergilah!&#8221; Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Kata kunci: Perintah yang berpengaruh (Powerfull Instruction) Waktu saya merenungkan kalimat Tuhan Yesus kepada setan, lho …. luar biasa yah. Tuhan Yesus hanya bilang “Pergilah”, setan menurut dan pergi. Saya bandingkan dengan kita (makhluk lemot-lemah otak). Berapa kali &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/">Lebih Buruk dari Setan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="" src="http://g01.a.alicdn.com/kf/HTB1iXFiIXXXXXcyXpXXq6xXFXXXz/2016-Hot-sale-high-quanlity-New-red-font-b-devil-b-font-children-unisex-halloween-font.jpg" width="423" height="423"></p>
<p>Matius 8:23-34</p>
<p>(32a) Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Pergilah!&#8221; Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu.<span id="more-1854"></span></p>
<p>Kata kunci: Perintah yang berpengaruh (<em>Powerfull Instruction</em>)</p>
<p>Waktu saya merenungkan kalimat Tuhan Yesus kepada setan, <em>lho</em> …. luar biasa yah. Tuhan Yesus hanya bilang “Pergilah”, setan menurut dan pergi. Saya bandingkan dengan kita (makhluk <em>lemot</em>-lemah otak). Berapa kali Tuhan bilang: “Pergilah”, kita <em>celingak-celinguk</em> dan masih nanya lagi: “ngapain, Tuhan?” Berapa kali Tuhan bilang: “Pergilah”, terus kita masih bertanya: “beneran??? Serius???” Nah itulah sebabnya saya bilang…manusia itu <em>the crown of creature</em>, punya banyak freedom, punya banyak hak…. Tapi juga satu pihak “lemot” banget.</p>
<p>Pertanyaan saya adalah apakah “ketidaktaatan” manusia menunjukan kelemahan kuasa instruksi Tuhan??? Apakah Tuhan tidak berdaya dengan ketidaktaatan kita? Bukankah Dia juga bisa memperlakukan kita seperti setan-setan itu… sekali suruh…blass…. Gak bisa gak harus nurut. Tetapi kemudian saya jadi teringat bagaimana instruksi kita bekerja bagi pembantu dan anak. Ketika kita menyuruh pembantu, maka mereka tidak bisa tidak menurut. Tapi anak??? <em>Ampyun</em>…. Sampai berbusa aja <em>kok</em> susah <em>banget</em> disuruhnya??? Mengapa? Apakah kekuatan perintah kita lebih lemah dari ketidaktaatan mereka? Karena status “anak”, maka “anak” mempunyai kebebasan dan hak yang berbeda dengan pembantu.</p>
<p>Manusia adalah ciptaan yang khusus, dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Manusia diberi kebebasan memilih yang dapat berakibat sangat baik atau sangat buruk. Tinggal bagaimana kita memakainya. Orang-orang di Gadara yang sudah ditolong dari kuasa iblis, mereka malah minta Tuhan Yesus pergi meninggalkan mereka. Mereka tidak bersedia Kristus masuk ke dalam batasan pribadi (<em>boundary privacy</em>) mereka, walaupun sebenarnya itu adalah pilihan yang salah.</p>
<p>Pertanyaan kedua: apakah dengan kebebasan kita, kita pun memilih untuk menjaga Kristus untuk tidak masuk dalam batasan pribadi kita? Sadarkah kita bahwa Kristus punya perintah yang sangat berkuasa.</p>
<p>Sebaliknya, apakah Saudara saat ini sedang mengalami “the powerful instruction” dimana Anda merasa<em> I can not resist but obey Him (tidak dapat menolak perintah Allah)?</em></p>
<p><strong><u>Diskusi dengan anak: </u></strong></p>
<p>Bicarakan tentang perbedaan perintah papa mama terhadap mereka dan terhadap pembantu/staff. Apa akibatnya kalau pembantu/staff tidak taat, apa akibatnya kalau anak tidak taat. Mengapa ada perbedaan itu? Diskusikan, apakah iblis bisa tidak taat ketika Tuhan berkata “Pergilah”?</p>
<p><strong><u>Diskusi jenjang lanjutan: </u></strong></p>
<p>Apakah artinya Tuhan Yesus bisa diajak negosiasi oleh iblis? Apakah justru artinya Tuhan Yesus mengikuti permintaan iblis? Apa yang Matius mau sampaikan melalui kisah ini?</p>
<p><strong><u>Permainan dengan anak</u></strong>:</p>
<p>List kepemilikan pribadi/<em>privacy</em> (hal-hal yang anak-anak anggap tidak boleh ada yang tau).</p>
<ol>
<li>Berikan anak-anak selembar kertas,</li>
<li>Buat lingkaran yang besar,</li>
<li>Minta anak-anak menulis/menggambar simbol dari <em>privacy</em> Kemudian tuliskan di luar lingkaran, orang-orang yang kadang mau masuk menembus <em>privacy</em> itu. Kalau ada yang sudah masuk, tulis nama mereka di dalam lingkaran.</li>
