<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pasutri Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<atom:link href="https://eunikefamily.org/category/pasutri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eunikefamily.org/category/pasutri/</link>
	<description>Eunike Family</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Apr 2019 04:19:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2023/10/cropped-LOGO-EUNIKE-2023-1-32x32.png</url>
	<title>Pasutri Archives - Eunike Family - Yayasan Eunike</title>
	<link>https://eunikefamily.org/category/pasutri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mahkota Seorang Istri adalah&#8230;. KETUNDUKAN</title>
		<link>https://eunikefamily.org/mahkota-seorang-istri-adalah-ketundukan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Inge Joseph]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Apr 2019 04:18:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[istri tunduk]]></category>
		<category><![CDATA[pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[pasutri kristen]]></category>
		<category><![CDATA[relasi suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[suami mengasihi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.eunikefamily.org/?p=2530</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi saya yang tidak suka berdandan, kecantikan bukanlah kebanggan saya. Percaya atau tidak bahkan saya pernah botak saat duduk di bangku SMA! Kebanggaan (mahkota) saya adalah pribadi dan kemampuan saya! Tetapi kemudian dalam perjalanan hidup saya, Tuhan berbicara dan mengajarkan saya apa yang seharusnya menjadi kebanggaan khususnya saat saya sudah menjadi seorang istri. Efesus 5:22-24 &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mahkota-seorang-istri-adalah-ketundukan/">Mahkota Seorang Istri adalah&#8230;. KETUNDUKAN</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi
saya yang tidak suka berdandan, kecantikan bukanlah kebanggan saya. Percaya
atau tidak bahkan saya pernah botak saat duduk di bangku SMA! Kebanggaan
(mahkota) saya adalah pribadi dan kemampuan saya! Tetapi kemudian dalam
perjalanan hidup saya, Tuhan berbicara dan mengajarkan saya apa yang seharusnya
menjadi kebanggaan khususnya saat saya sudah menjadi seorang istri. </p>



<p><em>Efesus
5:22-24 </em></p>



<p><em>Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti
kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah
kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat
tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala
sesuatu.</em></p>



<p>Ayat ini tentu bukanlah ayat yang asing bagi
kita. Seringkali saat kita menghadiri pemberkatan pernikahan, kita akan
menemukan khotbah pernikahan diambil dari ayat tersebut, bahkan mungkin
pernikahan kita sendiri diisi dengan wejangan tersebut. </p>



<p>Kata tunduk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
berarti (1) menghadapkan wajah ke bawah, condong ke depan dan ke bawah (tentang
kepala); melengkung ke bawah (tentang malai padi);&nbsp;<strong>2</strong>&nbsp;<em>t</em>akluk;
menyerah kalah;<strong> 3</strong>&nbsp;patuh; menurut (tentang perintah, aturan, dan
sebagainya). Sedangkan kata ketundukan berarti perihal (keadaan) tunduk;
ketaatan; kepatuhan.</p>



<p>Sebagai orang Kristen tentu ayat ini juga bukan ayat yang baru bagi saya. Sejak awal pacaran, saya menyadari bahwa hal ketundukan akan menjadi isu bagi hubungan kami. Saya dan (suami) saat ini memiliki karakter yang bertolak belakang. Saya adalah tipe orang ekstrovert, senang bergaul, senang terjun dalam organisasi, banyak dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin bahkan sejak SMA! Saya memiliki ide-ide, inisiatif, spontan dan blak-blak an saat berbicara dan kurang peka ;p . Nah, bisa Anda bayangkan bagaimana tipe suami saya kan? Haha.. walau saya memiliki karakter yang demikian, saya bersyukur bahwa suami saya bukanlah orang yang “lemah” dan “mudah ditekan” haha.. kebayang dong apa jadinya kalau suami saya gak bisa “menguasai” saya. </p>



<p>Kesadaran merupakan anugerah. Dan perjuangan
adalah lebih lebih pertolongan Tuhan. kalau ga ada 2 modal ini: kesadaran dan
perjuangan, tentu ga akan ada niat untuk berubah dan doa tidak akan mengubah
apapun. </p>



<p>Beberapa contoh sederhana dalam relasi kami
mengenai ketundukan adalah jalan di mall. Gimana setiap kali saya yang dengan
inisiatif dan bergerak cepat memimpin ke segala arah! Bagaimana saya mengambil
keputusan-keputusan seperti saat saya masih <em>single
</em>(lajang) dengan tidak berdiskusi dengan suami baik pada saat pacaran maupun
setelah menikah! Bagaimana ketika saya bermaksud menjelaskan sebuah situasi
kemudian dianggap “membantah” dan “ngejawab” yang akhirnya berujung “ya diem
aja deh daripada ribut”. </p>



<p>Pada mulanya saya tidak sadar dan seringkali
merasa “duh masa sih gini aja jadi masalah”. Bersyukur punya suami yang sabar
dan mau berulang-ulang kali menjelaskan dan menjelaskan, ya walaupun terkadang
berakhir dengan ketegangan otot, urat, dan hati. Terkadang saya sampai berpikir
mungkin suami saya pilih salah orang, lebih baik dulu dia memilih wanita yang
tidak dominan, yang <em>enggeh enggeh </em>(iya-iya)
aja dan yang kalem. Saya seringkali merasa “terkurung” dengan apa yang dulu
saya pernah miliki, saya merasa harus “menyerah kalah” seperti arti kata tunduk
dalam KBBI dan saya tidak rela apalagi kalau saya merasa benar. Di sinilah ego
dan kesombongan bermain. Belum lagi ketika saya sebagai istri kemudian menuntut
suami untuk “mengasihi” , “mengerti”, dan “menerima” saya. </p>



<p>Lebih parahnya, ternyata masalah ini juga
berdampak kepada suami saya dimana ia kemudian merasa “tidak dihargai” sebagai
seorang kepala keluarga. Padahal kepercayaan diri seorang laki-laki terletak
dari penghargaan terhadap dirinya. Saya bukannya menjadi penolong tetapi
melemahkan suami saya. </p>



<p>Lima tahun sudah pernikahan kami, mungkin di
tahun kelima inilah baru akhirnya saya benar-benar menyadari apa itu ketundukan
dan bagaimana ketundukan itu seharusnya. Dengan sejumlah konflik, air mata, dan
pergumulan doa, Tuhan perlahan menyadarkan saya dan mengajarkan saya apa itu
tunduk. </p>



<ul class="wp-block-list"><li>Tunduk yang berarti percaya penuh bahwa suami saya tidak
pernah ada maksud jahat sama sekali untuk mencelakakan saya atau menjatuhkan
keluarga kami. </li><li>Tunduk yang berarti saya menyerah bahwa saya adalah penolong,
bukan kepala keluarga! Saya seharusnya menolong kepala keluarga untuk mengambil
keputusan bukan sebagai pembuat keputusan! </li><li>Tunduk yang berarti patuh kepada apa yang ia minta. Tentu
suami saya bukan ditaktor tetapi ia seorang yang lemah lembut dengan segala
masukan dan saran. Hanya saja saya perlu memperbaiki cara berbicara agar tidak <em>bossy</em> melainkan lebih lembut. </li><li>Tunduk yang berarti mau mendengar dan bukannya dengan emosi
menjawab dan membela diri.</li><li>Tunduk yang berarti menyerahkan ego sendiri dan belajar untuk
lebih lembut dalam menerima caranya memimpin. </li></ul>



<p>Apakah pergumulan saya sudah selesai sampai di sini? Tentu belum! Ini adalah awalnya dan saya masih harus menjalani perjalanan panjang belajar tentang ketundukan. Tunduk kepada suami sebagai kepala, tunduk kepada otoritas dunia, dan tunduk kepada Tuhan. </p>



<p>Sharing by: Manti Rivai</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mahkota-seorang-istri-adalah-ketundukan/">Mahkota Seorang Istri adalah&#8230;. KETUNDUKAN</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gadget Community</title>
		<link>https://eunikefamily.org/gadget-community/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2017 08:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget Community]]></category>
		<category><![CDATA[Holy Jealousy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=2036</guid>