<li>Setelah itu diskusikan, apakah ada iblis di dalam lingkaran itu? apakah ada Tuhan?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/lebih-buruk-dari-setan/">Lebih Buruk dari Setan?</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2016 04:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1789</guid>

					<description><![CDATA[<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1791" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2016/04/TeenAnger-524x205.png" alt="TeenAnger" width="524" height="205" /></p>
<p>Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.<span id="more-1789"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.”</p>
<p>Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?</p>
<p>Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?</p>
<p>Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?</p>
<p>Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.</p>
<p>Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?</p>
<p>Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian.” Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman.Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.</p>
<p>Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.</p>
<p>“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.</p>
<p>Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.</p>
<p>Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.  Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.</p>
<p>(Bahan ini sudah menjadi dasar kegiatan permainan dalam KTB Interaktif Remaja dan orangtua remaja di BIK Sahabat Kristus, Kelapa Gading, Jakarta, 10 April 2015)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh: Junianawaty Suhendra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Cantrell, Timothy. &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 51-64.</p>
<p>William, Angie, and Peter Garrett. &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults.&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012): 267-278.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>Angie William and Peter Garrett, &#8220;Teenagers&#8217; Perceptions of Communication and &#8220;Good Communication&#8221; with Peers, Young Adults, and Older Adults,&#8221; <em>Language Awareness</em> 21, no. 3 (2012).</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>Timothy Cantrell, &#8220;Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,&#8221; <em>Journal of Youth Ministry</em> 1 (2003): 56-57.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/alasan-tersembunyi-ketika-remaja-memberikan-ekspresi-marah-tanpa-penjelasan/">Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Obat Anti-Lesu</title>
		<link>https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2015 12:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[anti lesu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat anti lesu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1587</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221; Imamat 6:13 Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-1590" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg" alt="13806772_s" width="450" height="300" /></a></p>
<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221;</p>
<p>Imamat 6:13<span id="more-1587"></span></p>
<p>Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda gelisah?</p>
<p>Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menjaga api mezbah pribadi dan keluarga kita untuk tetap menyala. Dengan kata lain, kehangatan relasi dengan Tuhan membutuhkan komitmen dari setiap individu. Dengan zaman yang serba otomatis, kita tidak bisa mengharapkan keintiman relasi dengan Tuhan dan anggota keluarga juga bisa terjadi secara otomatis.</p>
<p>Sejak awal mula Tuhan menciptakan dunia, Tuhan mengizinkan “tukang tiup” berkeliaran di sekeliling kita. Ketaatan Hawa “ditiup” oleh si iblis, kepemimpinan Adam “ditiup” oleh si jahat dengan menggunakan “ si penolong yang sepadan”; kasih sayang kakak beradik Kain dan Habel “ditiup” dengan menggunakan perasaan iri hati.</p>