					<description><![CDATA[<p>1 Korintus. 10:1-14 Key word: Holy Jealousy Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: idolatry. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-2037" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2017/01/Capture-524x498.jpg" alt="" width="524" height="498"></p>
<p>1 Korintus. 10:1-14</p>
<p>Key word: <strong><em>Holy Jealousy</em></strong></p>
<p>Bener2 yah proses Tuhan menguduskan kita gak kira2&#8230;. kemarin rupanya belum klimaks. kegagalan untuk hidup kudus diperjelas, yaitu: <em>idolatry</em>. Memang sih. Kita udh gak zamannya nyembah meja <span id="more-2036"></span>sembahyang, rasio makin berkembang, orang makin pinter, menebang pohon, kayu, keris, dll udah gak zaman. Tapi heran nya susah sekali kita kehilangan jaringan dengan internet, atau ketinggalan HP/Ipad. Gelisah seharian, uring-uringan.</p>
<p>Itu yang pernah keluarga <strong>Sahabat Kristus (SK) </strong>lakukan: para istri menyembunyikan idol suami di gudang SK sampai hari &#8220;<em>displaying </em>milik suami yang paling berharga&#8221; pada saat hari ayah. Lucu sekali ada yang nitip sangkar burung kesayangan suami, bikin guru-guru SK ketar ketir takut burungnya mati. Suami yang HP-nya diumpetin istri, setelah acara itu mengundurkan diri&#8230;.marah besar.</p>
<p>Eits&#8230;.tunggu dulu! Jangan ketawa, jangan menghakimi. Mau ngalamin yang saya alami kemarin???? Saya bilang sama Tuhan: gak kira-kira kalau Tuhan mau pangkas carang-carang yang tidak berbuah. Bagaimana saya hidup tanpa email? Dengan di hack-nya email baru deh tuh yah. Berasa&#8230;.&#8221;dimana hartamu berada di situ hatimu berada&#8221;&#8230;.kepanikan melanda kalbu, takut bank account diterobos. Setelah cape seharian ngurusin harta kekayaan yang cuma dipercayakan secuil, saya baru sadar: kayanya saya berlebihan deh. Pinter tulis renungan, seperti guru pinter. Bikin soal ulangan. Giliran dirinya sendiri di test&#8230;bener!!! saya masih punya berhala. Tuhan iri&#8230; Tuhan semburu&#8230; Tuhan benci dengan berhala-berhala saya. Apa yang saya pikir bukan berhala&#8230;.&#8221;noh (istilah betawi!!!)&#8221;&#8230;&#8230; rasa&#8217;in kalau dicabut! ketahuan deh aslinya! Teman-teman pemulung kata, saya manusia biasa yang masih punya banyak jerawat dosa. Ngeri sebenernya menghadapi kenyataan proses &#8220;<em>sanctification</em>&#8221; ini, krn mau tidak mau kita harus berani melihat jerawat-jerawat kita sendiri. Segala pemoles wajah saya rontok ketika anak-anak melihat kenyataan mama panik. Sebelum sekolah Timmy pesan: &#8220;jika ada apa-apa&nbsp;<em>call </em>sekolah, panggil Timmy. <em>I can handle</em>&#8221;</p>
<p>Teman-teman&#8230;. mungkin ada saat Tuhan <em>expose </em>jerawat (idol) kita. Siapkah anda menerima kenyataan bahwa &#8220;saya orang berdosa yang sdg diproses dalam api pengudusan Allah?&#8221;</p>
<p><strong>Permainan dengan anak: </strong></p>
<ul>
<li>Masih ingat main &#8220;<strong><em>give it up</em></strong>?&#8221;. Suruh anak pilih salah satu yang &#8220;paling&#8221; dia sayang.</li>
<li>Tanyakan apakah dia siap kalau &#8220;itu&#8221; dititip di rumah orang lain dalam kurun waktu tertentu???</li>
<li>Atau diberikan kepada orang yang lebih perlu. Mama papa ikutan yah..jangan curang!!</li>
</ul>
<p>Penulis: Junianawaty Suhendra</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gadget-community/">Gadget Community</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Obat Anti-Lesu</title>
		<link>https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2015 12:30:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[anti lesu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat anti lesu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1587</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221; Imamat 6:13 Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-1590" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/09/13806772_s.jpg" alt="13806772_s" width="450" height="300" /></a></p>
<p>“Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.&#8221;</p>
<p>Imamat 6:13<span id="more-1587"></span></p>
<p>Apakah anda merasa lesu rohani? Apakah kehidupan rohani di dalam keluarga anda sudah mulai terasa dingin? Apakah anak-anak sudah mulai malas berdoa? Apakah pasangan anda sudah mulai menunjukkan respon-respon yang pedas? Apakah pada tengah malam kadang anda terbangun dan hati anda gelisah?</p>
<p>Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menjaga api mezbah pribadi dan keluarga kita untuk tetap menyala. Dengan kata lain, kehangatan relasi dengan Tuhan membutuhkan komitmen dari setiap individu. Dengan zaman yang serba otomatis, kita tidak bisa mengharapkan keintiman relasi dengan Tuhan dan anggota keluarga juga bisa terjadi secara otomatis.</p>
<p>Sejak awal mula Tuhan menciptakan dunia, Tuhan mengizinkan “tukang tiup” berkeliaran di sekeliling kita. Ketaatan Hawa “ditiup” oleh si iblis, kepemimpinan Adam “ditiup” oleh si jahat dengan menggunakan “ si penolong yang sepadan”; kasih sayang kakak beradik Kain dan Habel “ditiup” dengan menggunakan perasaan iri hati.</p>
<p>Sadarkah kita bahwa disekitar kita si iblis sedang “meniup-niup” api mezbah pribadi dan keluarga kita? Saat ini mungkin dengan cara yang berbeda: kesibukan membersihkan rumah di kala “balada lebaran” melanda rumah tangga yang kehilangan pembantu rumah tangga; kesibukan perjalanan tour bagi yang sedang berlibur; link2 facebook yang lebih menarik untuk dibaca daripada Alkitab; chatting whatsapp dan bb messenger yang menggantikan saat teduh pagi; atau kekhawatiran karena “kasus Yunani” dan ancaman krisis ekonomi?</p>
<p>Bagaimana kita menghidupkan kembali bara api mezbah yang sudah redup dan dingin? Paulus mengingatkan Timotius untuk “mengobarkan” (Fan into flame) karunia Allah. Karunia Allah yang begitu besar adalah Injil itu sendiri. Pengabaran Injil sesungguhnya tidak mengenal “liburan”. Pada zaman dahulu, iklan sebuah minuman soda memiliki slogan “dimana saja kapan saja…” Ini pula yang harus menjadi slogan kita. “Dimana saja dan kapan saja, beritakanlah Firman.” Pada saat percikan api itu kita sampaikan kepada orang lain, maka bara itu mulai menyala lebih besar.</p>
<p>Anda dapat memulai memercikan api itu melalui hal sederhana: bacalah satu ayat dalam Alkitab, renungkan dan katakan pada Tuhan apa yang anda pikirkan setelah membaca ayat tersebut. Kemudian, mulailah “kipasan” awal untuk membuat api itu mulai berkobar. Misalnya, “share” renungan melalui media sosial; menyapa orang yang duduk di sebelah anda di terminal atau airport; membayarkan mobil di belakang anda di jalan tol sambil menitipkan kartu sapaan dari perenungan anda hari ini; menuliskan email dan menceritakan perjalanan iman anda pada sahabat2 anda; mendoakan pembantu atau supir yang mudik; menyanyikan lagu rohani sambil membersihkan rumah; menceritakan kepada anak dan pasangan tentang apa yang anda renungkan hari ini; dan masih banyak seribu cara sederhana untuk memulai “kipasan” pertama untuk menyalakan kembali api mezbah pribadi dan keluarga anda.</p>
<p>“Selamat mengobarkan kembali api mezbah anda hari ini.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/obat-anti-lesu/">Obat Anti-Lesu</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>The Needed Needy</title>
		<link>https://eunikefamily.org/the-needed-needy/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2015 12:30:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[The needed needy]]></category>
		<category><![CDATA[The needy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1522</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mazmur 107 (41) tetapi orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan, dan dibuat-Nya kaum-kaum mereka seperti kawanan domba banyaknya. (42) Orang-orang benar melihatnya, lalu bersukacita, tetapi segala kecurangan tutup mulut. (43) Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN. Kata Kunci: Yang Membutuhkan (the needy) Suatu pertanyaan yang sering ditanyakan &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/the-needed-needy/">The Needed Needy</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/06/Screenshot_10.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-shop_catalog wp-image-1523" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/06/Screenshot_10-524x346.jpg" alt="Screenshot_10" width="524" height="346" /></a></p>
<p>Mazmur 107</p>
<p>(41) tetapi orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan, dan dibuat-Nya kaum-kaum mereka seperti kawanan domba banyaknya.</p>
<p>(42) Orang-orang benar melihatnya, lalu bersukacita, tetapi segala kecurangan tutup mulut.</p>
<p>(43) Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.<span id="more-1522"></span></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><strong>Kata Kunci: Yang Membutuhkan (<em>the needy)</em></strong></p>
<p>Suatu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh anak-anak adalah: “Kalau Tuhan baik, mengapa banyak orang menderita??”</p>
<p>Mazmur hari ini menjawab bahwa karena Tuhan baik, maka Tuhan membiarkan dinamika kehidupan ini ada di dalam hidup kita: derita, pertolongan, tekanan, penghiburan. Jika kita sedang dalam kondisi menderita, Tuhan sedang mengajar kita untuk rendah hati. Ketika kita tidak menderita, Tuhan mengajar kita untuk bijaksana, bersyukur, membuka mata dan menjulurkan tangan untuk menolong.</p>
<p>Sesungguhnya kita membutuhkan orang yang lemah (<em>the needy)</em>, supaya kita tidak pernah lupa bahwa untuk itulah Tuhan menciptakan kita, yaitu untuk merealisasikan pertolongan Tuhan kepada <em>the needy</em>.</p>
<p>Saat ini, saya bersyukur karena anak saya Timmy sudah tiba dengan selamat di Nairobi, Afrika. Seperti penjaga malam, sepanjang malam ini para orangtua sangat <em>alert </em>terhadap <em>sms/fb message. </em>Dalam sekejap, para orangtua yang tidak pernah mengenal satu sama lain, bersatu untuk terus menerus member kabar dan mendoakan. Apa yang kami doakan: keselamatan…tentu itu yang paling utama. Namun, satu hal yang Firman Tuhan ingatkan saya pada hari ini adalah: supaya mata anak-anak kami terbuka melihat mereka yang membutuhkan sebab mereka juga butuh melihat orang lain yang lebih membutuhkan, supaya mereka hidup lebih bijaksana. Mereka adalah anak-anak SMA yang sebentar lagi menginjak masa dewasa. Mereka adalah anak-anak dari orangtua yang menyadari bahwa hidup bukan hanya untuk dinikmati, tapi dibagikan kepada orang yang membutuhkan.</p>
<p>Ketika berita tentang penyanderaan orang-orang Kristen di pusat perbelanjaan Nairobi dan mengakibatkan kematian beberapa wisatawan, para orangtua ini tidak gentar untuk tetap mengutus anak-anak mereka ke tempat tersebut. Sekolah hampir membatalkan perjalanan ini karena berita tersebut, namun pada akhirnya mereka tetap menjalankan. Bukan tanpa rasa takut dan kuatir, kami mengirim anak-anak kami…. Sekalipun mungkin Indonesia juga sama bahayanya, namun ada perasaan berbeda ketika mengutus anak kita sendirian ke tempat yang sama sekali asing, yang kami sendiri belum pernah ke sana. Itulah sebabnya, mau tidak mau doa kami pertama adalah tentang keselamatan anak-anak.</p>
<p>Pagi ini saya mendoakan “mata” anak-anak, supaya mereka lebih peka melihat kebutuhan orang yang membutuhkan. Saya berdoa supaya hati anak-anak muda ini dibentuk untuk mempunyai kerinduan dalam penentuan keputusan di masa kuliah nanti. Tahun lalu, hasil dari perjalanan mereka ke Kenya adalah mengadopsi seorang anak yatim piatu yang lumpuh. Selama setahun, sekolah ini membiayai operasi tulang punggung anak ini, menyekolahkan, dan menjadikan dia bagian dari keluarga. Anak ini sudah kembali ke panti asuhan tersebut, bukan saja dengan kaki yang kuat, tapi juga dengan persaudaraan yang kuat. Saya bisa membayangkan reuni yang indah Antara Kilunda (anak Afrika yang diadopsi selama setahun) dan teman-temannya. Saya berdoa supaya sekali lagi Tuhan membuka mata mereka dan menguatkan hati mereka untuk membuat perbedaan dalam hidup seseorang. Kita tidak bisa menolong semua orang, tapi kita bisa berbuat sesuatu untuk seseorang yang Tuhan percayakan pada kita.</p>