<p>Sadarkah kita bahwa disekitar kita si iblis sedang “meniup-niup” api mezbah pribadi dan keluarga kita? Saat ini mungkin dengan cara yang berbeda: kesibukan membersihkan rumah di kala “balada lebaran” melanda rumah tangga yang kehilangan pembantu rumah tangga; kesibukan perjalanan tour bagi yang sedang berlibur; link2 facebook yang lebih menarik untuk dibaca daripada Alkitab; chatting whatsapp dan bb messenger yang menggantikan saat teduh pagi; atau kekhawatiran karena “kasus Yunani” dan ancaman krisis ekonomi?</p>
<p>Bagaimana kita menghidupkan kembali bara api mezbah yang sudah redup dan dingin? Paulus mengingatkan Timotius untuk “mengobarkan” (Fan into flame) karunia Allah. Karunia Allah yang begitu besar adalah Injil itu sendiri. Pengabaran Injil sesungguhnya tidak mengenal “liburan”. Pada zaman dahulu, iklan sebuah minuman soda memiliki slogan “dimana saja kapan saja…” Ini pula yang harus menjadi slogan kita. “Dimana saja dan kapan saja, beritakanlah Firman.” Pada saat percikan api itu kita sampaikan kepada orang lain, maka bara itu mulai menyala lebih besar.</p>
<p>Anda dapat memulai memercikan api itu melalui hal sederhana: bacalah satu ayat dalam Alkitab, renungkan dan katakan pada Tuhan apa yang anda pikirkan setelah membaca ayat tersebut. Kemudian, mulailah “kipasan” awal untuk membuat api itu mulai berkobar. Misalnya, “share” renungan melalui media sosial; menyapa orang yang duduk di sebelah anda di terminal atau airport; membayarkan mobil di belakang anda di jalan tol sambil menitipkan kartu sapaan dari perenungan anda hari ini; menuliskan email dan menceritakan perjalanan iman anda pada sahabat2 anda; mendoakan pembantu atau supir yang mudik; menyanyikan lagu rohani sambil membersihkan rumah; menceritakan kepada anak dan pasangan tentang apa yang anda renungkan hari ini; dan masih banyak seribu cara sederhana untuk memulai “kipasan” pertama untuk menyalakan kembali api mezbah pribadi dan keluarga anda.</p>
<p>“Selamat mengobarkan kembali api mezbah anda hari ini.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Obat Anti-Panik</title>
		<link>https://eunikefamily.org/obat-anti-panik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2015 12:30:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anti panik]]></category>
		<category><![CDATA[Obat anti panik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1584</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah yang dibutuhkan orangtua di zaman yang kacau ini? Dengan banyaknya standard moral yang tidak berpagar jelas, orangtua semakin paranoid terhadap perkembangan anak-anaknya. Bagaimana tidak? Di lepas di luar, bisa diculik. Di simpan di dalam rumah bisa tersesat dalam pornografi. Di sekolahkan di sekolah umum bisa kena narkoba atau homoseksual, di sekolahkan di sekolah Kristen &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-panik/">Obat Anti-Panik</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/Panic-Attack.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-shop_catalog wp-image-1585" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/Panic-Attack-524x350.jpg" alt="woman panic" width="524" height="350" /></a></p>
<p>Apakah yang dibutuhkan orangtua di zaman yang kacau ini? Dengan banyaknya standard moral yang tidak berpagar jelas, orangtua semakin paranoid terhadap perkembangan anak-anaknya. Bagaimana tidak? Di lepas di luar, bisa diculik. Di simpan di dalam rumah bisa tersesat dalam pornografi. Di sekolahkan di sekolah umum bisa kena narkoba atau homoseksual, di sekolahkan di sekolah Kristen pun tidak menjamin. Anak-anak sudah sangat rentan dengan pengaruh2 kehidupan moral yang rusak, akibatnya, orangtua “helikopter” semakin banyak. Orangtua “helikopter” adalah orangtua yang selalu membayang-bayangi anak dengan pengawasan dan selalu siap mendarat untuk memberi pertolongan baik diminta maupun tidak.<span id="more-1584"></span></p>