<p><strong><u>Kegiatan bersama anak:</u></strong></p>
<p>Membacakan kisah cerita anak-anak yang membutuhkan (panti asuhan, anak-anak Papua/pedalaman, atau anak-anak dari Negara lainnya yang membutuhkan pelayanan)</p>
<p><strong><u>Kegiatan bersama pasangan: </u></strong></p>
<p>Mendoakan anak-anak supaya Tuhan pakai mereka menjadi saluran berkat, memberikan mereka mata yang jernih untuk melihat kebutuhan orang lain.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Oleh: Junianawaty Suhendra, Ph.D.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/the-needed-needy/">The Needed Needy</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengatur Suhu Emosi dalam Pernikahan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/mengatur-suhu-emosi-dalam-pernikahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2015 04:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana mengatur emosi]]></category>
		<category><![CDATA[mengatur emosi dalam pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masalah utama dalam pengaturan emosi ialah masalah kelebihan dan kekurangan. Maksudnya, kalau bukan mengumbar emosi, kita menyumbat emosi alias tidak cukup dalam hal mengekspresikannya. Hal-hal seperti inilah yang seringkali muncul di dalam pernikahan dan menjadikan suatu pernikahan tidak sehat. Jenis Relasi dari Sudut Emosi Masalah pengaturan emosi bisa dibagi ke dalam tiga jenis dan ketiga &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengatur-suhu-emosi-dalam-pernikahan/">Mengatur Suhu Emosi dalam Pernikahan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/Bul-17-Mengatur-Suhu-Emos.gif"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1226" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/Bul-17-Mengatur-Suhu-Emos-1024x682.gif" alt="Mengatur-Suhu-Emos" width="550" height="366" /></a></p>
<p>Masalah utama dalam pengaturan emosi ialah masalah kelebihan dan kekurangan. Maksudnya, kalau bukan mengumbar emosi, kita menyumbat emosi alias tidak cukup dalam hal mengekspresikannya. Hal-hal seperti inilah yang seringkali muncul di dalam pernikahan dan menjadikan suatu pernikahan tidak sehat.</p>
<p><strong>Jenis Relasi dari Sudut Emosi</strong></p>
<p>Masalah pengaturan emosi bisa dibagi ke dalam tiga jenis dan ketiga jenis ini merefleksikan tipe relasi dan kepribadian suami-istri.<span id="more-1224"></span></p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Tipe pertama adalah Tipe Ketel Mendidih</span></em></p>
<p>Pada tipe ini baik suami maupun istri tergolong vokal dan ekspresif dalam mengungkapkan emosinya. Tipe ini mudah bergejolak dan tidak tahan dengan hati yang panas.</p>
<p>Tipe Ketel Mendidih adalah tipe yang mudah meledak namun gampang melupakan pula. Dengan kata lain, suami-istri yang masuk dalam kategori ini sering bertengkar tetapi pertengkaran mereka biasanya tidak berlangsung lama. Masalahnya, meski tidak berminggu-minggu, setiap minggu mereka bisa bersitegang dan kalau tidak berhati-hati, akan mudah sekali terjadi pemukulan dan penganiayaan.</p>
<p>Orang dengan tipe ketel panas ini tidak bisa hidup dengan hati yang panas. Hati panas harus didinginkan dengan seketika dan caranya adalah dengan mengeluarkan uap panas itu dengan segera. Jadi, letak problemnya bukan pada ketidak-adaan sistem kontrol tetapi pada sistem kontrol itu sendiri. Sistem itu mengendalikan suhu panas dengan cara memuntahkan uap panas ke luar dan ia tidak tahu cara lainnya.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Tipe kedua adalah Tipe Kapuk</span></em></p>
<p>Dinamakan kapuk karena kapuk bukanlah penghantar panas yang baik. Masalah utama dengan suami-istri berkategori kapuk ini adalah mereka kurang mengerluarkan emosi, begitu kurangnya sehingga dapat dikatakan mereka jarang membagi perasaan dengan pasangan. Segala sesuatu yang dianggap dapat mengganggu stabilitas relasi akan diredam dan kalau bisa, disangkali keberadaannya.</p>
<p>Pasangan dengan tipe ini jarang bertengkar namun mereka juga tidak terlalu intim. Keintiman menuntut keterbukaan dan bagi orang dengan tipe ini, keterbukaan bukanlah sesuatu yang terjadi dengan alamiah. Suami-istri Tipe Kapuk memilah hidup mereka dengan seksama dan hanya menyatukan bagian hidup yang relatif ringan dan tidak mengundang risiko terjadinya konflik. Mereka bergantung pada daya lupa dan rasionalisasi untuk menurunkan suhu panas di antara mereka. Bak sabuk kapuk yang menutupi gagang ketel panas, mereka menggunakan daya lupa dan rasionalisasi untuk menyerap suhu panas itu dan memang, setelah beberapa saat, suhu panas itu akan turun.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Tipe ketiga adalah Tipe Kombinasi antara ketel panas dan kapuk</span></em></p>
<p>Disini, yang satu berjenis ketel panas dan yang satunya berjenis kapuk dan keduanya bersatu dalam pernikahan. Sebagaimana tipe lainnya, tipe ini pun memiliki kekuatan dan kelemahannya. Kekuatannnya adalah, mereka bisa saling mengimbangi. Jika yang satu sedang meluapkan suhu panasnya, yang lain dapat menyerap suhu panas itu tanpa perlawanan. Bila yang satu mengunci diri dan menolak untuk menyuarakan ketidaksukaannya, yang lain akan merasa terganggu dengan sikap diam itu dan memaksanya untuk berkata-kata. Dengan cara seperti inilah problem di anatara mereka lebih cepat terselesaikan.</p>
<p>Kelemahannya ialah, jika tidak berhati-hati, yang berjenis kapuk akan mudah merasa tertekan oleh uap panas yang dilontarkan dengan begitu mudahnya. Sebaliknya, yang berjenis ketel panas malah ‘menikmati’ kebebasannya memuntahkan uap panas sebab pasangannya tidak bereaksi dan hanya menerima. Mungkin kita dapat menebak akhir dari relasi seperti ini : mereka akan makin renggang sebab yang menyerap tidak lagi bersedia dekat atau intim dengan pasangannya. Ia terlalu banyak menyimpan luka. Sebaliknya, yang bertipe ketel panas akan makin frustrasi karena merasa diabaikan dan kondisi frustrasi ini membuatnya makin agresif meluapkan kemarahannya. Demikianlah siklus ini berawal dan terus berputar tanpa henti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENYELESAIAN</strong></p>
<p>Apa pun tipe kita, yang penting adalah kita mampu mengatur suhu emosi-menaikkannya bila terlalu dingin dan menurunkannya jika terlalu panas. Emosi merupakan elemen yang menciptakan keintiman. Pengungkapan emosi membukakan lapisan-lapisan pada diri kita dan mengundang pasangan untuk mengenal diri kita secara lebih mendalam. Namun, pengungkapan emosi yang berlebihan bisa menenggelamkan relasi pernikahan dan menghancurkan hati pasangan.</p>
<p>Kita semua merindukan untuk menjadi orang yang dapat mengatur suhu emosi dengan tepat. Kita mendambakan relasi yang intim tanpa harus melelehkan hati orang yang kita kasihi dan menginginkan relasi yang damai tanpa harus membekukan hatinya. Kita ingin menjadi orang yang ‘tepat emosi’ dan ‘tepat kata’ sebagaimana dilukiskan dengan begitu indahnya oleh Firman Tuhan, ‘<strong><em>Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak’ (Amsal 25:11)</em></strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memahami perbedaan.</strong></p>
<p>Kita harus menyadari bahwa masalah pengaturan suhu emosi merupakan masalah yang multidimensional. Penyederhanaan masalah tidak akan memberi solusi, malah menimbulkan kesan penghakiman yang semena-mena. Sekurang-kurangnya ada tiga dimensi yang perlu kita perhatikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertama adalah faktor kepribadian.</strong></p>
<p>Faktor kepribadian ini secara langsung berpengaruh terhadap berapa mudah dan berkobarnya pengekspresian emosi. Ada sebagian kita yang bertemperamen phlegmatik dan biasanya para insan phlegmatik tidak begitu cepat mengeluarkan emosi dan secara keseluruhan memang level emosinya cenderung datar, berbeda dengan insan kolerik, sanguine, dan melankolik yang cenderung lebih terbuka dan seketika.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedua ialah faktor pengalaman masa kecil.</strong></p>
<p>Ada sebagian dari kita yang tidak diijinkan mengutarakan emosi namun situasi rumah yang penuh konflik membuat kita tergenangi oleh kemarahan. Akibatnya kendati tidak diizinkan secara verbal, pertengkaran demi pertengkaran orangtua yang kita saksikan menanamkan benih emosi marah dan menciptakan pola pengendalian emosi yang eksplosif. Kita tidak tahu cara lain untuk mengkomunikasikan emosi selain dengan berteriak atau membanting barang dan dengan tersedianya cadangan emosi negative di hati kita, ledakan kemarahan lebih mudah tersulut. Di sini kita dapat melihat bahwa pengalaman masa lampau berpengaruh besar terhadap pengaturan suhu emosi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketiga ialah faktor lingkungan hidup.</strong></p>
<p>Ada seorang pemuda yang bercerita bahwa kekerasan sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil dan pada akhirnya ia pun terbiasa dengan pola hidup seperti itu. Sebaliknya, ada sebagian kita yang dibesarkan di lingkungan yang santun dan cenderung represif terhadap penyataan emosi. Tidak bisa tidak, lingkungan tenang akan lebih mendorong kita untuk menahan emosi, bukan mencetuskannya.</p>
<p>Ketiga dimensi ini memberi kita sedikit pemahaman terhadap kekompleksan masalah pengaturan suhu emosi. Kita tidak seharusnya dengan cepat melabelkan seseorang ‘kurang rohani’ tatkala ia mempunyai masalah dengan pengaturan emosi.</p>
<p>Masalah pengendalian emosi adalah masalah emosi, bukan masalah kurang mencintai atau kurang peduli dengan keluarga. Acap kali kita mengaitkan masalah emosi dengan hal lain dan ini dapat memperburuk relasi nikah. Mungkin sulit untuk kita percaya bahwa orang yang bisa membanting-banting barang tatkala marah sesungguhnya tetap mengasihi kita dan bahwa cintanya kepada kita tidak berkurang setelah ia marah. Contoh ekstrem ini (yang sudah tentu tidak saya anjurkan) menegaskan bahwa memang masalah pengendalian emosi adalah masalah emosi, bukan masalah cinta atau kurang mempedulikan keluarga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana cara mengatasinya?</strong></p>
<p>Fokuskan masalah. Bila kita bermasalah dengan pengendalian emosi, sering-seringlah meyakinkan pasangan kita bahwa kita tetap mengasihinya. Akuilah bahwa masalah kita yang utama adalah masalah pengendalian emosi dan jangan salahkan orang lain atau situasi luar. Salah satu godaan terbesar bagi kita yang mempunyai masalah dengan emosi adalah menyalahkan, baik itu pasangan atau anak atau faktor luar lainnya, seakan-akan kita hanyalah si pemberi reaksi sedangkan merekalah yang bertanggungjawab sebagai pemicu ledakan emosi kita. Atau sebaliknya, jika kita cenderung diam dan menutup diri, kita menyalahkan pasangan kita sebagai pihak yang bertanggung jawab membuat kita kurang mengekspresikan emosi. Dengan kata lain, fokuskan pada masalah di sini juga berarti memfokuskan pada tanggung jawab pribadi. Inilah langkah awal untuk mengatur emosi. Dengan kita mengalihkan tanggung jawab ke pundak pribadi, secara tidak langsung kita mengalihkan fokus masalah, dari ‘Kamu membuat saya marah!’ menjadi ‘Saya harus menguasai kemarahan saya!’</p>
<p>Bergiliran. Masalah pengendalian emosi sebenarnya adalah masalah munculnya emosi secara tidak teratur. Salah satu cara untuk memperbaikinya adalah dengan memasukkan keteraturan ke dalam pola berkomunikasi kita. Sejak TK, kita belajar untuk hidup teratur: masuk kelas dengan berbaris, berbicara bergantian, bertanya bergiliran, dan seterusnya. Tanpa terasa, iklim keteraturan mulai tercipta dan inilah rahasia mengapa suasana kelas bisa berjalan tanpa banyak gejolak.</p>