<p>Dalam sebuah film “Mom’s night out,” kita dapat melihat bahwa penyakit umum orangtua (khususnya ibu) adalah: PANIK. Kepanikan, kekhawatiran kadang menghasilkan masalah yang tambah rumit, dan tidak sedikit pasangan yang akhirnya bercerai, gara-gara mama yang terlalu panik untuk segala sesuatu berkaitan dengan anaknya.</p>
<p>Pertanyaannya adalah: adakah obat “anti-panik?”</p>
<p>Bacaan dibawah ini tidak menunjukkan adanya obat tersebut di dalam Alkitab, akan tetapi ada suatu pelajaran yang seharusnya membuat kita semakin tidak terlalu panic atau khawatir.</p>
<p>Kejadian 12:1-3: “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. <strong>Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’” </strong></p>
<p>Menurut dari ayat di atas, Abram sebagai Nabi Allah, diberikan hak istimewa. Dan bukan hanya itu, dituliskan bahwa kelompok orang-orang yang memberkati Abram pun akan mendapatkan perlakuan istimewa—mendapat berkat dari Allah. Akan tetapi, bagi orang-orang yang mengutuk Abram, Allah juga yang akan mengutuk mereka. Betapa hebatnya hak yang diperoleh Abram tersebut!</p>
<p>Dalam kata lain, ayat yang mengingatkan kita bahwa PENYERTAAN Tuhan kepada orang-orang pilihanNya adalah pekerjaan yang luar biasa. Tuhan tidak sekedar memberi perintah atau tugas, tapi Tuhan menyertai. Tuhan bukan saja menyertai kita, tapi penyertaannya dibuktikan dengan perbuatanNya kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Jika demikian, buat apa khawatir? Untuk apa “panik?”</p>
<p>Suatu hari, saya dan bayi saya melintasi laut yang bergelora. Goncangan kapal dan angin cukup menakutkan saya. Dalam kekhawatiran saya, saya memeluk erat bayi saya, menyanyikan lagu dan menatap matanya. Bayi saya tidak melihat ombak yang bergelora, saya juga tidak. Kami hanya saling menatap, tanpa memperdulikan angin dan badai di sekitar kami. Suami saya memeluk kami, sambil menutupi dari cipratan air laut. Dalam sekejap bayi saya tertidur dengan tenang. Melihat ketenangan bayi saya, saya tertegur: “bukankah seharusnya demikianlah relasi saya dengan Bapa di Surga?” Tidak ada yang perlu saya khawatirkan jika saya menatapNya. Itulah juga yang Allah ajarkan pada Abraham, untuk selalu menatapNya dan percaya akan pemeliharaanNya. Kelaparan ataupun musuh yang akan dihadapi Abraham tidak akan berarti apa2, karena perlindungan serta penyertaan Tuhan cukup untuk memberikan kedamaian di hatinya.</p>
<p>Pada saat ini, anak bayi saya itu sudah berusia 19 tahun. Di dalam kenyamanan hidup yang penuh berkat, anak saya memilih untuk hidup susah. Dia saat ini tinggal dengan kelompok muda-mudi yang melayani anak2 di daerah sangat miskin di suatu kota. Dia tidur di lantai dan makan makanan yang sangat sederhana. Kadang hati saya khawatir, mengingat daerah itu mungkin berbahaya untuk keselamatannya, akan tetapi ayat hari ini menenangkan saya. Allah Abraham adalah Allah anak saya. Dia yang telah memanggil Abraham, juga Allah yang sama yang memanggil anak saya. Dia yang menjanjikan penyertaan dan perlindungan, adalah Allah yang sama telah dan terus akan menyertai dan melindungi anak saya. Jadi, untuk apa khawatir? Untuk apa panik?</p>
<p>Jadi, apakah obat “anti-panik” yang paling mujarab? Tidak ada. Yang ada hanyalah mengingat siapakah Allah kita, yaitu Allah yang esa yang sama dengan Allah Abraham. Mengingat bahwa Allah yang sama itu pulalah yang tidak pernah ingkar pada janjiNya.</p>
<p>Jika anda saat ini sedang khawatir dan panik, tanyakanlah pada dirimu sendiri: Siapakah Allah anakmu? Apakah Allah yang sama dengan Allah Abraham, apakah Allah yang bahkan telah menyerahkan diriNya menebus dosa dan menjanjikan Roh Penghibur yang akan menyertai sampai akhir zaman? Jadi, untuk apa panik? Untuk apa khawatir? Kekhawatiranmu tidak mengubah apa-apa, namun ketenanganmu dan imanmu akan menular kepada banyak orang di sekitarmu dan memberi damai sejahtera serta kekuatan bagi pasangan dan anak-anakmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-panik/">Obat Anti-Panik</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