<p>Biasanya pertengkaran memburuk tatkala kita mulai berebut berbicara. Laju percakapan bertambah cepat karena kita menganggap pasangan tidak mendengarkan kita lagi atau kita merasa kian terdesak Itulah sebabnya penting bagi kita untuk menerapkan aturan ‘bicara bergantian’ di mana seseorang mempunyai hak untuk berbicara dan kewajiban untuk mendengarkan. Di dalam kerangka keteraturan ini luapan emosi lebih terkendali sebab kita tidak merasa diburu-buru untuk menyampaikan isi hati kita. Keteraturan juga berfaedah bagi sebagian kita yang mengalami kesulitan mengekspresikan emosi. Kita ‘dipaksa’ untuk menguraikan pendapat dan perasaan hati karena giliran kita telah tiba. Singkatnya, keteraturan membantu kita untuk mengatur emosi dan menyalurkannya dengan lebih bijak. Ternyata pelajaran TK ini sangat berfaedah sampai usia dewasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dalam praktek konseling, saya menjumpai ternyata penyebab kehancuran rumah tangga  yang paling umum adalah masalah pengaturan emosi. Emosi kitalah yang menghancurkan relasi pernikahan jauh sebelum problem lain mengemuka, baik itu ekspresi emosi yang berlebihan atau berkekurangan. Kesimpulan akhirnya adalah, jika kita ingin menyelamatkan pernikahan kita jauh sebelum masalah berat lainnya datang, mulailah dengan mengatur suhu emosi kita sekarang.</p>
<p>“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Pdt. Paul Gunadi, PhD.</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/mengatur-suhu-emosi-dalam-pernikahan/">Mengatur Suhu Emosi dalam Pernikahan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gaya hidup – Batas-batas perubahan</title>
		<link>https://eunikefamily.org/gaya-hidup-batas-batas-perubahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 17:33:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.eunikefamily.org/?p=1206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari jaman ke jaman, gaya hidup masyarakat terus berubah. Semakin hari, perubahan semakin cepat. Tanpa disadari, perubahan2 gaya hidup memberikan pengaruh terhadap komunikasi, konflik dan keutuhan keluarga. Jecelita (14 tahun) memberikan kejutan kepada kedua orangtuanya ketika ia pamit  untuk pergi ke ulang tahun temannya. Jecelita memakai pakaian yang sangat pendek dengan bagian dada yang cukup &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gaya-hidup-batas-batas-perubahan/">Gaya hidup – Batas-batas perubahan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/gaya-hidup.gif"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-1212" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2015/01/gaya-hidup-1024x734.gif" alt="gaya-hidup" width="500" height="358" /></a></p>
<p>Dari jaman ke jaman, gaya hidup masyarakat terus berubah. Semakin hari, perubahan semakin cepat. Tanpa disadari, perubahan2 gaya hidup memberikan pengaruh terhadap komunikasi, konflik dan keutuhan keluarga.</p>
<p>Jecelita (14 tahun) memberikan kejutan kepada kedua orangtuanya ketika ia pamit  untuk pergi ke ulang tahun temannya. Jecelita memakai pakaian yang sangat pendek dengan bagian dada yang cukup rendah. <span id="more-1206"></span>Walaupun Jecelita masih 14 tahun dan tubuhnya belum terlalu terbentuk, kedua orangtuanya sangat khawatir. Ibunya dengan lembut mencoba membujuknya untuk mengganti pakaian, tapi Jecelita menyambut dengan respon yang sangat tak terduga. Gertakan Jecelita membuat ayahnya naik pitam, maka dimulailah adu mulut di antara mereka. Peristiwa ini ternyata terus berlangsung sampai Jecelita menanjak dewasa. Relasi mereka menjadi retak dipicu oleh ‘rok pendek’.</p>
<p>Masalah-masalah besar dalam keluarga seringkali dimulai dengan perubahan-perubahan kecil: menentukan makan apa dan dimana; desain rumah seperti apa; mau beli mobil apa; pakai baju yang mana. Memang akhirnya UUD: Ujung-ujungnya duit, karena Gaya hidup berkaitan erat dengan masalah “berapa banyak uang harus dikeluarkan untuk penyesuaian gaya hidup” .</p>
<p>Pertanyaannya: “sampai sejauh mana kita harus mengikuti perubahan-perubahan itu?”. Kapankah kita mengatakan ”cukup”?  Cukupkah dengan handphone yang saat ini?  Perlukah saya ganti dengan iPhone terbaru? Cukupkah dengan model rambut seperti ini? Perlukah saya ganti dengan model sekarang? Cukupkah dengan sekolah anak yang sekarang ini, perlukah dia dipindahkan ke sekolah yang sedang ’trend’?  Perlukah &#8230;cukupkah&#8230; itu adalah pertanyaan umum dalam mengikuti perubahan-perubahan gaya hidup.</p>
<p>Jawabannya sebenarnya sederhana: ”Standard nilai apa yang Anda pegang saat ini”.  Prinsip hidup, standard hidup akan menentukan cepat lambatnya kita bergerak dalam dinamika perubahan gaya hidup. Jika pengakuan sosial lebih penting dari stabilitas ekonomi keluarga, maka tidak heran banyak orang berani berhutang (dengan memakai kartu kredit) demi membeli kemeja bermerek yang harganya sama dengan uang sekolah 6 bulan dari anaknya. Jika <em>prestige</em> lebih penting nilainya dari hal rohani, tidak heran jika kita memutuskan untuk ”berhutang perpuluhan” demi merayakan ulangtahun anak 1 tahun di tempat mewah.</p>
<p>Apakah yang penting bagi Anda? Apakah yang Anda korbankan untuk sebuah ’gaya hidup’?</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/gaya-hidup-batas-batas-perubahan/">Gaya hidup – Batas-batas perubahan</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Self Esteem</title>
		<link>https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayasan Eunike]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2015 08:30:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[self esteem]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://keluargabijak.com/?p=29</guid>

					<description><![CDATA[<p>”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:” Mazmur 8:5-7. Hari demi hari hubungan antara manusia semakin hubungan ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Istri menghargai suami &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/">Refleksi Self Esteem</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="color: #000000;"><a href="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/self-esteem.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-831 size-shop_catalog alignnone" src="https://eunikefamily.org/wp-content/uploads/2014/10/self-esteem-524x330.jpg" alt="Self esteem" width="524" height="330" /></a></p>
<p style="color: #000000;">”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:” Mazmur 8:5-7.<span id="more-29"></span></p>
<p style="color: #000000;">Hari demi hari hubungan antara manusia semakin hubungan ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Istri menghargai suami jikalau suami menjalankan fungsinya sebagai suami yang memberikan nafkah, melindungi anak-anak dan dirinya sendiri. Suami menghargai istri jika istri berfungsi menata rumah tangga dengan baik, mengasuh anak-anak dan memuaskan kebutuhan seksualnya.</p>
<p style="color: #000000;">Pembicaraan di dalam keluargapun lebih ke arah ‘fungsional’ daripada ‘relasional’. Kita lebih banyak mendengar dan mengucapkan kalimat: “Sudah selesai, belum?”, “sudah dikerjakan?”, “sudah dibetulkan belum?”, “kenapa ini masih berantakan?”, “kapan genteng dibetulkan?”, “kapan kamu bisa memuaskan saya?”, dll.  Sedangkan kalimat berikut jarang di dengar: “aku bersyukur karena Tuhan memberikan kamu untuk saya”, “senangnya melihat kamu lagi hari ini”, “aku senang sekali kita bisa ngobrol-ngobrol seperti ini”, “apa yang membuat kamu nampak khawatir hari ini?”, dll.</p>
<p style="color: #000000;">Peralihan penghargaan manusia dari “relasional” kepada “fungsional” membuat kita lupa “APAKAH MANUSIA?”</p>
<p style="color: #000000;">Kita semua tanpa kecuali, adalah manusia yang tidak ada harganya di mata Allah. Alkitab mengatakan kita seperti debu, seperti bunga rumput. Tapi, Alkitab juga mengatakan bahwa manusia seperti itu dihargai oleh Allah dengan diberikan identitas yang melebihi dari kondisinya: “membuatnya hamper sama seperti Allah”. Allah “mengindahkan”. Perhatian Allah kepada manusia bersifat personal dan mendasar. Allah memberikan perhatian/mengindahkan sampai memberikan AnakNya yang Tunggal untuk mati dan menyelamatkan kita; Allah memberikan mahkota yang tidak layak kita terima; Allah memberikan kuasa yang sebenarnya dengan kuasa itu pula manusia berpotensi untuk berbalik melawan Allah.</p>
<p style="color: #000000;">Dapatkan perlakuan Allah kepada manusia menjadi dasar kita memperlakukan anak, istri/suami kita??? Sebodoh apapun anak kita, senakal apapun perilakunya, secuek apapun suami kita, secerewet apapun istri kita, …. Mereka adalah Manusia. Mereka diperlakukan sangat istimewa oleh Allah……… akankah kita memperlakukan mereka dengan hina???</p>
<p style="color: #000000;">Salah seorang saudara sepupu saya memiliki anak “Down Syndrome”. Pada saat kumpul keluarga, anak itu selalu terlihat berbeda dari yang lain. Dengan usianya yang sudah cukup dewasa dia masih bertingkah sebagai anak-anak. Akan tetapi keluarganya selalu memperlakukan dia sama seperti yang lain. Dia diberikan pendidikan yang layak dan pantas. Setelah selesai training di sekolah khusus, dia diberikan tugas sebagaimana anak-anak yang lain dalam keluarga itu. Dan yang mengharukan saya adalah: ibunya dapat menemukan kelebihan anak ini. Ia berkata: “Dari semua anak-anak saya, dia adalah anak yang mempunyai hati penyayang dan bertanggung jawab”. Pada saat lebaran, dialah yang membantu membersihkan lantai, dan dialah anak yang selalu siap menyambut siapa saja yang baru pulang. Jika ada satu anggota yang belum pulang, dialah satu-satunya yang tahan menunggu di depan pintu, sampai semua ada di rumah.</p>
<p style="color: #000000;">Tidak seorangpun tidak berharga di mata Allah, hanya manusia yang membuat manusia lain seperti sampah. Dan itu adalah sikap  kekejian yang kejam.</p>
<p style="color: #000000;">Apakah manusia sehingga dapat menghina manusia lain yang sudah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat oleh Allah?</p>
<p style="color: #000000;">Pandanglah baik-baik dan dalam-dalam setiap anggota dalam keluarga anda. Renungkanlah apakah mereka sudah mendapatkan perlakuan, penghargaan dan pujian yang selayaknya mereka peroleh? Ataukah sebaliknya?</p>
<p>The post <a href="https://eunikefamily.org/refleksi-self-esteem/">Refleksi Self Esteem</a> appeared first on <a href="https://eunikefamily.org">Eunike Family - Yayasan Eunike</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
